Sukses


4 Poros Kunci Arema FC di Era Mario Gomez

Bola.com, Malang - Arema FC akan tampil dengan begitu banyak wajah baru di musim 2020. Separuh komposisi pemain diubah sesuai dengan permintaan sang pelatih baru, Mario Gomez.

Arema FC saat ini sudah mengikat kontrak 26 pemain. Tiga pemain asing baru akan datang pada tengah pekan ini setelah mencapai kata sepakat dengan manajemen tim berjulukan Singo Edan itu.

Kendati belum komplet, sudah terlihat siapa saja pemain yang akan menjadi poros permainan Arema FC pada musim 2020. Selama menjalani pemusatan latihan di Kusuma Agro Wisata, Kota Batu, para pemain sudah diproyeksikan untuk masuk skuat inti.

Bahkan dalam laga uji coba menghadapi tim lokal, Bintang Semeru FC, Mario Gomez sudah memperlihatkan dengan jelas siapa saja pemain yang diproyeksinya untuk menjadi kunci dalam permainan Arema FC.

Berikut Bola.com mengulas 4 pemain Arema FC yang akan menjadi poros permainan tim di bawah kendali Mario Gomez.

2 dari 5 halaman

Hendro Siswanto

Sejak bergabung bersama Arema FC pada musim 2012, Hendro masih bertahan hingga saat ini. Dia menjadi satu di antara beberapa pemain Arema dengan fisik prima.

Meskipun usianya akan segera memasuki 30 tahun, Hendro jadi pemain kunci di lini tengah Singo Edan. Sebagai gelandang bertahan, dia punya kemampuan komplet. Selain kekuatan fisik dan daya jelajahnya tinggi, dia punya skill bagus.

Musim ini diprediksi Hendro tetap jadi pilihan utama di posisi idealnya, gelandang bertahan. Selama persiapan dan latihan fisik, dia bisa melahapnya dengan mudah.

Sebenarnya Arema punya deretan gelandang muda, seperti Hanif Sjahbandi, Jayus Hariono, dan Vikrian Akbar. Namun, Hendro masih jadi pilihan utama. Apalagi pengalamannya kini tentu jadi nilai lebih.

Pada musim 2019, Hendro tampil dalam 29 pertandingan. Semua laga itu dijalaninya sebagai starter. Hal tersebut sudah menjadi bukti pentingnya peran Hendro. Mario Gomez pun menyukai dengan karakter pemain seperti Hendro. Meski tak muda lagi, dia masih bisa bekerja keras di lapangan.

3 dari 5 halaman

Oh In-kyun

Oh In-kyun merupakan pemain asing pertama yang diminta Gomez kepada manajemen Arema FC. Pemain Korea Selatan ini tergolong uzur. Usianya tahun ini sudah 35 tahun, tapi In-kyun bisa menjawab keraguan suporter.

Sepekan lebih persiapan dengan Arema, In-Kyun terlihat dominan. Bukan hanya saat latihan fisik, tapi juga sesi gim dan uji coba.

Mantan pemain Persib Bandung ini jadi gelandang yang bisa menyerang maupun bertahan. Selain fisiknya masih terjaga, yang paling terlihat adalah akurasi umpan dan tembakannya.

In-kyun akan diberikan tugas sebagai pengatur irama permainan. Ketika lini depan buntu, dia jadi senjata dengan tendangan keras dari jarak jauh yang sudah diperlihatkan dalam latihan.

In-kyun ternyata sudah diminati Arema sejak musim lalu. Dia bisa jadi solusi gelandang yang bisa bertahan dan menyerang sama baiknya. Karakter bermainnya juga energik. In-kyun dirasa pas menggantikan posisi Takafumi Akahoshi yang musim lalu dinilai kurang agresif.

4 dari 5 halaman

Dendi Santoso

Pemain yang menjadi one man club Arema FC. Sejak junior hingga saat ini, Dendi masih berada di Arema. Sebagai pemain asli Malang, dia akan tetap dipercaya Mario Gomez mengisi sektor sayap kanan.

Meski sudah tidak secepat beberapa tahun lalu, Dendi punya nilai lebih sebagai pemain sayap. Tenang dan punya akurasi umpan bagus. Terkadang, dia juga bisa digeser ke tengah sebagai gelandang serang.

Musim lalu, Dendi selalu jadi pilihan utama dalam 29 pertandingan dan menyumbangkan 4 gol. Meski Arema mendatangkan winger muda seperti Mariando Djonak, Pandi Lestaluhu dan Kushedya Hari Yudo, satu sektor sayap tetap jadi milik Dendi.

Apalagi musim lalu dia sempat dipanggil ke Timnas Indonesia. Artinya, Dendi merupakan pemain sayap terbaik di Indonesia.

5 dari 5 halaman

Bagas Adi Nugroho

Bagas Adi Nugroho jadi rekrutan baru Arema FC, tapi juga merupakan wajah lama bagi Aremania. Bagas Adi sempat memperkuat Singo Edan pada musim 2017 dan 2018.

Kini dia kembali setelah merantau semusim bersama Bhayangkara FC. Bagas jadi solusi rapuhnya lini belakang musim lalu. Dia juga simbol regenerasi pertahanan Arema karena usianya kini masih 22 tahun.

Musim lalu dia hanya main dalam 6 pertandingan saja. Maklum dia harus fokus bersama agenda panjang Timnas Indonesia U-22 karena dia pilihan utama lini belakang Timnas Indonesia yang bisa turun sebagai stoper maupun bek kiri.

Meski masih muda, Bagas dikenal sangat tenang di lapangan hijau. Musim ini diprediksi menjadi musim terbaiknya karena dia bermain bagus dengan Timnas Indonesia.

Kebetulan musim ini Arema baru cuci gudang posisi stoper, tidak ada stoper senior seperti Hamka Hamzah atau Purwaka Yudi seperti ketika dia masih membela Arema pada musim 2018 silam. Otomatis kesempatan main akan lebih terbuka.

From Tokyo to New York, Cerita Dua Pegiat Lari Indonesia di Seri Maraton Dunia

Video Populer

Foto Populer