Duel Takdir di Semifinal AFCON 2025: Salah Vs Mane, Nigeria Mengancam Mimpi Maroko

Piala Afrika 2025 memasuki fase paling menentukan. Empat tim terbaik benua ini masih bertahan setelah rangkaian perempat final yang ketat dan sarat drama, menyisakan dua semifinal yang menjanjikan tensi tinggi serta aroma sejarah.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 14 Januari 2026, 15:30 WIB
Kemenangan Maroko atas Kamerun dalam laga perempat final Piala Afrika 2025, Jumat (09/01/2025) waktu setempat, tak lepas dari peran Brahim Diaz. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Piala Afrika 2025 memasuki fase paling menentukan. Empat tim terbaik benua ini masih bertahan setelah rangkaian perempat final yang ketat dan sarat drama, menyisakan dua semifinal yang menjanjikan tensi tinggi serta aroma sejarah.

Senegal akan berhadapan dengan Mesir di Tangier pada semifinal pertama, Rabu waktu setempat. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket final, tetapi juga sarat narasi besar, termasuk kemungkinan pertemuan terakhir dua ikon Afrika, Sadio Mane dan Mohamed Salah, di panggung AFCON.

Advertisement

Sementara itu, tuan rumah Maroko akan menghadapi Nigeria yang tampil paling meyakinkan sepanjang turnamen. Super Eagles datang dengan kepercayaan diri tinggi, produktivitas gol luar biasa, serta ambisi besar untuk meraih gelar keempat mereka.

Dengan atmosfer stadion yang panas, tekanan publik, serta kualitas individu di kedua laga, AFCON 2025 benar-benar memasuki fase “business end” yang sesungguhnya.

 


Salah vs Mane: Rivalitas Lama, Misi Berbeda

Laga dimenangkan oleh Mesir dengan skor 3-2. Skuad berjuluk The Pharaohs itu nantinya akan melawan Senegal pada 15 Januari mendatang. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Pertemuan Senegal kontra Mesir nyaris mustahil dilepaskan dari sosok Mohamed Salah dan Sadio Mane. Keduanya pernah menjadi rekan setim di Liverpool dan kini telah berusia 33 tahun, membuat laga ini berpotensi menjadi duel AFCON terakhir mereka.

Kenangan final 2021 masih segar. Saat itu, Mane menjadi penentu kemenangan Senegal lewat adu penalti, sementara Salah hanya bisa menyaksikan dari lingkar tengah lapangan. Gelar tersebut mengukuhkan Mane sebagai legenda terbesar Senegal, sedangkan Salah masih menanti trofi AFCON pertamanya bersama Mesir.

Turnamen kali ini kembali menjadi panggung perjuangan Salah. Meski Mesir tampil jauh dari kata meyakinkan, kapten mereka kerap hadir di momen krusial. Gol kemenangan atas Zimbabwe, Afrika Selatan, dan Pantai Gading menjadi bukti perannya, ditambah satu gol lain yang mematikan perlawanan Benin di babak 16 besar.

Namun, Mesir bukan hanya tentang Salah. Omar Marmoush tampil konsisten sebagai ancaman utama, sementara kembalinya Emam Ashour ke starting XI melawan Pantai Gading langsung berbuah dua assist. Meski demikian, secara keseluruhan permainan Mesir masih terkesan pragmatis dan minim kreativitas.

 


Senegal Lebih Lengkap, Meski Tak Sempurna

Para pemain Senegal berpose untuk foto menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup B zona Afrika antara Senegal dan Mauritania di Stade Abdoulaye Wade, Diamniadio pada 14 Oktober 2025. (Patrick Meinhardt/AFP)

Di atas kertas, Senegal tetap difavoritkan. Skuad mereka lebih dalam, lebih seimbang, dan dipenuhi pemain berpengalaman. Mane mungkin tak selalu mencetak gol, tetapi kontribusinya terasa lewat tiga assist sejauh ini.

Pape Thiaw berhasil membangun unit serangan berbahaya dengan kehadiran Nicolas Jackson, Ismaïla Sarr, dan Iliman Ndiaye. Meski demikian, Senegal kerap memulai laga dengan lamban, seperti terlihat saat menghadapi Sudan.

Lini belakang yang dihuni Kalidou Koulibaly dan Édouard Mendy juga belum sepenuhnya solid. Namun, peran Krépin Diatta yang diubah menjadi bek sayap memberi dinamika tambahan, mengingatkan publik pada kekuatan fullback Senegal saat juara AFCON 2021.

Atmosfer di Tangier diprediksi memihak Senegal, dengan dukungan besar dari fans mereka, ditambah simpati suporter Maroko yang diperkirakan ikut memenuhi stadion.

 


Nigeria Paling Mengerikan, Maroko Dihantui Tekanan Publik

Sedikit keributan antarpemain terjadi saat Aljazair menghadapi Nigeria pada lanjutan Piala Afrika 2025, Sabtu (10/1/2026) malam WIB. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

Di semifinal lain, Nigeria tampil sebagai tim paling konsisten dan produktif. Setelah sempat kesulitan di laga pembuka, Super Eagles terus menanjak dan kini menjadi tim tersubur dalam sejarah AFCON dengan 14 gol.

Formasi berlian racikan Eric Chelle berjalan efektif, ditopang duet Victor Osimhen dan Ademola Lookman yang mematikan. Nigeria juga mencatatkan jumlah tembakan dan xG tertinggi di turnamen ini, mempertegas dominasi mereka.

Kekhawatiran soal pertahanan perlahan terjawab dengan dua clean sheet beruntun di fase gugur, termasuk saat menyingkirkan Aljazair. Kegagalan lolos ke Piala Dunia justru membentuk mental lapar dan fokus dalam skuad Nigeria.

Sebaliknya, Maroko belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi sebagai tuan rumah. Cedera sejumlah pemain kunci seperti Romain Saïss dan Azzedine Ounahi, serta kondisi Achraf Hakimi yang belum 100 persen, membuat performa mereka naik turun.

Absennya kapten Nigeria, Wilfred Ndidi, karena akumulasi kartu memberi sedikit harapan bagi Maroko. Namun, tekanan publik bisa menjadi pedang bermata dua, terutama jika mereka tertinggal lebih dulu.

 


Regragui dan Ujian Mental Atlas Lions

Pemain Maroko, Ayoub El Kaabi, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Zambia pada laga Piala Afrika di Prince Moulay Abdellah Stadium, Selasa (30/12/2025). (AP Photo/Themba Hadebe)

Pelatih Maroko, Walid Regragui, menyadari betul situasi rumit yang dihadapinya. Tekanan ekspektasi publik kerap berubah menjadi kritik tajam.

“Ketika Anda menjadi pelatih tim nasional Maroko, setiap hasil pasti mengundang kritik. Saya hanya kalah empat kali dalam tiga setengah tahun, membawa Maroko ke semifinal Piala Dunia dan AFCON, tetapi di sini situasinya selalu berbeda dan Anda harus menerimanya,” ujar Regragui.

Nigeria sendiri tetap fokus. Eric Chelle menegaskan timnya akan menyiapkan pendekatan khusus untuk menghadapi Maroko.

“Aljazair adalah tim besar dengan kekuatan dan kelemahan, Maroko juga sama, tetapi mereka berbeda. Kami harus mencari ruang yang tepat dan melakukan segalanya untuk menang,” tutur Chelle.

Jika Nigeria mampu mengendalikan emosi laga dan mencuri gol lebih dulu di Rabat, bukan tak mungkin semifinal ini berubah menjadi malam penuh tekanan bagi Maroko, baik di lapangan maupun di tribun penonton.

Berita Terkait