Bola.com, Jakarta - Amerika Serikat mengungkap perincian operasi militer rahasia yang diberi nama "Operation Absolute Resolve", misi yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Penjelasan mengenai operasi tersebut disampaikan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers pada Sabtu (3-1-2026) waktu setempat.
Caine menegaskan operasi itu merupakan hasil perencanaan panjang dan bukan keputusan mendadak.
Sejumlah matra militer Amerika Serikat, darat, laut, udara, antariksa, bersama unsur intelijen dilibatkan dalam persiapan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Menurut laporan BBC yang dikutip Minggu (4-1-2026), jaringan intelijen AS telah memantau pergerakan Maduro secara detail, dari rutinitas harian hingga kebiasaan paling personal.
Pengawasan tersebut dilakukan oleh tim kecil yang juga melibatkan satu sumber dari dalam pemerintahan Venezuela.
Seorang pejabat militer senior bahkan menyebut tim itu mengetahui detail kehidupan Maduro hingga hewan peliharaannya.
Latihan Intensif
Rencana penangkapan akhirnya difinalisasi pada awal Desember 2025 dan diberi sandi "Operation Absolute Resolve". Keputusan akhir untuk mengeksekusi operasi diambil langsung oleh Presiden AS, Donald Trump.
Selama masa persiapan, pasukan elite AS menjalani latihan intensif, termasuk membangun replika skala penuh rumah aman Maduro di Karakas. Replika itu digunakan untuk mensimulasikan jalur masuk serta berbagai skenario penangkapan.
Operasi tersebut dirahasiakan secara ketat dan tidak lebih dulu dikonsultasikan dengan Kongres AS. Setelah seluruh aspek teknis dinyatakan siap, militer hanya menunggu momen paling tepat untuk bergerak demi menjaga faktor kejutan.
Menurut Caine, operasi sempat hampir dilaksanakan beberapa hari lebih awal, tetapi ditunda karena kondisi cuaca dan tutupan awan.
Pasukan AS disebut berada dalam status siaga penuh selama libur Natal dan Tahun Baru.
"Selama berminggu-minggu, melewati Natal dan Tahun Baru, para prajurit Amerika Serikat berada dalam kondisi siaga, dengan sabar menunggu terpenuhinya pemicu yang tepat dan perintah presiden untuk bergerak," ungkap Caine.
Perintah Presiden Trump
Perintah resmi untuk memulai operasi dikeluarkan pada Jumat malam pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS. Beberapa jam setelahnya, Trump menyampaikan bahwa keputusan tersebut sempat tertunda beberapa kali.
"Kami sebenarnya akan melakukannya empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu. Lalu tiba-tiba semuanya terbuka, dan kami berkata:'jalan'," ujar Trump.
Caine menambahkan, Trump menyampaikan pesan singkat kepada pasukan sesaat sebelum operasi dimulai.
"Dia mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya, 'semoga beruntung dan Tuhan menyertai,'" ujarnya.
Waktu pelaksanaan dipilih menjelang tengah malam di Karacas, memberi keuntungan bagi pasukan AS untuk bergerak dalam kegelapan. Operasi gabungan udara, darat, dan laut itu berlangsung lebih dari dua jam dan mengejutkan banyak pihak, termasuk di Washington.
Tuai Kecaman
Langkah tersebut menuai kecaman dari sejumlah negara. Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, menyebut penangkapan Maduro sebagai preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional.
Trump tidak memantau operasi dari Situation Room Gedung Putih. Ia mengikuti jalannya misi dari resor Mar-a-Lago, Florida, didampingi Direktur CIA, John Ratcliffe, dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
"Itu sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan," kata Trump.
"Kalau Anda melihat apa yang terjadi, saya benar-benar menontonnya seperti menonton acara televisi. Kecepatannya, kekerasannya... itu benar-benar luar biasa, pekerjaan yang sangat hebat dari orang-orang ini," lanjutnya.
Serangan Udara hingga Darat
Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, termasuk pengerahan ribuan tentara, kapal induk, serta puluhan kapal perang. Tuduhan keterlibatan Maduro dalam perdagangan narkoba dan narco-terorisme menjadi dasar eskalasi tersebut.
Pada malam operasi, lebih dari 150 pesawat, termasuk pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai, dikerahkan.
"Itu sangat kompleks, sangat kompleks, seluruh manuvernya, pendaratan, jumlah pesawat," kata Trump.
"Kami memiliki jet tempur untuk setiap kemungkinan situasi," tambahnya.
Kesaksian Warga
Sekitar pukul 02.00 waktu setempat, ledakan keras terdengar di Karakas dan asap tebal terlihat di sejumlah titik.
"Saya mendengar suara yang sangat keras, seperti ledakan besar. Semua jendela bergetar. Tak lama kemudian saya melihat awan asap besar yang hampir menutupi seluruh pandangan," ujar Ana Vanessa Herrero, seorang jurnalis.
Warga lainnya, Daniela, mengatakan ledakan dan suara pesawat membangunkan warga sekitar pukul 01.55.
"Semua tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi kilatan ledakan di sekitar," ujarnya.
BBC Verify mengonfirmasi sedikitnya lima lokasi menjadi sasaran, termasuk Pangkalan Udara Generalissimo Francisco de Miranda (La Carlota) dan Pelabuhan La Guaira.
Trump juga mengklaim listrik di Karacas dipadamkan sebelum operasi dimulai.
"Lampu-lampu Karacas sebagian besar dimatikan berkat keahlian tertentu yang kami miliki," katanya.
"Keadaannya gelap dan mematikan," imbuh Trump.
Penangkapan Maduro
Saat operasi memasuki fase darat, pasukan elite AS bergerak ke Karakas. Unit Delta Force dilaporkan terlibat langsung, menggunakan persenjataan berat serta peralatan khusus untuk menembus pintu baja rumah aman Maduro.
Pasukan tiba di lokasi sekitar pukul 02.01 waktu setempat.
"Mereka sudah dalam posisi siaga menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang," kata Trump, menggambarkan kompleks tersebut sebagai benteng militer.
Kontak senjata terjadi ketika pasukan memasuki area, dan satu helikopter AS dilaporkan terkena tembakan, tetapi masih dapat melanjutkan operasi.
"Pasukan penangkap turun ke kompleks Maduro dan bergerak dengan cepat, presisi, dan disiplin," ujar Caine.
Trump menyebut pasukan AS berhasil menerobos pintu-pintu baja yang dipasang khusus.
"Mereka langsung menerobos masuk, bahkan ke tempat-tempat yang seharusnya tidak bisa ditembus," katanya.
Maduro Bisa Tewas
Maduro disebut sempat mencoba mencapai ruang aman.
"Dia berusaha mencapai tempat aman, yang sebenarnya tidak aman. Dia sampai di pintu itu, tetapi tidak berhasil menutupnya. Dia disergap begitu cepat sehingga tidak sempat masuk ke ruangan tersebut," ungkap Trump.
Ketika ditanya kemungkinan Maduro tewas jika melawan, Trump menjawab, "Itu bisa saja terjadi."
Menjelang subuh, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dievakuasi menggunakan helikopter dan diterbangkan ke Amerika Serikat. Tak lama setelah itu, Trump mengumumkan penangkapan tersebut kepada publik.
"Maduro dan istrinya akan segera menghadapi seluruh kekuatan keadilan Amerika," kata Trump.
Sumber: merdeka.com