Sukses


3 Faktor Pengganjal Timnas Indonesia jika Piala AFF 2020 Tetap Digelar

Bola.com, Jakarta - Pandemi virus corona COVID-19 yang menyerang seluruh dunia turut membuat pergelaran Piala AFF 2020 pada akhir tahun nanti belum bisa dipastikan tetap berlangsung atau turut dibatalkan seperti sejumlah agenda sepak bola lainnya. Namun, seandainya turnamen yang rencana digelar pada November dan Desember 2020 itu akhirnya digelar, Timnas Indonesia bakal menghadapi sejumlah kendala.

Sejumlah agenda olahraga level internasional maupun nasional yang seyogyanya digelar pada 2020 harus dibatalkan atau ditunda selama satu tahun ke depan. Olimpiade 2020 Tokyo misalnya. IOC memutuskan untuk menunda pesta olahraga internasional itu hingga 2021.

Sementara itu, sejumlah kompetisi sepak bola di dunia, baik di level domestik seperti Premier League, Serie A, La Liga dan Ligue 1 di Eropa, atau bahkan Thai League dan Liga 1 di Asia Tenggara, sempat terhenti. Sejauh ini Ligue 1 Prancis memutuskan menuntaskan kompetisi lebih awal dan menunjuk Paris Saint-Germain sebagai juara.

Penyerang Borussia Dortmund, Erling Haaland, melakukan selebrasi usai membobol gawang Schalke 04 pada laga Bundesliga di Stadion Signal Iduna Park, Sabtu (16/5/2020). Dortmund menang 4-0 atas Schalke 04. (AP/Martin Meissner)

Namun, Bundesliga Jerman melakukan hal berbeda dengan melanjutkan kompetisi dengan tanpa penonton. Hal yang sama juga terlihat di Korea Selatan. Sementara di Indonesia, PSSI selaku federasi sepak bola masih menunggu keputusan Pemerintah Indonesia terkait status darurat bencana.

PSSI berencana untuk melanjutkan kompetisi jika status darurat bencana COVID-19 yang ditetapkan pemerintah tidak diperpanjang dari 29 Mei. Namun, jika diperpanjang, PSSI berencana untuk membatalkan kompetisi dan muncul wacana untuk menggelar turnamen pengganti pada semester kedua 2020.

Hal yang berbeda dengan Thailand yang pada Kamis (21/5/2020) memutuskan untuk menggelar kembali turnamen Thai League mulai September mendatang. Itu pun dengan persiapan yang cukup panjang dan memastikan risiko menyelesaikan kompetisi pada pertengahan 2021.

Namun, bagi Thailand dan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara, hal yang paling ditunggu adalah perhelatan Piala AFF 2020 yang rencananya digelar 23 November hingga 31 Desember mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada pembahasan apakah kejuaraan antarnegara di Asia Tenggara itu akan dibatalkan atau tetap dilaksanakan.

Satu hal yang pasti dengan kondisi yang terjadi saat ini, akan cukup besar kendala yang dihadapi oleh Timnas Indonesia jika Piala AFF 2020 benar-benar digelar sesuai rencana. Berikut Bola.com meringkas 3 hal yang membuat Timnas Indonesia akan terganjal dalam kejuaraan dua tahunan di Asia Tenggara itu.

2 dari 5 halaman

Adaptasi Pelatih

PSSI baru saja menunjuk pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, menjadi pelatih Timnas Indonesia pada akhir Desember 2019. Pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu datang menggantikan Simon McMenemy yang dianggap gagal mengangkat performa Tim Garuda di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia.

Namun, baru menggelar pemusatan latihan Timnas Indonesia pada akhir tahun, segala agenda yang harusnya dijalani Timnas Indonesia harus terhenti karena pandemi virus corona. Mulai dari pemusatan latihan hingga agenda lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 pun tidak bisa berjalan sesuai jadwal.

