Usai Venezuela, Donald Trump Lontarkan Ancaman Militer AS ke Kolombia

Presiden AS, Donald Trump, bilang operasi militer ke Kolombia adalah "ide yang bagus”.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 05 Januari 2026, 15:20 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pernyataan di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, pada Sabtu (3/1/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Bola.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman militer ke kawasan Amerika Latin. Setelah Venezuela, Trump kini menyasar Kolombia.

Ancaman tersebut disampaikan pada Minggu (4-1-2026) waktu setempat saat Trump berbincang dengan wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One.

Advertisement

Trump menuding pemerintahan Kolombia berada di tangan pemimpin yang dinilainya bermasalah.

"Kolombia juga sangat sakit, dijalankan oleh orang sakit, yang suka membuat kokain dan menjualnya ke AS, dan dia tidak akan melakukan itu untuk waktu yang lama," ucap Trump, merujuk Presiden Kolombia Gustavo Petro, seperti dikutip CNA.

Ketika ditanya soal kemungkinan AS melakukan operasi militer terhadap Kolombia, Trump merespons singkat.

"Menurut saya, itu ide yang bagus," jawabnya.


Ancaman ke Presiden Sementara Venezuela

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) mengubah peta kekuasaan di negara tersebut. Dalam situasi darurat itu, pucuk kepemimpinan Venezuela kini berada di tangan Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodriguez. (Foto: Instagram Delcy Rodriguez)

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap pada Sabtu (3-1-2026) waktu setempat dan diterbangkan ke New York untuk menghadapi sejumlah dakwaan, termasuk kasus perdagangan narkoba.

Sebelumnya, Trump juga menyampaikan rencana AS untuk mengambil alih Venezuela dan mengerahkan perusahaan-perusahaan asal AS guna memperbaiki infrastruktur minyak negara itu yang disebut telah lama terbengkalai.

Di sisi lain, pemerintahan interim Venezuela yang dipimpin presiden sementara, Delcy Rodriguez, menyatakan sikap bertolak belakang.

Dalam pernyataan resmi pada hari Minggu, Rodriguez menegaskan dukungan terhadap Maduro dan menolak klaim Trump yang menyebut dirinya siap bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Rodriguez menjabat sebagai pemimpin sementara dengan dukungan Mahkamah Agung Venezuela dan menegaskan bahwa Maduro tetap dianggap sebagai presiden.

Trump kemudian melontarkan ancaman lanjutan dalam wawancara telepon dengan majalah The Atlantic.

"Rodriguez akan membayar harga yang sangat besar, kemungkinan lebih besar daripada Maduro," ucap Trump, jika sang pemimpin interim tidak melakukan "apa yang benar".


Rencana Menyerang Maduro

Presiden Venezuela Nicolas Maduro hadir secara mendadak di Sidang Umum PBB di New York, Rabu, 25 September 2018 (AP/Frank Franklin II)

Sementara itu, rencana AS terkait Venezuela disebut telah disiapkan jauh hari.

Kendati detail pengawasan terhadap negara tersebut belum sepenuhnya terungkap dan berpotensi memicu penolakan dari pendukung Trump yang menentang intervensi luar negeri, sejumlah sumber menyebut operasi penangkapan Maduro telah dirancang selama berbulan-bulan.

Pasukan elite Amerika Serikat, termasuk Delta Force, dilaporkan membangun replika rumah aman Maduro dan menjalani latihan intensif untuk menembus kediaman yang dijaga ketat.

Seorang sumber yang mengetahui operasi tersebut mengungkapkan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah menempatkan tim kecil di lapangan sejak Agustus. Tim ini bertugas mengumpulkan informasi mengenai pola aktivitas harian Maduro demi memastikan penangkapan berjalan sesuai rencana.

Dua sumber lain mengatakan kepada Reuters bahwa CIA juga memiliki seorang aset yang berada dekat dengan Maduro dan memantau pergerakannya, sekaligus siap menunjukkan lokasi persis sang presiden saat operasi berlangsung.

Persetujuan akhir atas pelaksanaan operasi itu disebut diberikan langsung oleh Trump pada Jumat malam pukul 22.46 waktu setempat.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait