Mengenal Delta Force, Pasukan Elite AS di Balik Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Mengenal Delta Force, pasukan khusus AS yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 05 Januari 2026, 07:20 WIB
Foto yang diunggah oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke platform media sosial Truth Social ini memperlihatkan Presiden Nicolas Maduro yang disebutnya tengah berada di atas kapal perang USS Iwo Jima. (Dok. Presiden Donald Trump/Truth Social)

Bola.com, Jakarta - Nama Delta Force kembali mencuat ke permukaan setelah pasukan elite Amerika Serikat itu dilaporkan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam sebuah operasi militer di Karakas, Sabtu (3-1-2026) dini hari.

Dalam operasi tersebut, Maduro ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores, usai pasukan AS melancarkan aksi berskala besar di ibu kota Venezuela.

Advertisement

Informasi mengenai keterlibatan Delta Force disampaikan sejumlah pejabat Amerika Serikat kepada CBS News.

Pasukan khusus Angkatan Darat AS itu sebelumnya juga dikenal terlibat dalam operasi penting lain, termasuk misi yang menewaskan mantan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, di Suriah pada 2019.

Berikut ini sejumlah fakta mengenai Delta Force dihimpun dari berbagai laporan, termasuk Business Insider, Minggu (4-1-2026).


Keberadaan Secara Resmi Tak Pernah Diakui

Ilustrasi unit pasukan khusus AS (special mission unit, JSOC); Delta Force/1st SFOD-D atau Army Compartmented Element (ACE), US Special Forces, DEVGRU-Navy SEALs, US Army Ranger, MARSOC, AFSOC, dll (sumber: US Army)

Delta Force sejatinya bukan nama resmi sebuah unit militer. Bahkan, sejumlah pejabat militer AS secara formal menyangkal keberadaan unit tersebut.

Penyangkalan itu merupakan bagian dari strategi plausible deniability guna menyamarkan operasi mereka.

Untuk tujuan tersebut, berbagai nama lain kerap digunakan dan beredar di media. Nama-nama itu mencakup 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (SFOD-D), Army Compartmented Element (ACE), Special Mission Unit (SMU), hingga Task Force Green.

Kendati berbeda penyebutan, seluruh istilah tersebut merujuk pada unit yang sama.

Pasukan ini dibentuk pada 1977 dengan inspirasi dari Special Air Service (SAS) Inggris. Pembentukannya dipicu oleh kebutuhan mendesak akan unit khusus penanggulangan teror, terutama setelah krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada masa Revolusi Islam Iran.

Saat ini, Delta Force berada di bawah naungan Joint Special Operations Command (JSOC), sebuah komando gabungan yang menaungi unit pasukan khusus lintas matra di militer AS.

Markas resminya tercatat berada di Fort Bragg, North Carolina. Namun, seperti dilaporkan The New York Times, 'tidak akan ada satu orang pun di Fort Bragg yang akan menunjukkan arah jika Anda bertanya di mana kantor Delta Force berada karena secara resmi, mereka tidak ada."

Di medan operasi, penampilan operator Delta kerap berbeda jauh dari pasukan konvensional.

Mereka dilaporkan berambut panjang, berjanggut, mengenakan seragam tanpa tanda pengenal, bahkan terkadang berpakaian menyerupai milisi atau warga sipil, tanpa atribut bendera AS.


Operasi Berisiko Tinggi dan Sarat Rahasia

Saddam Hussein (AFP)

Delta Force dikenal terlibat dalam sejumlah misi berprofil tinggi dan berisiko besar. Satu di antaranya adalah operasi di Somalia pada 1993 yang kemudian menginspirasi film Black Hawk Down.

Dalam misi itu, Delta diperintahkan menangkap pemimpin milisi Somalia, Mohamed Farrah Aidid, di Mogadishu serta menyelamatkan pilot Angkatan Darat AS, Michael Durant, setelah helikopternya jatuh.

Insiden tersebut menewaskan lima operator Delta dan 14 tentara AS lainnya. Ratusan pejuang serta warga sipil Somalia juga dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.

Unit ini juga terlibat dalam operasi penyelamatan sandera di Kedutaan Besar AS di Iran pada 1980 yang berakhir gagal. Selain itu, Delta Force berperan dalam perang Afghanistan, dua invasi Irak, serta operasi penangkapan Saddam Hussein.

Delta menarik diri dari Irak pada 2011 seiring penarikan pasukan AS. Namun, kehadiran mereka kembali tercatat dalam operasi melawan ISIS.

Dalam tulisannya di The Washington Post pada 2015, Wesley Morgan menyebut ACE memiliki hubungan erat dengan pasukan Kurdi Irak dan beroperasi di Suriah, termasuk dalam operasi yang menewaskan tokoh ISIS, Abu Sayyaf, pada 2015.

Selain misi-misi yang telah terungkap, Delta Force juga disebut, meski tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, terlibat dalam berbagai operasi lain, mulai invasi Grenada 1983, Panama 1989-1990, Perang Teluk, konflik Bosnia, Global War on Terror sejak 2001, hingga penangkapan bos kartel Sinaloa Joaquin Guzman.


Pasukan Terbaik dari yang Terbaik

Photo of the captured Nicolas Maduro on USS Iwo Jima, shared by Trump. (Photo: Donald Trump's Truth Social)

Delta Force kerap digambarkan sebagai creme de la creme di tubuh militer Amerika Serikat.

Para operatornya direkrut dari prajurit terbaik unit tempur terbaik, terutama US Special Forces dan US Army Ranger, dengan sebagian berasal dari cabang lain seperti Marinir, Angkatan Laut, Angkatan Udara, hingga Coast Guard.

Proses seleksi mereka dikenal sangat ketat, mencakup uji fisik ekstrem serta penilaian kesehatan psikologis. Setelah lolos tahap awal, para kandidat mengikuti pelatihan lanjutan yang mencakup keahlian menembak hingga teknik pertukaran intelijen rahasia.

Mantan operator Delta, Eric Haney, dalam bukunya "Inside Delta Force", menyebut para rekrutan menjalani Kursus Pelatihan Operator selama enam bulan dengan metode yang juga dipelajari dari CIA dan dunia intelijen.

Hingga 2017, jumlah personel Delta Force diperkirakan sekitar 1.200 operator. Namun, angka tersebut tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait