4 Jenis Makanan Sehat yang Diprediksi Populer di 2026

Berikut ini jenis-jenis makanan sehat yang diprediksi menjadi tren pada 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Januari 2026, 10:20 WIB
Ilustrasi makanan sehat. (Foto dok: Freepik/jcom).

Bola.com, Jakarta - Tren makanan sehat terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup bergizi.

Setelah tahun 2025 fokus pada protein hewani dan plant-based food, pakar gizi memprediksi beberapa jenis makanan akan mendominasi perhatian di 2026.

Advertisement

Dietisien, Frances Largeman-Roth, membagikan prediksi mengenai jenis makanan sehat yang diperkirakan akan menjadi favorit tahun 2026.

Perubahan pola makan tidak hanya soal menjaga berat badan, tetapi juga berfokus pada kesehatan jangka panjang, dari kesehatan kulit hingga fungsi otak.

Konsumen kini makin selektif dalam memilih makanan yang tidak hanya enak, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi tubuh.

Selain itu, inovasi produk makanan sehat terus muncul, baik dari bahan alami maupun suplemen yang dapat dikombinasikan dalam pola makan sehari-hari.

Tren ini menandakan bahwa masyarakat makin peduli terhadap nutrisi yang mendukung kualitas hidup, bukan sekadar memenuhi rasa lapar.

Masyarakat juga dapat mulai menyesuaikan pola makan untuk menggabungkan manfaat kecantikan kulit, kesehatan usus, kenikmatan kuliner, dan energi tubuh secara alami.

Nah, berikut ini jenis-jenis makanan sehat yang diprediksi populer pada 2026.


1. Makanan Pendukung Kecantikan Kulit

Ilustrasi sayuran brokoli. Credit: unsplash.com/Louis

Dalam ajang Food and Nutrition Conference 2025, banyak produk baru diperkenalkan dengan janji manfaat bagi kesehatan kulit.

Frances memprediksi makanan yang dapat menunjang kecantikan kulit bakal menjadi tren utama di 2026, termasuk jenis makanan yang kaya kolagen, seperti dikutip dari Real Simple.

Kolagen, protein yang terdapat di kulit, tendon, ligamen, otot, dan tulang, berkurang secara alami seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 30 tahun.

Untuk menjaga kadar kolagen, konsumsi kaldu tulang, ayam, ikan, serta sayuran seperti brokoli menjadi pilihan tepat.

Alternatif lain, camilan sederhana berupa semangkuk sereal gandum utuh dengan topping kefir kaya kolagen dan anggur segar juga dinilai bermanfaat.


2. Makanan Tinggi Serat

Ilustrasi buah alpukat. (Sumber: Freepik/DC Studio).

Selama beberapa tahun terakhir, perhatian nutrisi lebih banyak tertuju pada protein. Namun, tahun 2026 diprediksi tren akan bergeser ke makanan tinggi serat.

"Protein telah mendominasi perhatian nutrisi selama beberapa tahun terakhir, tetapi tahun ini kami melihat masyarakat mulai memasukkan serat sebagai nutrisi yang sangat penting. Pergeseran menuju kesehatan usus dan dukungan metabolisme membuka pintu bagi produk-produk yang kaya serat," ujar Colin Sapire, CEO dan pendiri Beast Health.


3. Butter Berkualitas Tinggi

Photo by Sorin Gheorghita on Unsplash. (Photo by Sorin Gheorghita on Unsplash)

Mentega atau butter, produk olahan susu yang dihasilkan dari pemisahan lemak susu, diperkirakan akan kembali diminati. Selain sebagai olesan atau bahan memasak, butter menjadi bagian dari tren kuliner yang memadukan nostalgia dan masakan rumah.

"Butter mencerminkan kepercayaan, minimalisme dalam makanan utuh, sekaligus memanfaatkan nostalgia dan kebangkitan kembali masakan serta kue rumahan," kata anet Helm, analis budaya sekaligus dietisien.

Konsumen diperkirakan akan mulai memilih "kemewahan kecil", termasuk butter berkualitas tinggi, sebagai bagian dari gaya hidup mereka.


4. Kreatin dalam Pola Makan Sehari-hari

Ilustrasi daging sapi. Credit: freepik.com

Selama ini, kreatin dikenal sebagai suplemen populer bagi binaragawan untuk meningkatkan massa otot. Penelitian terbaru menunjukkan manfaat tambahan kreatin bagi energi seluler, kesehatan otak, dan kulit.

"Jika Anda tidak menyukai konsumsi suplemen, bisa menambahkan asupan kreatin dari makanan yang mudah ditemukan, seperti daging sapi, ikan, ayam, serta susu," ujar Frances.

Kreatin membantu meningkatkan memori jangka pendek dan mengurangi stres kognitif akibat kurang tidur sehingga mengonsumsinya melalui makanan bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin memperoleh manfaat tanpa bergantung pada suplemen.

 

Sumber: merdeka.com