Donald Trump Akui Tujuan Operasi AS di Venezuela: Minyak Jadi Sasaran Utama

Dalam konferensi pers di Florida, Presiden AS, Donald Trump, secara blak-blakan mengakui tujuannya adalah mengambil minyak Venezuela.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 06 Januari 2026, 14:20 WIB
Presiden Donald Trump berbicara kepada media selama konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada 3 Januari 2026, di Palm Beach, Florida. (Joe Raedle/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Operasi militer Amerika Serikat di Karakas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awalnya dipromosikan sebagai bagian dari agenda "perang melawan narkoba".

Namun, pernyataan Presiden AS, Donald Trump, setelah operasi itu justru mengungkap tujuan lain yang dinilai jauh lebih strategis.

Advertisement

Seperti dilaporkan Aljazeera pada Minggu (4-1-2026), narasi resmi Washington yang selama beberapa pekan menekankan upaya memberantas jaringan narkotika berubah secara drastis hanya beberapa jam setelah operasi tersebut digelar.

Indikasi kuat, termasuk pengakuan terbuka Trump, menunjukkan bahwa sasaran utama AS bukanlah kokain, melainkan cadangan minyak raksasa yang dimiliki Venezuela.

Serangan yang dilakukan pada Sabtu lalu di Karakas semula digambarkan sebagai operasi anti-narkoba untuk menangkap "dua buronan yang didakwa" terkait konspirasi terorisme narkoba.

Namun, setelah aksi yang menewaskan puluhan orang itu, Trump menyampaikan pesan yang berbeda sama sekali.


Prioritas AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada Sabtu (3/1/2026), di Palm Beach, Florida, terkait serangan ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. (Dok. AP/Alex Brandon)

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan Amerika Serikat akan "menjalankan negara" Venezuela untuk sementara waktu.

Ia menegaskan prioritas Washington adalah membangun kembali sektor perminyakan dan "mengambil sejumlah besar kekayaan dari dalam tanah" untuk dipasarkan secara global, termasuk ke negara-negara pesaing seperti China dan Rusia.

"Jika Anda ingat, mereka mengambil semua hak energi kami, mereka mengambil semua minyak kami belum lama ini, dan kami menginginkannya kembali," ucap Trump, seperti dikutip Aljazeera.

Ucapan Trump itu merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela yang sebelumnya mengakhiri peran perusahaan-perusahaan AS.

Venezuela diketahui memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, terbesar di dunia. Kekayaan inilah yang dinilai menjadi daya tarik utama bagi Gedung Putih.

Trump bahkan menyatakan cadangan minyak tersebut dapat digunakan untuk menutup seluruh biaya operasi militer AS sekaligus mengganti apa yang ia sebut sebagai "kerugian" Amerika akibat tindakan Venezuela.


Bantahan Maduro

Screengrab ini, yang diambil dari akun X Rapid Response 47, akun respons cepat resmi Gedung Putih, menunjukkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (C), dikawal oleh agen DEA di dalam markas besar Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di Lower Manhattan, New York, pada 3 Januari 2026. (Akun X Rapid Response 47/AFP)

Sementara itu, Maduro sejak lama membantah tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkoba. Ia secara konsisten menilai tudingan tersebut hanyalah dalih atau kuda troya yang digunakan Washington untuk menguasai sumber daya alam negaranya.

AS disebut tidak berniat menduduki Venezuela dalam jangka panjang, selama penguasa baru bersedia bekerja sama terkait sektor minyak.

Mahkamah Agung Venezuela telah menunjuk Wakil Presiden, Delcy Rodriguez, sebagai presiden sementara. Rodriguez memiliki posisi strategis karena juga menjabat Menteri Keuangan dan Menteri Perminyakan.

Trump bahkan mengisyaratkan kesiapan bekerja sama dengan Rodriguez apabila ia "melakukan apa yang diinginkan AS".

Sebaliknya, Trump justru tidak menunjukkan dukungan kepada tokoh oposisi pro-Barat Maria Corina Machado, dengan alasan ia dinilai tidak memperoleh rasa hormat yang cukup dari rakyat Venezuela.


Mengguncang Peta Energi Global

Pelantikan Delcy Rodriguez berlangsung di Majelis Nasional Venezuela. Tampak dalam foto yang dirilis oleh kantor pers Istana Miraflores ini menunjukkan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez (tengah); Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello (kiri); dan Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez (kanan), berjalan setelah mengucapkan sumpah dalam sebuah upacara di Majelis Nasional di Caracas pada 5 Januari 2026. (Foto oleh Marcelo Garcia/Kantor Pers Miraflores/AFP)

Jika AS berhasil mengendalikan penuh industri minyak Venezuela, dampaknya diperkirakan akan mengguncang peta energi global. Saat ini, produksi minyak Venezuela masih terpuruk di kisaran 500.000 barel per hari akibat sanksi dan buruknya pengelolaan.

Namun, mantan penasihat ekonomi Venezuela, Francisco Rodriguez, memperkirakan produksi bisa meningkat hingga 2,5 juta barel per hari dalam tiga hingga lima tahun apabila sanksi dicabut.

Skenario tersebut dinilai berpotensi menjadi ancaman serius bagi OPEC.

Masuknya pasokan minyak Venezuela di bawah kendali AS akan memberi Washington pengaruh besar dalam menentukan arah harga pasar global, sekaligus mengganggu keseimbangan yang selama ini dijaga OPEC.

Dampaknya juga diperkirakan akan dirasakan Iran dan Arab Saudi, yang berisiko kehilangan pangsa pasar serta pengaruh strategis di kawasan Amerika Latin.

 

Sumber: merdeka.com

Berita Terkait