Sukses


Kilas Balik 3 Musim Terakhir Era Perserikatan, Diwarnai Persaingan Sengit Persib dan PSM

Bola.com, Makassar - PSM Makassar dan Persib Bandung sama-sama memiliki tradisi yang baik di pentas sepak bola Indonesia. Terutama di era Perserikatan. Pertemuan dua tim dengan karakter berbeda ini kerap menyajikan tontonan permainan yang sengit dan menarik.

Maung Bandung mengandalkan permainan bola pendek satu atau dua sentuhan di daerah pertahan lawan untuk berbuah gol. Sedang Juku Eja tampil militan dengan karakter keras dan cepat. Karakter berbeda ini melekat kental dalam tim karena mereka sama-sama diperkuat pemain putra daerah. Rivalitas kedua tim ini juga mewarnai tiga musim terakhir era Pererikatan yakni pada 1989-1990, 1991-1992 dan 1993-1994.

Pada musim 1989-1990, Persib Bandung dan PSM Makassar bertemu di semifinal yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 8 Maret 1990. Sejak awal tensi pertandingan sudah tinggi. Tekel keras dan saling dorong antarpemain kerap terjadi.

Puncaknya, ketika bek kiri Persib, Ade Mulyono, ditekel oleh gelandang PSM, Ansar Razak. Tak terima diterjang Ansar, Ade bereaksi. Adu mulut dan saling dorong terjadi kemudian berujung ke baku hantam antarpemain kedua tim. Suasana mereda setelah aparat kepolisian turun tangan untuk melerai perkelahian.

Adu hantam antara pemain Persib Bandung dan PSM Makassar dalam semifinal kompetisi Perserikatan 1989-1990. (Bola.com/Abdi Satria)

Persib akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 3-0. Derita PSM pun kian lengkap menyusul sanksi skorsing dari PSSI buat empat pemainnya. Masing-masing Hasanudin Baso (larangan setahun bermain), Ansar, Basri (larangan lima tahun bermain), dan Alimuddin (larangan enam bulan bermain). Persib akhirnya meraih trofi juara setelah mengalahkan Persebaya Surabaya 2-0, 11 Maret 1990.

Eks pelatih PSM, Syamsuddin Umar yang menyaksikan pertandingan itu dari tribune penonton mengaku prihatin.

"Saat itu, saya sedang dinas ke Jakarta sebagai pegawai Dispenda Sulsel. Ada rasa miris mendengar teriakan dan ejekan suporter Persib. Tapi, itulah sepak bola. Saya pun bertekad membalas kekalahan itu kalau mendapat kesempatan menangani PSM," ungkap Syamsuddin dalam buku biografinya, 'Bola itu Bundar'.

Syamsuddin mewujudkan tekadnya itu pada musim berikutnya. Syamsuddin yang baru pulang menimba ilmu kepelatihan di Brasil pada 1991 meerima tawaran Ketua Umum PSM, Suwahyo, yang juga Walikota Makassar.

Langkah Syamsuddin bersama skuatnya awalnya tak mudah. Memadukan pemain hasil kompetisi internal PSM dengan eks Makassar Utama tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terseok-seok di penyisihan Wilayah Timur, PSM akhirnya lolos ke enam besar di Stadion Gelora Bung Karno dengan bertengger di peringkat tiga. Dua tim teratas Wilayah Timur adalah Persebaya Surabaya dan Persegres Gresik.

Pada babak 6 Besar, PSM pun lolos ke semifinal tanpa kemenangan di Grup 2. Juku Eja lolos setelah bermain imbang dengan PSMS Medan (0-0) dan Persegres Gresik (1-1). PSM ke empat besar mendampingi PSMS yang menjadi juara Grup 2.

Pada babak semifinal, PSM bertemu dengan seterunya, Persib. Maung Bandung yang berstatus juara bertahan lebih dijagokan memenangkan pertandingan. Kalah materi pemain membuat Syamsuddin memilih realistis saat membuat strategi. Ia memainkan pola 3-6-1 dengan lebih mengandalkan serangan balik yang cepat.

"Saya sengaja menumpuk enam pemain di lini tengah untuk mengimbangi Persib," terang Syamsuddin.

Dari enam pemain di lini tengah, empat di antaranya lebih difokuskan membantu lini belakang. Sedang dua penyerang sayap, Alimuddin Usman dan Yusrifar Djafar bertugas ganda. Selain membantu pertahanan, Alimuddin dan Yusrifar harus melepaskan umpan daerah ke striker tunggal, Kaharuddin Jamal yang dijaga ketat oleh menara kembar Robby Darwis dan Yadi Mulyadi plus libero Adeng Hudaya.

Strategi ini efektif. PSM mampu membalikkan prediksi dengan mengalahkan Persib Bandung dengan skor 2-1. Dua gol PSM dicetak Alimuddin dan Kaharuddin. Sedang gol Persib tercipta lewat tendangan penalti Robby Darwis.

PSM Makassar saat menjadi juara kompetisi Perserikatan 1991-1992. (Bola.com/Abdi Satria)

PSM akhirnya meraih trofi juara setelah mengalahkan PSMS 2-1 pada laga final di Stadion Gelora Bung Karno, 27 Februari 1992. Pada laga ini, PSM unggul lebih dulu unggul lewat gol Jefry Dien pada menit 13. Tendangan spekulasi berjarak 18 meter itu tidak mampu diselamatkan Sisgiardi, penjaga gawang PSMS.

Setelah kegagalan Suharto (PSMS) mengeksekusi tendangan penalti pada menit ke-31 karena melebar, PSMS akhirnya bisa membalasnya melalui gol Azwardin Lubis pada menit 62. Skor 1-1 pun bertahan hingga pluit panjang berbunyi. Menjelang perpanjangan waktu 2 x 15 menit, Syamsudin Umar memasang Mustari Ato yang menjadi pahlawan PSM ketika mencetak gol pada menit ke-91.

 

2 dari 3 halaman

Final 1994

Musim 1993-1994 merupakan era terakhir Perserikatan. PSSI memutuskan menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia. Duel Persib Bandung dengan PSM Makassar terjadi pada laga final di Stadion Gelora Bung Karno, 17 April 1994.

Sebelum ke final, Persib dan PSM sudah bertemu di 8 Besar. Mereka tergabung di Grup K bersama PSIR Rembang dan Persiraja Banda Aceh. Pertemuan keduanya di babak ini berakhir imbang tanpa gol.

Persib ke semifinal dengan status juara grup, sedang PSM menjadi runner-up. Pada babak semifinal, Persib menyingkirkan Persija Jakarta lewat adu penalti 5-4. Sementara PSM mengalahkan Persebaya 1-0.

Sayang di laga final seperti jadi anti klimaks buat PSM. Persib tampil dominan dan memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. Syamsuddin pun memuji penampilan Persib.

"Persib memang pantas juara karena materi pemain mereka lebih baik. Strategi serangan balik PSM juga tidak efektif berjalan," terang Syamsuddin.

3 dari 3 halaman

Video

Wawancara Elkan Baggott

Video Populer

Foto Populer