Marc Marquez: Pebalap Muda Indonesia Punya Kans Tampil di MotoGP

oleh Muhammad Wirawan Kusuma diperbarui 25 Okt 2016, 11:58 WIB
Marc Marquez berfoto bersama 16 pebalap muda Indonesia yang masuk dalam Astra Honda Racing School (HRS) di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/10/2016). (Bola.com/Muhammad Wirawan Kusuma)

Bola.com, Jakarta - Sebanyak 16 pebalap muda Indonesia yang masuk dalam Astra Honda Racing School (HRS) mendapatkan pengalaman berharga. Mereka mendapatkan pelatihan langsung dari juara dunia MotoGP 2016, Marc Marquez

Pada coaching clinic di Sirkuit Sentul, Selasa (25/10/2016), Marquez memberikan penjelasan soal gaya membalap yang baik. Dia mempraktikkan cara duduk yang baik di motor saat trek lurus dan tikungan.

Advertisement

Pebalap berusia 23 tahun itu memang berbagi ilmu hanya selama beberapa menit . Meski demikian, para siswa tampak sangat antusias memperhatikan materi yang disampaikan sang juara dunia.

Selain memberikan coaching clinic, Marquez juga turun ke lintasan bersama para siswa HRS. Mereka menerapkan apa yang didapat saat coaching clinic.

"Saya senang dengan sirkuitnya, senang dengan atmosfernya, dan cuaca panas membuat saya ingin terus memacu gas. Tentunya mereka sudah mengerti racing line dengan baik," kata Marquez.

"Saya berharap mereka suatu saat nanti bisa turun di ajang MotoGP. Tentu saja, mereka punya peluang, kenapa tidak," tambahnya.

Mario, pebalap muda asal Magetan, mengaku senang bisa satu lintasan dengan Marquez. Dia tak menyangka bisa mendapat arahan dari pemegang tiga gelar juara dunia MotoGP tersebut.

"Senang tidak menyangka satu lintasan dengan Marc Marquez. Saya jadi lebih paham soal riding style dan racing line," ujar Mario yang kini berusia 12 tahun.

Executive Vice President Director AHM, Johannes Loman, menyebut pelatihan dari Marc Marquez merupakan pengalaman berharga buat para siswa HRS. "Kami berharap para siswa bisa mewujudkan mimpi menjadi pebalap MotoGP, melalui pembinaan berjejang menuju ajang Motogp. Coaching clinic ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan buat siswa HRS," tutur Johannes Loman.