Sukses


Serba Pertama PSIS dalam Angka: Dari Era Kolonial hingga Fase Perdana Pemain Asing

Bola.com, Semarang - Sejarah sepak bola di Semarang sangat panjang, jauh sebelum Indonesia merdeka. Keberadaan PSIS Semarang menjadi identitas yang mewakili sepak bola dari kota Lunpia itu.

Dalam perjalanannya, PSIS mampu mendatangkan prestasi dan kebanggaan bagi Ibu Kota Jateng itu.

Selain itu, banyak pemain besar yang lahir di klub ini. Meski pernah mengalami pasang surut, PSIS tidak dapat dilupakan sebagai poros sepak bola Indonesia.

PSIS juga melahirkan euforia sepak bola di Semarang, dengan adanya dua suporter besar, Panser Biru dan SneX.

Melihat sejarah panjang yang dilalui klub dengan warna kebesaran biru ini, PSIS bukan tim kemarin sore. Terutama momentum atau peristiwa yang menjadi cerita bersejarah.

Berbicara catatan dalam angka, terdapat fakta menarik yang patut disimak. Kali ini Bola.com menyajikan sejumlah catatan dan fakta menarik tentang PSIS dalam angka serba pertama.

2 dari 6 halaman

1932

Wilayah Semarang tidak lepas dari pengaruh kekuasan kolonial Belanda. Beberapa bangunan bersejarah yang dulu milik pemerintah kolonial, tersebar di kota ini. Perusahaan kereta api pertama kali dibangun oleh Belanda di Semarang.

Semarang sama dengan wilayah lain yang memiliki bond atau klub sepak bola zaman Belanda. Meski tidak masuk daftar tujuh klub pendiri PSSI, sepak bola semarang sudah eksis pada zaman itu.

Selain itu, banyaknya orang keturunan Tionghoa yang ada di Semarang ikut membangun sepak bola di sana. Untuk kalangan penduduk pribumi, mereka membentuk Tots Ons Doel (TOD) yang didirikan pada 23 Mei 1928, bermarkas di Tanggul Kalibuntang.

Dalam perjalanannya, Tots Ons Doel berganti nama menjadi Sport Stal Spieren (SSS). Tim inilah yang kemudian menjadi cikal bakal PSIS Semarang. Setelah berdirinya PSSI pada tahun 1930, lahirlah Persatuan Sepak bola Indonesia Semarang (PSIS) pada 18 Mei 1932.

3 dari 6 halaman

1987

PSIS Semarang menorehkan masa kejayaan pada 1987 dengan meraih juara Perserikatan setelah menumbangkan Persebaya Surabaya di Stadion Utama Senayan Jakarta.

Pertandingan melawan Persebaya, yang merupakan musuh bebuyutan PSIS, berjalan dalam tempo yang tinggi dan ketat. Sebuah gol akhirnya tercipta pada menit ke-77 dari aksi Saiful Amri yang memanfaatkan umpan tarik Budi Wahyono. Penjaga gawang Persebaya, Putu Yasa hanya mampu menyaksikan gawangnya bobol.

Nama PSIS semakin melambung. Setelah menjuarai Perserikatan, Mahesa Jenar menyumbang pemain yang akhirnya mampu mengharumkan nama bangsa.

Ribut Waidi menjadi penentu kemenangan Timnas Indonesia saat menjuarai SEA Games 1987 di Jakarta. Gol tunggalnya ke gawang Malaysia membawa Indonesia menyabet medali emas.

4 dari 6 halaman

1999

21 tahun lalu, atau pada 9 April 1999, PSIS kembali menjadi tim terbaik di Tanah Air. Mahesa Jenar menjuarai Ligina 1998/1999 dengan mengalahkan Persebaya Surabaya pada partai final.

Hal yang menarik adalah kompetisi tahun 1999 adalah untuk pertama kalinya Liga Indonesia dilanjutkan, setelah tahun sebelumnya dinyatakan force majeure akibat suasana politik di Indonesia.

Perjalanan PSIS disebut seperti Denmark di Piala Eropa 1992. Tidak ada yang memprediksi PSIS bakal keluar sebagai juara, karena cukup kesulitan sejak fase penyisihan grup, babak 10 besar, hingga fase gugur.

Menariknya, PSIS selalu bertemu Persebaya di setiap fase yang sekaligus rival abadinya. Di atas kertas, Persebaya lebih diunggulkan. Karena memiliki materi pemain yang mentereng seperti Aji Santoso, Hendro Kartiko, Uston Nawawi, Bejo Sugiantoro, hingga Eri Irianto.

Namun gol semata wayang Tugiyo berhasil membuat PSIS menjuarai kompetisi tertinggi Indonesia untuk kedua kalinya. 

5 dari 6 halaman

1995

PSIS Semarang mengarungi Ligina di musim 1995 dengan warna yang berbeda, yakni dengan adanya sosok pemain asing yang mulai memperkuat Mahesa Jenar.

Dua pemain asal Brasil, Arliston de Oliviera dan Wellington Reis. Mereka merupakan pemain asing pertama yang pernah memperkuat PSIS.

Kiprah mereka bersama PSIS cukup moncer, terutama Arliston de Oliviera yang menjadi striker mematikan. Arliston menempati peringkat lima pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk PSIS, dengan 29 gol.

Setelah era Arliston de Oliviera, PSIS memiliki sederet pemain asing terutama para striker hebat, dari Julio Lopez, Emanuel De Porras, dan saat ini Bruno Silva.

6 dari 6 halaman

Video

Timnas Indonesia Gelar Latihan Perdana Dengan Protokol Kesehatan yang Ketat

Video Populer

Foto Populer