Aksi Militer AS di Venezuela Picu Kekhawatiran PBB

PBB anggap aksi militer AS di Venezuela berpotensi jadi preseden berbahaya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 04 Januari 2026, 16:20 WIB
Foto yang diunggah oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke platform media sosial Truth Social ini memperlihatkan Presiden Nicolas Maduro yang disebutnya tengah berada di atas kapal perang USS Iwo Jima. (Dok. Presiden Donald Trump/Truth Social)

Bola.com, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan kekhawatiran serius atas tindakan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela. Langkah tersebut dinilai berpotensi membuka preseden berbahaya dalam tatanan hukum internasional.

Sikap itu disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Sabtu (3-1-2026) waktu setempat.

Advertisement

PBB menegaskan pentingnya penghormatan terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional di tengah meningkatnya ketegangan di Venezuela.

"Terlepas dari situasi di Venezuela, sederet perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh, oleh semua pihak, terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB," ujar Dujarric dalam pernyataan tertulis, dikutip Minggu (4-1-2026) dari Antara.

Menurut Dujarric, Guterres menaruh keprihatinan mendalam terhadap kondisi terkini di Venezuela, khususnya terkait tidak dihormatinya hukum internasional. Ia juga menilai eskalasi yang terjadi berpotensi menimbulkan dampak yang mengkhawatirkan bagi stabilitas kawasan.


Dialog Inklusif

Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara di hadapan DK PBB (AP)

Dalam pernyataan yang sama, Guterres mendorong seluruh pihak di Venezuela untuk menempuh dialog yang inklusif. Proses tersebut, menurutnya, harus dilakukan dengan menjunjung penuh hak asasi manusia dan supremasi hukum.

Di tengah sorotan internasional tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Washington akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Pengumuman itu disampaikan Trump pada Sabtu (3-1-2026) waktu setempat, setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

"Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, sebagaimana dilaporkan CNN.


Menjalankan Venezuela

Warga Venezuela yang tinggal di Argentina merayakan penangkapan pemimpin mereka, Nicolas Maduro, di Obelisk, Buenos Aires pada 3 Januari 2026. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) disambut dengan suka cita oleh para diaspora negara itu di berbagai kota sejumlah negara. (TOMAS CUESTA/AFP)

Trump menegaskan Amerika Serikat tidak ingin mengulangi pola intervensi sebelumnya yang dinilainya berujung pada kegagalan.

"Kami tidak ingin terlibat dengan memasukkan orang lain, lalu berakhir pada situasi yang sama seperti yang kami alami selama bertahun-tahun sebelumnya. Jadi, kami akan menjalankan negara itu," ujarnya.

Trump menyebut pengambilalihan kendali tersebut dilakukan untuk memastikan kepemimpinan baru di Venezuela benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. Namun, Trump tidak merinci batas waktu maupun tahapan konkret terkait masa transisi kekuasaan tersebut.

"Kami akan tetap tinggal sampai pada saat transisi yang tepat dapat berlangsung," katanya.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait