Jelang Piala Dunia 2026, Wali Kota New York Minta Trump Tinjau Ulang Larangan Perjalanan

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, akan meminta Donald Trump mencabut larangan perjalanan jelang Piala Dunia 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 20 Januari 2026, 12:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wali Kota Terpilih New York City, Zohran Mamdan,i di Ruang Oval, Gedung Putih, Jumat (21/11/2025). (Dok. AP/Evan Vucci).

Bola.com, Jakarta - Wali Kota New York, Zohran Mamdani, berencana mengangkat isu dampak larangan perjalanan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Mamdani berharap kebijakan tersebut dapat ditinjau ulang menjelang turnamen karena menurutnya hal itu menjadi satu di antara faktor penting bagi keberhasilan ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Advertisement

Niat itu disampaikan Mamdani di sela-sela kegiatan nonton bareng final Piala Afrika 2025 antara Maroko dan Senegal yang digelarnya pada Minggu waktu setempat.

Acara tersebut berlangsung di gedung Surrogate's Court Manhattan, satu di antara gedung pengadilan paling ikonik di New York, yang untuk sementara dialihfungsikan menjadi ruang berkumpul para penggemar sepak bola.

Laga final itu sendiri akhirnya dimenangi Senegal melalui pertandingan yang diwarnai kontroversi.

Sejak Trump kembali berkuasa pada Januari tahun lalu, pemerintah AS memberlakukan serangkaian larangan perjalanan bagi warga negara dari sejumlah negara tertentu.

Dari daftar negara yang terdampak, terdapat empat negara yang telah memastikan lolos ke Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim, yakni Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti. Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada musim panas ini.


Larangan Perjalanan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pernyataan di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, pada Sabtu (3/1/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Dalam sebuah proklamasi yang dikeluarkan Trump pada Desember, AS menangguhkan masuknya warga negara Pantai Gading dan Senegal, baik sebagai imigran maupun non-imigran. Larangan itu juga mencakup kategori pengunjung untuk keperluan bisnis dan pariwisata.

Pemerintah AS berdalih kebijakan tersebut didasarkan pada tingginya tingkat pelanggaran izin tinggal oleh warga dari kedua negara tersebut. Meski begitu, pengecualian tetap diberikan bagi pemain, staf pelatih, pejabat federasi, serta keluarga inti para pemain, hanya tidak berlaku bagi para suporter.

Kebijakan serupa kembali diperluas pada Juni, ketika Trump menandatangani larangan perjalanan baru yang berdampak pada 12 negara, termasuk Haiti dan Iran. Trump menyebut langkah itu penting untuk melindungi keamanan nasional dan kepentingan nasional Amerika Serikat beserta rakyatnya.

Pada November, pemerintahan Trump sempat mengambil langkah yang dinilai membuka akses global bagi para penggemar dengan mengumumkan pembentukan FIFA PASS. Namun, FIFA PASS bukanlah visa.

Skema ini hanya menyediakan sistem prioritas janji temu visa bagi mereka yang telah membeli tiket pertandingan.

Para pemohon tetap harus melewati proses keamanan dan penyaringan yang ketat, serta tidak ada indikasi bahwa warga negara dari negara yang terkena larangan perjalanan dapat masuk ke AS hanya dengan membeli tiket Piala Dunia 2026.

Di tengah situasi tersebut, Mamdani mempertemukan anggota diaspora Senegal di New York dalam sebuah acara yang sarat simbol. Surrogate's Court Manhattan, gedung berusia 119 tahun, dipenuhi sorak-sorai pendukung Senegal yang menyaksikan tim nasional mereka berlaga di final Piala Afrika 2025.


Identitas New York

Zohran Mamdani deklarasi kemenangan jadi wali kota keturunan India-Amerika dan Muslim pertama di New York City bersama para pendukungnya di pesta primary election pada Rabu (25/6/2025). (AP/Heather Khalifa)

Dalam wawancara dengan The Athletic, Mamdani mengatakan kecintaan terhadap sepak bola selama ini kerap terpinggirkan dalam kehidupan kota.

"Untuk waktu yang lama, kecintaan pada permainan ini, pada negara-negara ini, pada turnamen ini, hanya bisa dirasakan warga New York di rumah mereka sendiri atau di lingkungan tertentu," ujar Mamdani.

"Itu belum menjadi sesuatu yang diakui oleh kota secara luas," tambahnya.

Menurutnya, momen tersebut menjadi kesempatan untuk menegaskan identitas New York sebagai kota dunia sekaligus rumah bagi olahraga dunia.

"Ini adalah kesempatan untuk melihat betapa luar biasanya komunitas Senegal, komunitas Maroko, dan komunitas Afrika yang lebih luas di kota ini, sekaligus menyatakan bahwa ini adalah kota dunia dan ini adalah permainan dunia," katanya.

"Ikatan antara dua hal itu sudah saatnya diperkuat, dan dengan Piala Dunia yang tinggal lima bulan lagi hadir di New York City, ini adalah kesempatan bagi kami untuk menunjukkan bagaimana ruang-ruang kota bisa dialihfungsikan menjadi tempat merayakan sepak bola," lanjut Mamdani.

Sebanyak delapan pertandingan Piala Dunia 2026, termasuk partai final, akan digelar di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey.

Namun, perjanjian kota tuan rumah FIFA melibatkan New York City dan New Jersey sehingga memberi Mamdani peran penting dalam pembahasan penyelenggaraan turnamen.


Harapan Bisa Berubah

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Kendati diaspora Senegal di New York dapat merayakan tim mereka dengan penuh semangat, para penggemar di Senegal berpotensi kesulitan untuk hadir langsung di Piala Dunia 2026 akibat larangan perjalanan tersebut.

"Itu adalah sesuatu yang saya harap bisa berubah," kata Mamdani kepada The Athletic, dalam wawancara yang dilakukan tepat saat laga final Piala Afrika 2025 dimulai.

"Saya akan terus menyuarakan bahwa New York adalah kota dunia, dan juga kota yang bisa dikunjungi dunia," ucapnya.

Ia mencontohkan pengalamannya menghadiri Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

"Agar turnamen ini benar-benar menjadi pengalaman seperti yang kita harapkan, kita harus belajar dari Piala Dunia sebelumnya. Kita harus mengizinkan dunia hadir di sini untuk bisa benar-benar merasakan dunia," ujarnya.

Mamdani juga menekankan pentingnya peran komunitas diaspora yang kuat di New York.

Saat ditanya apakah isu larangan perjalanan ini bisa ia sampaikan langsung kepada Trump, Mamdani menjawabnya.

"Saya pikir ini adalah bagian dari sejumlah hal yang akan saya sampaikan mengenai apa yang diharapkan kota ini," ujarnya.


Kritik Penjualan Tiket

Piala Dunia FIFA 2026 akan diselenggarakan di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dari Juni hingga Juli 2026. Turnamen kali ini menandai edisi pertama turnamen itu dengan kompetisi 48 tim dengan total 104 pertandingan. (ULISES RUIZ/AFP)

Mamdani, yang menyebut dirinya sebagai seorang sosialis demokrat, sempat menjadi sasaran kritik keras Trump selama kampanyenya menuju kursi Wali Kota New York. Namun, keduanya justru menggelar pertemuan publik pertama yang hangat di Oval Office pada November.

Saat itu, Trump menyebut Mamdani sebagai sosok yang rasional dan mengatakan dirinya akan memberi dukungan kepadanya.

Selain soal larangan perjalanan, Mamdani vokal mengkritik kebijakan penjualan tiket Piala Dunia 2026 oleh FIFA.

Dalam masa kampanyenya, ia meluncurkan petisi bertajuk "Game Over Greed" yang mendesak FIFA menghentikan sistem harga dinamis untuk Piala Dunia 2026, membatasi harga jual kembali tiket, serta menyisihkan 15 persen tiket dengan harga diskon bagi warga lokal.

Sebelumnya, Mamdani mengungkapkan kepada The Athletic bahwa ia menerima banyak keluhan dari warga New York terkait mahalnya harga tiket Piala Dunia dan kekacauan sistem penjualan, termasuk harga jual kembali yang ia sebut absurd.

FIFA kemudian merilis daftar harga tiket yang menuai kecaman dari kelompok suporter dan sejumlah federasi, meski badan sepak bola dunia itu mengklaim telah menerima 500 juta permintaan tiket untuk turnamen tersebut.


Penegasan Sikap

Zohran Mamdani deklarasi kemenangan jadi wali kota keturunan India-Amerika dan Muslim pertama di New York City bersama para pendukungnya di pesta primary election pada Rabu (25/6/2025). (AP/Heather Khalifa)

Pada Minggu sore, Mamdani kembali menegaskan sikapnya terhadap kebijakan FIFA.

"Saya tetap berpikir pendekatan yang benar adalah mengakhiri harga dinamis, membatasi harga jual kembali, dan menyisihkan 15 persen tiket dengan harga diskon bagi warga lokal," ujarnya.

"Ini sejalan dengan Piala Dunia sebelumnya. Kami hanya meminta apa yang sudah pernah dilakukan, dan saya akan terus menyuarakan hal ini sebagai Wali Kota New York, bukan lagi sekadar kandidat."

Mamdani menyebut dirinya telah memulai pembicaraan dengan komite tuan rumah New York/New Jersey, meski belum bertemu langsung dengan pejabat FIFA yang menangani proses penjualan tiket.

Di sisi lain, Mamdani juga sedang menyiapkan penunjukan seorang "czar Piala Dunia" untuk mengoordinasikan layanan lokal menjelang turnamen.

Fokusnya meliputi promosi pariwisata, peningkatan akses dan keterjangkauan, serta kesiapan layanan publik dalam menampung pertandingan dan kedatangan wisatawan.

"Ada banyak faktor yang membuat seseorang sukses di posisi itu," kata Mamdani.

"Mereka harus punya gairah terhadap sepak bola, memahami cara kerja berbagai lembaga pemerintahan yang harus dilibatkan, dan mampu berinteraksi untuk mewujudkan acara sebesar ini. Tujuan kami adalah memastikan pengalaman yang mulus dan spektakuler, dan itu membutuhkan logistik, semangat, ambisi, serta imajinasi dalam porsi yang sama," tuturnya.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait