5 Penyakit dari Zaman Kuno yang Masih Jadi Ancaman Kesehatan Dunia

Beberapa penyakit yang muncul sejak zaman kuno, seperti malaria dan TBC, masih memiliki relevansi hingga saat ini.

BolaCom | Aning JatiDiperbarui 13 September 2025, 19:21 WIB
Seorang arkeolog memegang lampu senter di dinding yang ditutupi ukiran hieroglif di makam Beti, salah satu dari lima makam Firaun kuno di situs arkeologi Saqqara, Kairo, Mesir (19/3/2022). Menurut Waziri, lima makam yang semuanya dalam kondisi baik itu milik petinggi kerajaan. (AFP/Khaled Desouki)

Bola.com, Jakarta - Sejarah panjang manusia tidak hanya meninggalkan peninggalan peradaban, tetapi juga jejak penyakit yang bertahan hingga kini.

Patogen yang pernah menghantui manusia ribuan tahun lalu, dari malaria hingga kusta, ternyata masih menjadi masalah kesehatan global.

Advertisement

Bukti keberadaan penyakit kuno itu terungkap melalui kerangka berusia ribuan tahun, mumi Mesir, hingga catatan medis klasik.

Tuberkulosis, misalnya, ditemukan pada kerangka berusia 9.000 tahun di Atlit Yam, Israel, sementara malaria diyakini sudah ada sejak 60.000 tahun lalu, seiring migrasi manusia dari Afrika.

Berikut ini ulasan lima penyakit kuno yang bertahan hingga era modern: malaria, tuberkulosis, rabies, kusta, dan trakoma.

Lima penyakit yang telah menghantui manusia sejak zaman kuno ini menunjukkan bahwa perjalanan medis masa lalu tetap relevan hingga kini.


Malaria, dari Ramuan Kuno ke Vaksin Modern

Nyamuk anopheles betina menghisap darah orang yang terkena malaria lalu meneruskan kepada yang lain (pixabay.com/nuzree)

Malaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina masih merenggut lebih dari 620 ribu jiwa tiap tahun, sebagian besar anak-anak di daerah tropis.

Penyakit ini sudah dicatat sejak peradaban Romawi dan Cina kuno.

Teks medis Cina tahun 270 SM menyebut gejalanya sebagai demam tertian (tiga hari sekali) dan quartan (empat hari sekali), bahkan dikaitkan dengan campur tangan "tiga iblis".

Pada abad ke-4, tabib Ge Hong menuliskan resep pengobatan dengan tanaman apsintus manis. Resep inilah yang ribuan tahun kemudian menginspirasi ilmuwan Tu Youyou menemukan artemisinin, obat antimalaria yang membawanya meraih Nobel pada 2015.

Kini, WHO merekomendasikan terapi kombinasi artemisinin (ACT) dan dunia telah meluncurkan vaksin malaria pertama pada 2021, menjadi tonggak penting dalam perang melawan penyakit ini.


Tuberkulosis, Jejak Firaun hingga Sanatorium

Ilustrasi Tuberkulosis. (Foto: mdjaff from Freepik)

Tuberkulosis (TBC), yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis, masih menginfeksi 10 juta orang dan merenggut 1,5 juta nyawa tiap tahun.

Bukti kuno penyakit ini terlihat pada mumi Mesir, termasuk Ramses V, serta catatan Hippocrates pada abad ke-5 SM yang menyebutnya sebagai "phthisis".

Hippocrates menilai penyakit ini mematikan, khususnya pada usia muda, dan bahkan menyarankan muridnya untuk tidak menangani kasus berat agar reputasi mereka tidak hancur.

Galen, dokter Romawi, menyarankan udara segar dan perjalanan laut sebagai terapi, praktik yang mirip dengan sanatorium abad ke-19.

Kendati vaksin BCG telah ada sejak 1921, TBC resisten obat masih menjadi ancaman serius di dunia modern.


Rabies, Kutukan Anjing Gila

Dokter hewan melakukan sterilisasi kucing peliharaan di Radhiyan Pet and Care, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (20/6/2022). Dinas KPKP DKI Jakarta dan klinik hewan dan komunitas pecinta kucing menggelar pemeriksaan hewan peliharaan seperti vaksin rabies dan sterilisasi secara gratis menyambut HUT ke-495 Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Rabies, penyakit mematikan akibat gigitan hewan terinfeksi, sudah dikenal sejak 2300 SM. Tablet tanah liat dari Mesopotamia menggambarkan keputusasaan para tabib menghadapi korban gigitan anjing gila.

Uniknya, catatan Akkadia sudah menyebut air liur anjing sebagai "racun" yang menular, tepat menggambarkan media penularan virus rabies.

Hukum Eshnunna bahkan menghukum pemilik anjing yang membiarkan hewannya menggigit orang hingga meninggal.

Kendati mematikan setelah gejala muncul, vaksin rabies yang dikembangkan Louis Pasteur pada abad ke-19 terbukti efektif mencegah kematian bila diberikan segera setelah paparan.


Kusta, antara Stigma dan Terapi

Pasien kusta sedang merendam tangan dengan air hangat. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Kusta, atau penyakit Hansen, disebabkan Mycobacterium leprae yang tumbuh lambat. Penyakit ini menyerang kulit, saraf, hingga mata, dan bila terlambat ditangani dapat menimbulkan cacat permanen.

Jejak kusta ditemukan pada kerangka berusia 4.000 tahun di India, serta catatan medis kuno dari Mesir dan India.

Dalam teks Sushruta Samhita (600 SM), kusta digambarkan sebagai "maha kushtha" dengan bercak kulit, mati rasa, dan kerusakan anggota tubuh.

Sejak lama kusta kerap distigma sebagai "hukuman karma", membuat penderita terpinggirkan.

Baru sejak 1980-an, terapi multidrug (MDT) selama satu tahun menjadi pengobatan efektif. Namun, stigma masih menjadi tantangan hingga kini.


Trakoma, Penyakit Mata dari Mesir Kuno

Ilustrasi Trakoma. (Photo by Kamran Aydinov on Freepik)

Trakoma, infeksi mata akibat bakteri Chlamydia trachomatis, merupakan penyebab utama kebutaan infeksius di dunia. Bukti penyakit ini ditemukan pada kerangka Aborigin berusia 8.000 tahun dan catatan medis Mesir sekitar 1600 SM.

Papirus kuno merekomendasikan pencabutan bulu mata yang tumbuh ke dalam dan penggunaan salep berbahan minyak, resin, hingga madu untuk mengatasi gejalanya.

Kini, trakoma masih menjadi masalah kesehatan di 44 negara, terutama wilayah tropis dengan sanitasi buruk.