China Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Ungkap Asal Mula Kehidupan di Bumi

China pakai AI buat tahu asal mula makhluk hidup.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 Oktober 2025, 22:40 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan, AI. Credit: sdecoret/depositphotos.com

Bola.com, Jakarta - Kelelawar dan paus bergigi dikenal sebagai dua spesies yang jauh berbeda dalam pohon evolusi, tetapi keduanya memiliki kesamaan menakjubkan: kemampuan melakukan ekolokasi untuk mengenali lingkungan sekitarnya.

Fenomena kesamaan fungsi pada spesies berbeda ini menjadi sorotan tim ilmuwan di China yang kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menelusuri asal-usul dan pola evolusi makhluk hidup.

Advertisement

Peneliti dari Institut Zoologi, Akademi Ilmu Pengetahuan China, baru-baru ini mengungkap mekanisme penting yang menjelaskan bagaimana organisme yang berbeda dapat mengembangkan kemampuan serupa dalam proses adaptasi terhadap lingkungan.

Temuan tersebut dicapai dengan bantuan model bahasa protein berbasis AI.

Fenomena ini disebut evolusi konvergen, yaitu munculnya sifat-sifat serupa secara independen pada dua atau lebih garis keturunan spesies selama perjalanan evolusi. Biasanya, hal ini menjadi tanda bahwa spesies-spesies tersebut beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sama.


Kembangkan ACEP

Ilustrasi kelelawar. (Pic by Unsplash)

Mengutip laporan Antara News, Jumat (10-10-2025), tim yang dipimpin oleh Zou Zhengting menemukan bahwa fitur protein tingkat tinggi berperan besar dalam proses konvergensi adaptif.

Untuk meneliti hal itu, mereka mengembangkan kerangka analisis komputasional bernama ACEP, yang memiliki keunggulan dalam penggunaan model bahasa protein yang sudah dilatih sebelumnya.

"Model bahasa protein dapat memahami karakteristik struktural dan fungsional yang lebih dalam, serta mengenali pola di balik sekuens asam amino," jelas Zou.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Menurut Zou, penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap hukum evolusi kehidupan, tetapi juga memperlihatkan potensi besar AI dalam memecahkan persoalan biologis yang rumit.

"Kami berharap teknologi AI dapat diterapkan lebih luas dan efektif dalam studi biologi evolusi di masa depan," tambahnya.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait