Bola.com, Jakarta - Presiden Barcelona, Joan Laporta, akhirnya angkat bicara mengenai keputusan kontroversialnya memecat Xavi Hernandez.
Dalam wawancara terbarunya bersama Cataluyna Radio, Laporta menegaskan bahwa pemecatan tersebut sama sekali bukan keputusan yang diambil secara emosional atau terburu-buru.
Tak bisa dipungkiri, Xavi adalah legenda Barcelona. Sebagai mantan gelandang ikonik yang membawa klub meraih berbagai gelar domestik dan Eropa, ekspektasi terhadapnya sangat tinggi. Namun, dunia kepelatihan memiliki dinamika berbeda dibandingkan karier sebagai pemain.
Laporta menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi kepentingan klub, bukan berdasarkan sentimen pribadi.
“Kami percaya padanya. Tetapi pada akhirnya, itu tidak berjalan sesuai harapan,” tutupnya.
Sebelum kembali ke Barcelona, Xavi memang menangani klub Qatar, Al Sadd, dan dinilai telah mengumpulkan pengalaman taktis maupun manajerial. Laporta pun mengaku sempat percaya bahwa Xavi adalah sosok yang tepat untuk memimpin proyek jangka panjang Blaugrana.
Tak Sesuai Harapan
Laporta mengakui bahwa situasi saat itu cukup rumit. Dua musim sebelumnya, ia bahkan sempat menolak pengunduran diri Xavi dan memberikan dukungan penuh kepada sang legenda klub. Namun, hanya beberapa pekan setelahnya, arah kebijakan berubah drastis.
“Tidak, ini bukan soal impuls,” ujar Laporta.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa kami membutuhkan lebih banyak pengalaman. Saya belum sepenuhnya yakin, dan dia mengatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan pengalaman tersebut saat melatih di Qatar.”
Namun, seiring berjalannya waktu, keyakinan tersebut mulai memudar. Laporta menyebut ada inkonsistensi dalam pernyataan Xavi yang membuat manajemen mempertanyakan arah proyek tim.
“Saya bertanya kepadanya apakah dia percaya dengan tim ini, dan dia menjawab 100 persen. Saya terkejut, karena itu bukan yang dia katakan kepada saya sepanjang musim,” ungkap Laporta.
Rombak Total
Situasi semakin memanas ketika dua pekan setelah menyatakan keyakinannya, Xavi justru mengatakan bahwa Barcelona tidak akan kompetitif setidaknya dalam dua tahun ke depan. Pernyataan itu dinilai bertolak belakang dengan ambisi klub yang ingin segera kembali bersaing di level tertinggi, baik di LaLiga maupun kompetisi Eropa.
Yang paling mengejutkan adalah pengakuan Laporta terkait rencana perombakan besar-besaran skuad. Menurutnya, direktur olahraga Deco menyampaikan bahwa Xavi ingin mengganti sepuluh pemain dalam skuad utama.
Angka tersebut tentu bukan jumlah kecil. Perombakan sebesar itu akan berdampak signifikan terhadap stabilitas tim, finansial klub, serta proses regenerasi pemain muda yang selama ini menjadi identitas Barcelona.
Dalam konteks kondisi keuangan klub yang masih dalam tahap pemulihan, wacana mengganti sepuluh pemain sekaligus dianggap sebagai langkah berisiko tinggi. Manajemen menilai pendekatan tersebut tidak sejalan dengan strategi jangka panjang yang lebih terukur.
Tekanan
Laporta juga menyinggung apa yang disebut sebagai “insiden sushi”, yang selama ini menjadi bahan perbincangan media Spanyol. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut hanyalah cerita ringan dan bukan faktor utama dalam pengambilan keputusan.
“Insiden sushi itu hanya cerita lucu,” katanya.
Sebagai klub sebesar Barcelona, tuntutan untuk bersaing di papan atas LaLiga adalah hal mutlak. Kegagalan meraih konsistensi performa serta inkonsistensi visi dinilai menjadi faktor utama yang membuat manajemen kehilangan keyakinan.
Barcelona berada dalam fase transisi, memadukan pemain muda akademi dengan sejumlah rekrutan baru. Dalam situasi seperti itu, stabilitas kepemimpinan dan kejelasan visi menjadi krusial.
Laporta tampaknya tidak ingin mengambil risiko menunggu terlalu lama jika merasa arah proyek tidak lagi selaras dengan target klub.
Sumber: Marca