Sukses


Pesona Gavin Kwan Adsit, Fenomena Langka Bisa Bermain di 5 Posisi Sekaligus

Bola.com, Jakarta - Gavin Kwan Adsit merupakan pemain yang unik. Pemain asal Bali itu dibekali kemampuan yang luar biasa, yakni bisa bermain di berbagai posisi.

Pemain blasteran Amerika Serikat-Bali itu mengawali karier setelah lulus dari akademi Villa 2000 pada 2012. Pemain berusia 24 tahun itu kemudian berkarier di Eropa dengan memperkuat CFR II Cluj (Romania) dan Niendorfer TSV (Jerman).

Pada awal kariernya, Gavin Kwan merupakan pemain yang dimainkan sebagai penyerang. Namun, perlahan posisi tersebut ditinggalkannya ketika kembali ke Indonesia dengan bergabung bersama Borneo FC.

Gavin diberi posisi baru, yakni bermain di posisi bek kanan dan tetap menjadi penyerang ketika membela tim Borneo U-21. Kedua peran tersebut dijalani Gavin dengan gemilang.

Pengalaman Gavin di posisi lainnya kemudian bertambah ketika bergabung dengan Barito Putera. Pemain berpostur 180 cm tersebut diberi posisi sebagai sayap kanan dan juga penyerang.

Sementara itu, di Timnas Indonesia Gavin mendapatkan posisi bek kanan. Menjadi pemain yang andal saat menyerang dan bertahan tentu sangat jarang ditemui pada dewasa ini.

Bek Timnas Indonesia, Gavin Kwan, berusaha mengirim umpan saat melawan Timor Leste pada laga Piala AFF 2018 di SUGBK, Jakarta, Selasa (13/11). Indonesia menang 3-1 atas Timor Leste. (Bola.com/Yoppy Renato)

Namun, semuanya ternyata ada dalam diri Gavin Kwan. Hal itulah yang membuat Gavin bisa diandalkan di posisi manapun ketika mendukung skema permainan pelatih.

Gavin mengaku sebenarnya lebih nyaman bermain sebagai penyerang. Akan tetapi, dirinya siap bermain di posisi apa pun jika mendapatkan kepercayaan pelatih.

"Sebenarnya saya lebih nyaman bermain di depan. Akan tetapi, mau ditempatkan di mana pun saya siap. Menyesuaikan dengan kebutuhan tim dan terpenting berkontribusi untuk tim," kata Gavin.

Meski demikian, Gavin sadar setiap posisi yang dimainkan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Contohnya adalah ketika dimainkan sebagai penyerang maka peluang mencetak gol lebih besar, namun jarang mendapatkan bola.

"Kalau menjadi penyerang, kesempatan mencetak gol lebih besar, tapi jarang mendapatkan bola. Sementara kalau menjadi pemain sayap atau bek, saya lebih sering mendapakan bola, akan tetapi kesempatan mencetak golnya sedikit," ujar Gavin.

Selain bek kanan, sayap kanan, dan penyerang, Gavin Kwan Adsit juga bisa dimainkan sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan. Inilah yang membuat pemain seperti Gavin sangat langka di Indonesia.

2 dari 4 halaman

Berbeda-beda Posisi di Bali United

Gavin Kwan Adsit membuat gebrakan dengan bergabung dengan Bali United pada pengujung 2019. Kemampuan bermain di berbagai posisi diyakini sebagai satu dari beberapa alasan pelatih Stefano Cugurra Teco mau merekrut Gavin.

"Dalam sepak bola modern, pemain harus bisa bermain dalam beberapa posisi. Bisa dua atau tiga," kata Teco.

Tantangan yang diberikan Teco dijawab dengan penuh keyakinan oleh Gavin. Menurutnya, di mana pun posisi yang diberikan pelatih maka dia akan bersungguh-sungguh memberikan penampilan maksimal.

"Tentunya saya siap di posisi manapun. Kontribusi tim menujukkan performa, bersatu agar semua lancar. Kemauan saya dan ambisi saya sangat tinggi untuk menjadi juara," tegas Gavin.

Gavin Kwan sejauh ini baru bermain sebanyak 6 kali bersama Bali United di semua kompetisi. Gavin dipercaya tiga kali bermain sebagai pemain sayap dan tiga kali sebagai bek kanan.

3 dari 4 halaman

Jejak Karier

Nama Gavin Kwan Adsit mulai dikenal luas publik sepak bola Indonesia sejak tergabung dalam proyek Indra Sjafri yang mengejar tampil di Piala Dunia U-20 pada periode 2012-2013 silam.

Meski mimpi tersebut tak tercapai, Gavin mendapatkan berkah tersendiri dari salah satu agenda persiapan sang pelatih. Ia tampil gemilang di sebuah turnamen usia muda yang bertajuk Hong Kong Jockey Club (HKJC) bersama Timnas Indonesia U-18. Indonesia saat itu keluar sebagai juara dan Gavin terpilih menjadi salah satu pemain terbaik.

Secara mengejutkan Gavin memutuskan untuk menimba ilmu di Eropa untuk bergabung dengan skuat junior CFR Cluj di Rumania. Ia harus kehilangan kesempatan membela Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-19 2013 dan Kualifikasi Piala AFC U-19 2014.  Indra Sjafri sempat melontarkan kekecewaan, walau bisa memahami keputusan salah satu pemain binaannya tersebut.

"Gavin sudah dewasa ia tahu pilihannya. Saya tidak mungkin mengistimewakan seorang pemain. Saat ia tidak bisa ikut pelatnas jangka panjang, konsekuensinya ia tidak jadi bagian dari timnas," kata Indra.

Gavin sadar pilihannya akan memunculkan konsekuensi negatif. "Tapi saya sudah bulat dengan pilihan saya. Ini demi karier saya juga," katanya.

Tak lama bermain di Cluj, Gavin pindah ke klub Jerman, TSV Niendorfer, untuk bergabung dengan skuat U-19 mereka. Pemain kelahiran 5 April 1996 ini lalu memutuskan untuk kembali ke Tanah Air, pada awal tahun 2015 demi memulai karier profesionalnya di level senior hingga saat ini.

4 dari 4 halaman

Video

Bima Sakti Jelaskan Latihan Timnas Indonesia U-16 yang Berbeda di Tengah Pandemi COVID-19

Video Populer

Foto Populer