Bola.com, Jakarta - Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, akhirnya angkat bicara mengenai insiden adu mulut yang melibatkan Declan Rice dan asistennya, Albert Stuivenberg, dalam laga dramatis melawan Chelsea.
Arteta menegaskan bahwa ketegangan tersebut sudah sepenuhnya diselesaikan dan tidak meninggalkan masalah di dalam tim.
Insiden itu terjadi saat jeda babak pertama pada pertandingan Carabao Cup yang mempertemukan Chelsea dan Arsenal di Stamford Bridge, Rabu malam. Dalam laga tersebut, The Gunners sukses meraih kemenangan tipis 3-2, sekaligus menunjukkan karakter kuat mereka dalam pertandingan berintensitas tinggi.
Saat para pemain Arsenal berkumpul di terowongan untuk kembali ke lapangan, kamera televisi menangkap momen panas antara Rice dan Stuivenberg.
Gelandang timnas Inggris itu terlihat menggelengkan kepala sambil berteriak “just go” ke arah sang asisten pelatih. Situasi sempat memanas sebelum Gabriel Magalhaes turun tangan untuk meredam ketegangan.
Nada Frustrasi, Penjelasan Arteta
Dalam rekaman lanjutan, Rice juga tampak melontarkan kalimat bernada frustrasi. “Dia tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan," kata Rice.
Gabriel kembali berperan sebagai penenang, meminta rekannya untuk menahan emosi dan tetap fokus menghadapi babak kedua.
Meski insiden tersebut menimbulkan berbagai spekulasi, Rice justru menunjukkan sikap dewasa setelah pertandingan berjalan. Ketika ia ditarik keluar pada menit ke-82, Rice secara terbuka memeluk Albert Stuivenberg di pinggir lapangan, sebuah gestur yang menegaskan bahwa konflik tersebut tidak berlarut-larut dan telah diselesaikan secara internal.
Dalam konferensi pers pada Jumat, Arteta menanggapi insiden itu dengan tenang dan singkat.
“Semua sudah beres, semuanya baik-baik saja,” ujar Arteta.
Ambisi Juara
Saat ditanya apakah kejadian tersebut mencerminkan betapa besarnya ambisi Arsenal untuk meraih kemenangan, Arteta mengiyakan dengan tegas.
“Ya, tentu saja,” tambahnya.
Arteta menilai bahwa emosi yang muncul di lapangan merupakan bagian dari mentalitas juara yang ingin ia bangun di dalam skuadnya. Menurutnya, hasrat untuk menang, tekanan besar, dan tuntutan tinggi terkadang memicu ketegangan, namun hal tersebut justru menunjukkan betapa para pemain dan staf sangat peduli terhadap hasil dan performa tim.
Kemenangan atas Chelsea sekaligus insiden yang melibatkan Rice menjadi gambaran betapa tingginya standar dan ambisi Arsenal musim ini. Di bawah arahan Arteta, The Gunners tak hanya berusaha menang, tetapi juga membangun mentalitas kompetitif yang kuat—bahkan jika itu berarti munculnya emosi dan perdebatan di momen-momen krusial.
Masukan buat Pemain Inggris
Di sisi lain, Arteta juga menanggapi pernyataan pelatih Inggris, Thomas Tuchel, yang menyebut bahwa pemain-pemain Inggris membutuhkan keterampilan sosial yang baik untuk bisa masuk dalam skuad Piala Dunia mendatang. Arteta menyatakan sepakat penuh dengan pandangan tersebut.
“Saya sangat setuju dengan Thomas. Itu adalah hal yang sangat penting, namun sering kali diremehkan,” jelas Arteta.
Ia menambahkan bahwa kontribusi seorang pemain tidak selalu diukur dari menit bermain atau statistik di lapangan. Ada pemain yang mungkin jarang tampil, namun memiliki peran besar dalam menjaga keharmonisan tim, membangun suasana positif di ruang ganti, serta menyatukan seluruh anggota skuad.
“Ada pemain yang dampaknya tidak selalu terlihat di lapangan, tetapi pengaruh mereka di dalam dan sekitar tim sangat krusial. Mereka membantu menciptakan atmosfer, mendukung rekan setim, dan menjalankan peran-peran berbeda yang menurut saya sangat penting,” lanjut Arteta.
Sumber: Metro