Sukses


Tantangan Tiga Klub Promosi Shopee Liga 1 2020: Antara Tradisi dan Eksistensi

Bola.com, Jakarta - Tiga tim promosi Shopee Liga 1 2020, Persik Kediri, Persiraja Banda Aceh, dan Persita Tangerang memiliki tantangan setelah kembali naik kasta. Ada muru'ah yang dijaga selain sekadar bertahan di kompetisi sepak bola tertinggi antar klub di Indonesia.

Ketiga klub melewati lima hingga enam tahun untuk bisa merasakan atmosfer kasta tertinggi Liga Indonesia. Bukan waktu yang sebentar buat klub yang memiliki sejarang cukup panjang di persepakbolaan Tanah Air.

Persik misalnya, harus memulai segalanya dari nol setelah 'ditendang' dari liga teratas akibat dianggap bangkrut pada 2015 silam. Butuh usaha ekstra untuk membangun pondasi dan kerangka tim, mengumpulkan semangat yang mungkin sempat hilang, serta yang paling penting, mengembalikan kepercayaan suporter yang merindukan tim kesayangannya menjadi kebanggaan Jawa Timur lagi.

Persita dan Persiraja tidak lebih baik. Mereka bahkan sudah absen berkompetisi di divisi paling elit Indonesia pada 2014 silam. Padahal, keduanya sempat dianggap sebagai tim besar dan eksis di kancah sepak bola antar klub tertinggi Indonesia.

Baik Persik, Persita, dan Persiraja ditantang tak cuma melengkapi 18 tim peserta Shopee Liga 1 2020. Menjaga harkat dan martabat kedaerahan boleh jadi motivasi sekunder, namun mempertahankan status 'klub tradisional' serta memperkuat eksistensi juga sudah sepatutnya menjadi kewajiban ketiga klub.

Menengok kiprah tim promosi Liga 1 2019, yakni PSS Sleman, Semen Padang, dan Kalteng Putra, tentu membuat khawatir tiga tim promosi Shopee Liga 1 2020. Sebab, hanya PSS Sleman yang sanggup bertahan dan bahkan bisa menampilkan sejumlah kejutan pada beberapa laga.

Target realistis coba dicanangkan oleh satu di antara tiga klub tersebut.  Presiden Persita, Ahmed Rully Zulfikar, misalnya, tidak ingin mematok target tinggi buat timnya. Rully menegaskan, misi Persita musim ini adalah agar tidak turun lagi ke kasta kedua.

"Saya concern agar kami bertahan di Liga 1 dengan finis di posisi 10 besar dulu. InsyaAllah, syukur-syukur bisa sampai lima besar karena yang utama saya harus mempersiapkan timnya lebih baik lagi," kata Rully.

Bisa dimaklumi jika manajemen tim berjulukan Pendekar Cisadane itu terkesan safe. Klub yang sejak musim lalu diasuh oleh Widodo Cahyono Putro itu pernah kecewa berat usai gagal lolos ke Shopee Liga 1 2019 setelah kalah pada perebutan juara ketiga Liga 2 2018. Agaknya, membebani tim dengan target tinggi justru bisa berakibat fatal. Sebaliknya, mematok target realistis bisa sedikit banyak meringankan tekanan Egi Melgiansyah dkk. dalam mengarungi ketatnya Liga 1 2020.

Buat Persiraja dan Persik, berani menantang lebih?

 

2 dari 4 halaman

Mempercayakan Darah Muda, Langkah Berani atau Kelewat Optimistis, Macan Putih?

Persik Kediri sempat merasakan masa jayanya pada dekade 2000-an. Setelah meraih juara pada kompetisi Divisi I tahun 2002, tim berjulukan Macan Putih itu langsung memenangi Divisi Utama (Liga Indonesia edisi ke-9) setahun berselang.

Tiga tahun berselang, Persik kembali meraih trofi juara usai mengalahkan PSIS Semarang lewat laga sengit di Stadion Manahan, Solo dengan skor tipis 1-0.

Tentu tidak mudah memoles tim yang pada awal didirikan hingga dekade 1990-an masih kalah pamor dari Persedikap Kabupaten Kediri. Langkah mengejutkan dilakukan manajemen dengan mematenkan tanda tangan eks pelatih Timnas Indonesia pada Pra Piala Dunia 1986, Sinyo Aliandoe untuk kompetisi Divisi I 2000-2001.

Di balik layar, ada sosok Iwan Budianto yang berjasa mengubah wajah Persik menjadi tim yang lebih disegani. Selain itu, kombinasi Iwan dengan pelatih Jaya Hartono juga dianggap sebagai salah satu biang kesuksesan Macan Putih pada awal 2000-an.

Setelah naik turun kasta, Persik akhirnya kembali ke panggung tertinggi kompetisi sepak bola tertinggi antar klub Indonesia. Shopee Liga 1 2020 bisa dibilang, jika tidak berlebihan, puncak kebangkitan Persik. Setelah dua tahun beruntun jadi jawara Liga 3 2018 dan Liga 2 2019, Macan Putih kembali ke 'habitat aslinya'.

Akan tetapi, ketakutan sempat melanda Persik akibat lambannya gebrakan dari manajemen klub dalam menyambut Liga 1 2020. Manuver mereka dalam rekrutmen pelatih, pemain, sponsor, hingga infrastruktur membuat banyak pihak merasa kalau klub yang pernah berkompetisi di Liga Champions Asia itu kekurangan dana.

Paling ketara terlihat pada perekrutan pemain. Manajemen Persik terkesan tidak serius ketika satu per satu pemain lokal berdatangan. Tanpa mengesampingkan kualitas mereka, pemain-pemain anyar yang didatangkan dianggap bukan kelas A.

Ada nama seperti Ronaldo Robener Wanma (Persipura), Jordan Zamorano (PSS U20), Reksa Maulana, dan Arif Setiawan berstatus pinjaman dari Bhayangkara FC U-18. Semua figur itu merupakan pemain muda yang minim jam terbang.

Sosok yang lebih terkenal kemudian datang, tapi tetap saja tidak masuk kategori bintang. Mereka adalah Antony Putro Nugroho (PSS), Munhar (PSM), Dany Saputra (Persija), Vava Mario Zagallo (Tira Persikabo), kiper Dimas Galih (Kalteng Putra), dan duo eks Barito Putera Andri Ibo dan Paulo Sitanggang.

Sementara untuk deretan pemain asing, Persik pilih mendatangkan pendatang baru, seperti Gaspar Vega (Argentina) dan Patrick Bordon (Slovenia). Hanya Ante Bakmaz (Australia) yang pernah main bersama Madura United. Itu pun dia hanya main di paruh musim kedua 2019.

Pemain-pemain muda yang didatangkan dan mempertahankan sejumlah penggawa Persik yang dipakai sejak Liga 3 dan Liga 2, kalau diambil bahasa halusnya dan bukan karena minimnya persiapan, memperlihatkan kalau manajemen tim masih mempercayai skuat muda kala mengarungi kompetisi Shopee Liga 1 2020.

"Kebijakan kami memang lebih memilih pemain muda. Kami sudah pernah sukses dengan terobosan itu, makanya itu kami lanjutkan di Liga 1 2020 ini. Coach Joko Susilo juga suka dengan talenta muda," kata Beny Kurniawan, Manajer Tim.

Beny Kurniawan bergeming dengan pilihan ini. "Banyak kritikan dan keraguan dari publik, ketika kami pakai pemain muda di Liga 3 dan Liga 2 lalu. Tapi, semua kami jawab dengan prestasi. Jadi tak ada yang perlu diragukan dari kebijakan ini," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Menjadi Satu-satunya Klub Asal Sumatera, Jangan Sampai Turun Kasta

Setelah Semen Padang dan Badak Lampung terdegradasi ke Liga 2, Persiraja Banda Aceh menjadi satu-satunya wakil asal Sumatera di Shopee Liga 1 2020. Di satu sisi ini menjadi kebanggaan, di sisi lainnya, ini merupakan tantangan menjaga eksistensi sekaligus martabat.

Enam tahun sudah Persiraja absen di pentas tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia. Jelas, menjadi pelengkap saja bukanlah hal yang diinginkan seluruh elemen klub.

Sadar akan kondisi ini, Presiden Klub sekaligus anggota DPR RI, Nazaruddin Dek Gam, tak tanggung-tanggung memasang target untuk musim ini.

"Tentu saja, saya sebagai Presiden Persiraja yang juga orang Aceh ingin Persiraja bisa bersaing. Saya harap Persiraja ini bukan hanya numpang lewat di Liga 1," kata Dek Gam beberapa waktu lalu.

Harapan tentu tak akan terwujud tanpa tindakan nyata. Menariknya, Persiraja tidak agresif soal manuver transfer pemain. Untuk mengarungi Liga 1 2020, manajemen klub mempertahankan 80 persen komposisi pemainnya di Liga 2 musim lalu.

Melihat hal tersebut, ada anggapan kalau Persiraja terlalu fokus melakukan perbaikan di sektor infrastruktur saja. Ini tersirat dari ucapan Dek Gam dalam sebuah kesempatan.

"Kami akan berbenah karena tampil di Liga 1 ini bukan sekadar persiapan tim. Namun, harus mempersiapkan infrastruktur dan lainnya," tegas pria yang juga anggota DPR RI itu.

Komposisi pemain Persiraja bisa dibilang jauh dari kata ideal. Tidak banyak bintang yang menginjakkan kaki di rumput Stadion Harapan Bangsa. Dari deretan nama asing, hanya Vanderlei Francisco saja yang mampu bermain cukup gemilang bersama Semen Padang.

Agaknya, manajemen klub percaya tangan dingin pelatih Hendri Susilo sanggup mempertahankan kekuatan Persiraja. Pelatih asli Sumatera Barat itu masih dipertahankan setelah hanya satu musim mampu membawa Persiraja naik kasta dari Liga 2 2019 ke Shopee Liga 1 2020.

Harapan lainnya juga berada di pundak Adam Mitter, bek asal Inggris berusia 27 tahun. Meski kariernya bak petualang, di mana ia nyaris tiap musim selalu berganti klub di sejumlah negara, setidaknya, ia memiliki bekal berupa keluwesan dalam beradaptasi di lingkungan baru.

Mitter juga pernah membela klub kuat asal Filipina, Global Cebu FC. Selain itu, ia juga sempat berkarier di Singapura dan India. Ini bekal bagus buat Persiraja yang membutuhkan tenaga bek asing tapi sudah tak awam dengan sepak bola Asia.

Kelebihan Mitter lainnya adalah kepiawaiannya dalam membaca permainan. Sebagai seorang bek tengah, ia sering memberikan umpan panjang dan akurat langsung ke jantung pertahanan lawan. Dengan adanya Vanderlei Francisco di lini depan yang terkenal andal dalam bola-bola atas dan juga akselerasi, kombinasi keduanya bakal menjadi senjata tajam buat Laskar Rencong.

Tapi, apakah itu saja sudah cukup untuk bertahan di Shopee Liga 1?

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer