Sukses


Menengok Perjalanan Panjang PSM di Pentas Liga Indonesia

Bola.com, Makassar - PSM Makassar adalah klub tertua di Indonesia. Pamor Juku Eja sebagai peraih lima trofi juara era Perserikatan tidak pernah pudar. Klub yang berdiri pada 2 November 1915 ini tetap eksis meski PSSI menyatukan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia pada 1994.

Dalam edisi perdana Liga Indonesia musim 1994-1995, PSM Makassar hanya bertengger di papan tengah Wilayah Timur. Pencapaian minor ini terjadi karena materi PSM kala itu didominasi anak-anak muda asli Makassar yang minim pengalaman dan tidak memakai jasa pemain asing. Meski dinilai wajar, hasil ini melecut PSM untuk mengembalikan pamor mereka.

Pada musim berikutnya, perombakan total terjadi di bawah kendali Nurdin Halid. Materi Juku Eja tetap didominasi pemain asli Makassar, tapi berkualitas, antara lain Alibaba, Ronny Ririn, Syamsuddin Batola, Ansar Razak, Ayub Khan, Ansar Abdullah, dan Bahar Muharram. Sederet nama ini dinilai mewakili karakter PSM yang mengandalkan permainan cepat, keras, dan pantang menyerah.

Sebagai 'penyeimbang' plus meningkatkan kualitas tim, manajemen PSM mendatangkan trio Brasil, Marcio Novo, Luciano Leandro, dan Jacksen Tiago. Selain ketiga pemain asing ini, PSM juga merekrut pemain lokal luar Makassar, Yusuf Ekodono dari Persebaya Surabaya dan Yeyen Tumena yang merupakan jebolan PSSI Primavera.

Hasilnya signifikan. PSM lolos ke babak 12 Besar yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan dengan status juara Wilayah Timur.

Kiprah apik Juku Eja berlanjut dengan menyapu bersih tiga laga di Grup C. PSM menunjuk Yeyen yang masih berusia 18 sebagai kapten dan melenggang ke final setelah menyingkirkan Persipura dengan skor 4-3 lewat duel yang dramatis.

PSM mampu memenangkan pertandingan setelah tertinggal 1-3 sampai paruh akhir babak kedua. Euforia kemenangan kontra Persipura jadi bumerang di partai puncak.

Menghadapi Mastrans Bandung Raya, penampilan Juku Eja terkesan antiklimaks. Juku Eja tumbang oleh dua gol cepat Bandung Raya yang dicetak Peri Sandria pada menit ketiga dan Heri Rafni Kotari delapan menit kemudian.

Setelah itu, penampilan PSM Makassar terbilang stabil meski berganti manajemen. Mereka selalu masuk daftar tim yang bertarung di Stadion GBK setelah bersaing di penyisihan wilayah.

2 dari 5 halaman

Menjadi Tim Menakutkan

Musim 1999-2000 jadi yang terbaik bagi PSM Makassar. Nurdin Halid bersama adik kandungnya, Kadir Halid, kembali memegang kendali manajemen. Target utamanya adalah trofi juara untuk menuntaskan dahaga gelar Juku Eja di era Liga Indonesia.

PSM menjelma jadi tim menakutkan. Dengan anggaran tim yang besar, Nurdin menguyur gaji dan bonus wah buat pemain bintang seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Kurniawan Dwi Yulianto, Carlos de Mello, dan Miro Baldo Bento agar tampil trengginas bersama PSM.

Hasilnya, Juku Eja melenggang mulus ke tangga juara setelah menekuk PKT Bontang di final. Satu tahun kemudian, Nurdin mengakhiri kebersamaannya dengan PSM dengan jadi runner-up Liga Indonesia 2000/2001 dan lolos ke perempat final Liga Champions Asia.

Hegemoni PSM tetap berlanjut pada musim-musim berikutnya. Termasuk ketika Divisi Utama menerapkan sistem kompetisi penuh pada 2003 dan 2004.

Ketika berada di bawah kendali dua bersaudara, Erwin Aksa dan Sadikin Aksa, penampilan Juku Eja menjadi buah bibir meski berturut-turut hanya bertengger di peringkat dua. PSM saat itu juga menjadi klub penyumbang pemain terbanyak ke Timnas Indonesia, yakni Irsyad Aras, Jack Komboy, Syamsul Chaeruddin, Ponaryo Astaman, Ortizan Salossa dan Charis Yulianto.

Empat nama terakhir malah kerap jadi starter tim nasional saat itu. Begitupun dengan pemain asing. Nama Cristian Gonzales, Oscar Aravena dan Ronald Fagundez mencuat saat berkostum PSM Makassar.

 

3 dari 5 halaman

Masa Surut

PSM Makassar sempat mengalami masa surut ketika Divisi Utama berganti nama menjadi Liga Super Indonesia pada 2008. Sebagai tim perserikatan, PSM tak luput dari eskalasi politik lokal. Penampilan PSM cenderung labil. Juku Eja malah sempat terancam terdegrasi pada musim 2009-2010 sebelum mengakhiri kompetisi dengan bertengger di peringkat 13 dari 18 klub kontestan.

Publik sepakbola Makassar kehilangan tontonan menghibur setelah manajemen PSM yang saat itu dikendalikan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin memutuskan hengkang dari Liga Super Indonesia bersama Persema Malang dan Persibo Bojonegoro. Bersama mayoritas klub yang baru dibentuk, PSM tampil di kompetisi bertajuk Liga Prima Indonesia.

Meski operator LPI mendatangkan sejumlah pemain berstatus marquee player, kualitas kompetisi ini masih kalah pamor dengan Liga Super Indonesia yang digelar secara bersamaan. Pada musim 2013, LPI pun bubar. Beruntung nasib PSM terselamatkan setelah menjalani play-off Liga Super Indonesia pada tahun yang sama. PSM akhirnya kembali ke habitatnya. Pada musim 2014, PSM berada di peringkat ke-7 Wilayah Timur.

Namun, gejolak sepak bola Indonesia masih berlangsung dan berujung hukuman dari FIFA buat PSSI. Otomatis Liga Super Super 2015 yang baru digelar langsung terhenti.

Padahal PSM yang mayoritas sahamnya sudah dikuasai oleh Bosowa Grup sedang jor-joran membangun tim dengan mendatangkan Alfred Riedl, mantan pelatih tim nasional Indonesia. Pada masa transisi ini, PSM mengikuti ajang Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 yang memakai sistem kompetisi penuh. Hasilnya PSM berada di peringkat enam pada akhir kompetisi.

4 dari 5 halaman

Penampilan Apik di Era Liga 1

Pasca pencabutan hukuman PSSI oleh FIFA, PSM Makassar kembali bangkit. Perubahan nama kompetisi dari Liga Super Indonesia menjadi Liga 1 disikapi manajemen PSM dengan antuasis. Berada di bawah kendali Munafri Arifuddin yang juga adik ipar Sadikin Aksa, PSM kembali menjelma menjadi tim menakutkan.

Pelatih berpaspor Belanda, Robert Albert, yang sudah menangani PSM sejak TSC 2016 diberi wewenang penuh mendatangkan pemain. Wiljan Pluim adalah pembelian terbaik Juku Eja. Mantan gelandang Vitesse Arnhem jadi ruh permainan PSM. Gocekan bola dan umpan terukurnya Pluim jadi andalan Juku Eja sekaligus jadi hiburan tersendiri yang mewarnai pentas Liga 1.

Berada di bawah asuhan Robert sebagai pelatih kepala, PSM selalu bertengger papan atas. Malah pada Shopee Liga 1 2018, Juku Eja nyaris juara dan hanya berselisih satu poin dengan peraih trofi, Persija Jakarta, yang mengoleksi 62 poin.

Hasil memuaskan ini membuat manajemen kembali menugaskan Robert membangun tim menghadapi Liga 1 2019. Tapi, setelah memberi rekomendasi nama-nama pemain ke manajemen, Robert tiba-tiba mengundurkan diri dengan alasan sakit. Belakangan, Robert diketahui menerima tawaran kontrak dari Persib Bandung.

Sebagai pengganti Robert, PSM mendatangkan Darije Kalezic (Swiss/Bosnia) yang ditopang oleh Bonnie Fautngil (Belanda) sebagai asisten. Darije yang baru kali pertama merasakan atmosfer sepak bola Indonesia dihadapkan oleh asa tinggi manajemen dan suporter PSM. Meski sulit karena menangani materi pemain bukan pilihan sendiri, Darije mampu membawa PSM meraih trofi juara Piala Indonesia.

Sementara itu, di pengujung kompetisi Shopee Liga 1 2019, Darije memutuskan mundur dari PSM. Begitupun Bonnie yang menerima tawaran Valencia (Spanyol) untuk menangani tim U-21. Peran Darije pun diganti oleh Bojan Hodak, pelatih dengan sederet gelar bersama klub di Malaysia plus membawa tim U-19 negeri jiran berjaya di Piala AFF U-19 tahun 2018.

Sayang, penghentian kompetisi akibat wabah COVID-19 membuat suporter PSM terpaksa menunggu hasil racikan Bojan. Sebelumnya dalam tiga partai awal Shopee Liga 1 2020, PSM belum tersentuh kekalahan dengan raihan lima poin.

5 dari 5 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer