Apa Jadinya MotoGP 2025 jika Tanpa Marc Marquez?

Apa jadinya MotoGP 2025 jika tanpa Marc Marquez?

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 03 Desember 2025, 15:30 WIB
Catatan waktu Marc Marquez patah di dua menit terakhir. Luca Marini menjadi pebalap tercepat di sesi ini dengan catatan waktu 1 menit 30,809 detik. Tampak dalam foto, pembalap MotoGP Spanyol dari Tim Ducati Lenovo, Marc Marquez memacu motornya di sesi latihan bebas jelang MotoGP Grand Prix Indonesia di Sirkuit Internasional Mandalika, Nusa Tenggara Barat, pada 3 Oktober 2025. (SONNY TUMBELAKA/AFP)

Bola.com, Jakarta Marc Marquez tampil begitu dominan pada MotoGP 2025 hingga mengunci gelar juara dunia ketujuhnya dengan lima seri tersisa. Tetapi sebuah simulasi menarik mencoba membayangkan bagaimana hasil musim tersebut jika sang juara tidak pernah turun ke lintasan.

Analisis ini memberi gambaran baru tentang kekuatan Ducati, performa para rival, serta seberapa besar dampak keberadaan Marquez terhadap jalannya kejuaraan.

Advertisement

Marquez tetap mengakhiri musim dengan keunggulan 78 poin meski absen di empat putaran terakhir akibat kecelakaan dengan Marco Bezzecchi di GP Indonesia.

Setelah perjalanan panjang memulihkan cedera lengan serius yang dideritanya sejak 2020, ia akhirnya kembali ke puncak performa, bahkan melampauinya bersama Ducati.

Musim 2025 menjadi salah satu yang terbaik dalam kariernya, dibuktikan lewat 11 kemenangan grand prix, 14 kemenangan sprint, dan tujuh akhir pekan sempurna beruntun dari Aragon hingga Hungaria. Meski tidak tampil di empat seri terakhir, dominasinya tetap tak terbantahkan.


Menutupi Kelemahan Ducati

Marc Marquez pastikan titel juara dunia MotoGP 2025 di Sirkuit Motegi. (Toshifumi KITAMURA / AFP)

Kehadiran Marquez sepanjang musim juga menutupi kelemahan Ducati. Motor GP25 yang baru tidak tampil stabil, tetapi kemampuan Marquez menjinakkan motor tersebut membuat performa tim seolah baik-baik saja.

Ketika semua hasil Marquez dihapus dalam simulasi, barulah terlihat bahwa Ducati sebenarnya jauh dari kata sempurna pada musim tersebut.

Dalam skenario tanpa Marquez, Ducati tetap keluar sebagai juara dunia, tetapi lewat Alex Marquez. Dengan motor GP24 yang terbukti lebih stabil, Alex tampil konsisten terutama pada paruh awal musim.

Ia akan meraih delapan kemenangan grand prix, naik dari tiga kemenangan aslinya dan mengumpulkan total 344 poin dari balapan utama, hanya terpaut 11 poin dari torehan Marc pada hasil asli grand prix saja.

Pada sprint, performanya bahkan lebih impresif dengan 13 kemenangan. Total gabungan sprint dan grand prix membuat Alex mengakhiri musim dengan 535 poin, cukup untuk mengamankan gelar juara dunia dalam simulasi.


Tetap Juara

Marc Marquez sukses merebut pole position MotoGP Jerman 2025. Tampak dalam foto, pembalap MotoGP asal Spanyol dari Ducati Lenovo Team, Marc Marquez saat sesi latihan Grand Prix motor MotoGP Jerman di di Sirkuit Sachsenring, Hohenstein-Ernstthal, Chemnitz, Jerman, 12 Juli 2025. (Ronny Hartmann/AFP)

Dalam simulasi tanpa Marquez, di mana seluruh hasil lomba dihapus dan pembalap lain naik posisi, Ducati ternyata tetap keluar sebagai juara dunia lewat Alex Marquez. Sang adik tampil sangat konsisten pada paruh awal musim. Dengan motor GP24 yang terbukti stabil dan cepat, Alex akan meraih delapan kemenangan grand prix (naik dari tiga kemenangan aslinya).

Total poin balapannya meningkat menjadi 344, hanya 11 poin di bawah torehan Marc di balapan utama saja. Di sprint, Alex bahkan lebih garang dengan 13 kemenangan. Total poin sprint nya naik dari 158 menjadi 191, dan ia menutup musim dengan 535 poin, cukup untuk mengamankan gelar juara dunia.

Marco Bezzecchi menempati posisi runner up untuk Aprilia dengan penampilan konsisten sejak GP Inggris. Tanpa Marquez, Bezzecchi diprediksi mengumpulkan 401 poin lewat enam kemenangan grand prix dan empat kemenangan sprint.

Pedro Acosta yang tampil brilian sebagai rookie berada di posisi ketiga dengan 351 poin. Ia bahkan akan mencatat kemenangan pertamanya, yakni sprint di Brno dan grand prix di Hungaria.   


Siapa yang Diuntungkan?

Absennya Marquez tidak terlalu membantu Bagnaia, yang tetap gagal menembus tiga besar karena inkonsistensi. Meski menambah satu kemenangan grand prix, ia masih tertahan dengan 336 poin.

Simulasi juga menunjukkan beberapa hasil menarik, Fabio Di Giannantonio menang sprint di Hungaria, Fabio Quartararo menang sprint di Barcelona dan Fermin Aldeguer meraih kemenangan perdana di Austria, bukan Indonesia.

Yang paling menarik, total kemenangan Ducati justru lebih banyak berasal dari motor lama GP24 (10 kemenangan) dibanding GP25 (hanya tiga). Fakta ini memperkuat argumen bahwa Ducati perlu mengevaluasi konsep GP25 menjelang GP26.   

Sumber: Crash

Penulis: Roby Dian

Berita Terkait