Padahal saat pertama datang ke Indonesia, Shin Tae-yong mengeluhkan kondisi fisik para pemain terbaik milik Indonesia. Pelatih Korea itu ingin memperbaiki terlebih dulu fisik para pemain Indonesia untuk siap bersaing di level internasional. Namun, semua buyar karena pandemi yang hingga kini belum berakhir.

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, saat sesi latihan di Stadion Madya, Jakarta, Selasa, (18/2/2020). Untuk meningkatkan performa kiper, Shin Tae-yong menambah porsi waktu latihan. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Dengan sisa waktu tepat hanya enam bulan, jika dihitung dari artikel ini dibuat, Timnas Indonesia sebenarnya masih punya waktu yang cukup untuk bisa bersaing di Piala AFF 2020. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Alfred Riedl saat membentuk tim yang tampil di Piala AFF 2016.

Saat itu, Riedl ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia untuk ketiga kalinya setelah PSSI bebas dari sanksi FIFA. Dan hanya punya waktu sedikit untuk bisa mempersiapkan tim menuju Piala AFF 2016. Meski terkendala pelepasan pemain dari klub yang hanya mengizinkan maksimal dua pemain ke Tim Garuda, Riedl membawa Timnas Indonesia melangkah hingga partai final dan kalah oleh Thailand.

Secara timeline, mungkin yang dihadapi Shin Tae-yong tidak jauh berbeda dengan yang dihadapi Riedl. Namun, faktor kurangnya jam terbang pertandingan pada tahun ini membuat pemain akan makin sulit untuk mendapatkan potensi terbaik dari performanya di Timnas Indonesia.

Hal ini tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi Shin Tae-yong untuk mempersiapkan Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Apalagi, Shin Tae-yong baru kali ini menangani Timnas Indonesia, berbeda dengan Riedl yang pada 2016 sudah ketiga kalinya menangani Tim Garuda.

3 dari 5 halaman

Nasib Kompetisi yang Belum Jelas

Sejak dihentikan oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru pada pertengahan Maret 2020, hingga saat ini kompetisi sepak bola profesional di Indonesia, baik Shopee Liga 1 2020 maupun Liga 2 2020, belum bisa dipastikan kelanjutannya.

PT Liga Indonesia Baru belum lama ini meminta arahan dari federasi mengenai kemungkinan kompetisi tidak berlanjut setelah mengklaim sejumlah klub menyarankan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Bahkan wacana menggelar turnamen pengganti setelah pandemi COVID-19 berakhir sempat didengungkan.

Namun, hingga saat ini PSSI masih kukuh pendirian untuk menunggu langkah Pemerintah Indonesia dalam menyikapi tenggat waktu status darurat wabah penyakit yang sebelumnya ditetapkan hingga 29 Mei 2020. Dalam keputusan yang sudah dibuat, PSSI menegaskan nasib kompetisi bakal tergantung dari jangka waktu status darurat tersebut.

PSSI bakal melanjutkan kompetisi sepak bola Indonesia setelah 1 Juli 2020 jika Pemerintah Indonesia mencabut status darurat wabah penyakit pada 29 Mei mendatang. Namun, jika status darurat itu diperpanjang, PSSI rencananya akan memastikan kompetisi musim 2020 dibatalkan.

Dengan tidak adanya kompetisi sepak bola pada musim ini tentu membuat para pemain yang dipanggil Timnas Indonesia di Piala AFF 2020 bakal kekurangan menit bermain dan tidak dalam performa terbaik di kejuaraan tersebut.

Seandainya turnamen pengganti digelar pun pada semester kedua 2020, teknis pelaksanaannya hingga saat ini belum bisa dipastikan dan tentu akan memengaruhi program yang dibutuhkan pemain ketika harus memenuhi panggilan Timnas Indonesia.

 

4 dari 5 halaman

Rekam Jejak Edisi Terakhir

Setelah adaptasi pelatih dan jadwal kompetisi yang belum pasti, satu hal yang bisa menjadi kendala adalah bagaimana Timnas Indonesia bisa benar-benar bangkit setelah keterpurukan yang terjadi pada 2018. Pada Piala AFF 2018, Tim Garuda harus tersingkir di fase grup dan dianggap gagal total.

Saat itu, Timnas Indonesia dipegang oleh Bima Sakti, pelatih caretaker yang menggantikan Luis Milla yang kontraknya tidak diperpanjang setelah Asian Games 2018. Praktis, PSSI menunjuk Bima Sakti yang merupakan asisten dari Luis Milla sejak 2017, untuk menjadi pengganti.

Keberhasilan Luis Milla menyulap permainan Timnas Indonesia U-22 yang atraktif di SEA Games 2017 Kuala Lumpur dan Timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2018, membuat Bima Sakti cukup dipercaya bisa meneruskan hasil yang dibuat oleh pelatih asal Spanyol itu. Namun, Piala AFF yang notabene menjadi ajang pertemuan tim level senior, berbeda dengan SEA Games dan Asian Games.

Tergabung dalam Grup B bersama Thailand, Filipina, Singapura, dan Timor Leste, Timnas Indonesia menjalani kampanye yang berbeda dengan 11 edisi Piala AFF sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Piala AFF tidak menetapkan tuan rumah di fase grup, di mana setiap tim akan menjalani dua laga kandang dan dua laga tandang saat menghadapi empat tim lawan di fase grup.

Para pemain Timnas Indonesia foto bersama sebelum melawan Timor Leste pada laga Piala AFF 2018 di SUGBK, Jakarta, Selasa (13/11). Indonesia menang 3-1 atas Timor Leste. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Sebagai pembuka Timnas Indonesia bertandang ke Stadion Nasional Kallang untuk menghadapi Singapura. Tim asuhan Bima Sakti itu harus pulang dengan tangan hampa setelah kalah 0-1.

Namun, kemenangan berhasil diraih Tim Garuda ketika menjamu Timor Leste di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada laga kedua. Alfath Faathier, Stefano Lilipaly, dan Alberto Goncalves, membawa Timnas Indonesia menang 3-1 atas Timor Leste.

Modal kemenangan di kandang itu menjadi motivasi Timnas Indonesia saat harus menjalani lagi laga tandang di pertandingan ketiga. Kali ini, Tim Garuda harus bertandang ke Stadion Rajamangala, Bangkok, untuk menghadapi Thailand. Sayang keunggulan berkat gol Zulfiandi pada menit ke-29 tidak berhasil dieprtahankan. Timnas Indonesia kembali pulang dengan tangan hampa setelah kalah 2-4 dari Thailand dalam laga tersebut.

Timnas Indonesia pun makin kesulitan ketika dalam waktu istirahat, di mana empat tim lainnya bertanding, Filipina mampu menahan imbang Thailand dan Singapura menang telak 6-1 atas Timor Leste. Tim Garuda sudah tak punya peluang.

Laga terakhir fase grup yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, di mana Tim Garuda menghadapi Filipina, diharapkan bisa menjadi pelipur lara. Timnas Indonesia setidaknya harus menang di hadapan pendukungnya, yang kemudian gagal untuk diwujudkan karena kedua tim bermain imbang tanpa gol.

Kegagalan menembus semifinal di Piala AFF 2018 terasa memalukan karena Timnas Indonesia sebenarnya tidak ada kendala dalam mempersiapkan tim pada tahun itu. Berbeda dengan yang dialami Timnas Indonesia di Piala AFF 2016, di mana mereka mampu mencapai final meski persiapannya minim lantaran PSSI baru lepas dari sanksi FIFA pada tahun tersebut.

5 dari 5 halaman

Video

Cara Latihan Refleks Kiper Muda Arema FC, Andriyas Francisco di Dalam Rumah

Video Populer

Foto Populer