Kemenpora: Malaysia Mengungguli Indonesia Soal Pembinaan Sepak Bola Berjenjang

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 16 Des 2020, 16:45 WIB
Anak-anak terpilih bertanding pada MILO Football Championship 2019 di Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (27/4/2019). Sebanyak 16 pemain terbaik dibagi menjadi dua tim yaitu Tim Kurniawan dan Tim Ponaryo yang akan dinilai mewakili Indonesia di MILO Champions Cup di Barcelona. (Liputan6.com/HO/Rizky)

Bola.com, Jakarta - Kabar buruk datang untuk pembinaan sepak bola berjenjang Indonesia. Deputi Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Raden Isnanta, mengakui Indonesia tertinggal dari negara tetangga, Malaysia.

Raden Isnanta mengatakan Malaysia sudah melakukan proses pembinaan sepak bola berjenjang yang terukur. Malaysia disebut mulai melakukan pembinaan sepak bola muda pada usia 13 hingga 18 tahun.

Advertisement

Adapun Indonesia melalui Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) memulai pembinaan pada usia 16-18 tahun. Hal inilah yang membuat Kemenpora ingin mengembangkan kembali pembinaan pesepak bola pada usia muda.

"Kami ingin mengembangkan diklat-diklat di 34 provinsi. Yang sudah ada baru diklat untuk usia SMA dan ini memperlihatkan bahwa yang namanya berjenjang belum jalan," kata Raden Isnanta dalam webinar di Jakarta.

"Harusnya minimal usia 13 tahun. Malaysia sudah menyontek kita saat punya PPLP Ragunan. Sekarang mereka punya PPLP usia 13, 14, 15, 16, 17, dan 18 tahun," tegas Raden Isnanta.

Berbeda dengan Indonesia, Malaysia disebut sudah siap berkompetisi di semua umur. Hal itu terjadi karena federasi Malaysia sudah memiliki turnamen di semua tingkatan usia yang berjalan secara teratur.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 2 halaman

Mengembangkan Diklat

Sejumlah pesepak bola muda mengikuti Allianz Explorer Camp Football Edition Asia 2019 di The Arena Singapura, Jumat (26/7). Allianz Indonesia mengirimkan enam pesepak bola muda berbakat, dua di antaranya adalah perempuan. (Dokumentasi Allianz)

Kemenpora bertekad untuk mengembangkan diklat-diklat sepak bola di semua provinsi yang ada di Indonesia. Hal itu dilakukan agar lebih banyak peluang untuk menyaring pemain berbakat sehingga tidak hanya terpusat di PPLP Ragunan.

Raden Isnanta menyebut hal itu yang lebih realistis. Mengingat tak semua klub Liga 1 di Indonesia yang memiliki akademi sepak bola berjenjang.

"Witan itu dari Palu, kemudian Coach Rahmad Darmawan dari Lampung. Kemudian Putu Gede dari Bali, Aples dari Papua, kemudian dari Jawa Tengah ada Kurniawan Dwi Yulianto, dan Egy dari Medan. Indonesia itu unggul semua kalau sepak bola," tegas Raden Isnanta.

Berita Terkait