Sukses


Soetjipto Soentoro dan 5 Penyerang Hebat yang Pernah Dimiliki Timnas Indonesia

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia tidak pernah kehabisan penyerang hebat di tiap eranya. Mulai dari Soetjipto Soentoro hingga Boaz Solossa.

Soetjipto adalah pemegang rekor pemain tersubur dengan seragam logo Garuda di dada. Mantan pemain kelahiran Bandung, 16 Juni 1941 itu membukukan 57 gol selama lima tahun berseragam Timnas Indonesia.

Rekor tersebut bertahan sampai saat ini. Tidak satupun yang mampu memecahkannya, bahkan Bambang Pamungkas, penyerang abadi Timnas Indonesia, sekalipun.

Sebanyak 57 gol itu dicetaknya hanya dalam 68 pertandingan. Pemain yang karib dipanggil Gareng itu membela Timnas Indonesia pada kurun waktu 1965-1970.

Jika Soetjipto melambangkan penyerang berbahaya Timnas Indonesia era 1960-an, lalu siapa lagi striker mematikan yang mewakili di era lainnya? Berikut lima di antaranya:

2 dari 7 halaman

Andi Ramang (1950-an)

Pria kelahiran Barru, Sulawesi Selatan, pada 24 April 1924, merupakan pesepak bola hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Ia meraih banyak kesuksesan bersama klubnya, PSM Makassar, dulu bernama Makassar Voetbal Bond, dan juga Timnas Indonesia.

Sukses di level klub, Ramang makin berkibar di pentas internasional bersama Timnas Indonesia. Sejarah mencatat, Ramang pernah membuat kiper legendaris Uni Soviet, Lev Yashin, pontang-panting dalam mengawal gawangnya.

Momen itu terjadi pada Olimpiade Melbourne 1956. Seperti dimuat situs FIFA, Ramang membuat bek Uni Soviet dan sang kiper, kewalahan. Indonesia pun berhasil menahan Rusia 0-0 walau akhirnya takluk 0-4 dalam laga ulangan.

Ramang melakoni debut bersama Timnas Indonesia pada 1952. Pemain yang terkenal punya kecepatan di atas rata-rata itu rutin mencetak gol sejak saat itu. Hebatnya lagi, ia mengemas 19 gol hanya dalam 6 laga.

Ia juga mencetak dua gol yang jadi perbincangan hangat via tendangan salto. Tak cukup sampai dis itu, Ramang berperan besar atas sukses Timnas Indonesia menyingkirkan China di Kualifikasi Piala Dunia 1958, menang 4-1 atas Indonesia (Asian Games 1958), dan imbang melawan Jerman Timur 2-2 pada 1959.

3 dari 7 halaman

Ricky Yakobi (1980-an)

Semasa aktif, Ricky Yakobi merupakan striker andalan Timnas Indonesia pada era 1980-an. Ia memperkuat skuat Garuda mulai 1985 hingga 1991.

Prestasi terbaik mantan pemain PSMS Medan dan Arseto Solo itu adalah membawa Tim Merah-Putih meraih medali emas SEA Games 1987. Ricky mencetak satu gol kala mengalahkan Burma (sekarang Myanmar) dengan skor 4-1 di semifinal.

Dalam laga final, Timnas Indonesia menang tipis atas Malaysia via gol Ribut Waidi. Ricky dkk. berhasil memberikan medali emas SEA Games pertama bagi Indonesia dari cabang sepak bola.

Satu momen yang tak terlupakan dari sosok Ricky adalah gol indahnya ke gawang Uni Emirat Arab di Asian Games 1986. Pengoleksi dua gelar top scorer Galatama membuat publik terpukau dengan dengan voli jarak jauh yang bersarang ke gawang lawan.

Setelah Asian Games, Ricky menjajal peruntungan dengan bermain di luar negeri bersama klub asal Jepang, Matsushita FC (sekarang Gamba Osaka). Pria yang kini berusia 53 tahun menjadi pemain pertama yang bermain di kompetisi Negeri Sakura itu.

Sayangnya, karier Ricky bersama Matshushita tidak berjalan mulus. Ia jarang turun bermain karena lebih banyak diterpa cedera. Meski begitu, Ricky pernah berujar bahwa pengalaman bermain di luar negeri membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan tidak gampang menyerah.

4 dari 7 halaman

Kurniawan Dwi Yulianto (1990-an)

Kurniawan Dwi Yulianto, pemain jebolan program pelatnas jangka panjang di Italia berlabel PSSI Primavera ini dianugerahi bakat besar. Kurus, sapaan akrabnya, memiliki insting mencetak gol yang tinggi dan kecepatan di atas rata-rata.

Kelebihan itu pula yang membuat pemain yang kerap gonta-ganti klub begitu sulit dihadang bek-bek lawan. Berkat kehebatannya pula, Kurniawan sempat mencicipi persaingan di kompetisi Eropa bersama klub Swiss, FC Luzern (1994-1995).

Mantan pemain Pelita Jaya dan PSM Makassar itu memakai kostum Timnas Indonesia dari 1995 sampai 2006. Dalam rentang waktu itu, ia berhasil mencetak 31 gol. Koleksi gol yang membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak ketiga terbanyak di bawah Soetjipto Soentoro dan juniornya, Bambang Pamungkas.

Meski begitu, karier Kurniawan tak lepas dari sisi kelam. Pemain yang pernah memperkuat klub Malaysia, Sarawak FA, itu sempat mengalami masa sulit karena mengonsumsi narkoba.

Beruntung, Kurniawan bisa bangkit dan mengembalikan kariernya yang sempat meredup. Hingga kini, nama Kurniawan pun masih harum bagi pencinta sepak bola di Tanah Air.

5 dari 7 halaman

Bambang Pamungkas (2000-an)

Bambang Pamungkas melakoni laga debut bersama Timnas Indonesia pada 2 Juli 1999. Kala itu, Bepe, sapaan akrabnya, mencetak sebuah gol saat Tim Merah Putih bermain imbang 2-2 dengan Lituania.

Sejak debutnya itu, karier Bambang begitu akrab dengan gol. Prestasi juga diukirnya pada gelaran Piala AFF dengan merengkuh gelar top scorer pada edisi 2002.

Ia mencetak 8 gol dari 6 pertandingan. Namun, Bambang tidak mampu memberikan gelar juara bagi Indonesia lantaran harus puas mengakhiri turnamen sebagai runner-up. Dalam laga final, Indonesia kalah adu penalti dari Thailand dengan skor 2-4 (2-2).

Pemain yang memiliki kelebihan dalam duel udara itu masih menjadi pemain yang memegang caps terbanyak Timnas Indonesia. Pemain yang memutuskan pensiun dari Tim Merah Putih pada 2013 mengoleksi 87 caps dan 38 gol.

6 dari 7 halaman

Boaz Solossa (2010-an)

Nama pemain bernama lengkap Boaz Theofilius Erwin Solossa tampil memukau dalam kiprah pertamanya bersama Timnas Indonesia di Piala AFF 2004. Kala itu, adik dari Ortizan dan Nehemia Solossa itu langsung disebut sebagai bocah ajaib.

Julukan itu diberikan karena penampilan impresif Boaz bersama Tim Merah-Putih. Padahal, saat itu Bochi, sapaan akrabnya, belum genap berusia 20 tahun.

Sepanjang turnamen tersebut, Boaz tak henti membuat publik berdecak kagum. Kapten Persipura Jayapura itu mengakhiri turnamen Piala AFF pertamanya dengan mencetak 4 gol atau terpaut 3 gol dari striker berpengalaman, Ilham Jaya Kesuma.

Seusai tampil apik di Piala AFF, karier Boaz terus menanjak dan selalu menjadi pilihan pelatih Timnas Indonesia. Namun, cedera patah kaki saat melawan Hong Kong sempat membuat sinar Boaz meredup.

Saat Timnas Indonesia diarsiteki Jacksen Tiago, Boaz sempat dipercaya menjadi kapten tim. Ia juga mencetak satu-satunya gol Timnas Indonesia kala takluk 1-8 dari Uruguay pada 2010.

Namun, era Boaz di Timnas Indonesia telah berakhir. Panggilan terakhirnya terjadi pada 2018 lalu. Selain karena faktor usia, Boaz kalah bersaing dari para penyerang naturalisasi semodel Ilija Spasojevic dan Alberto Goncalves.

Selama 14 tahun membela Timnas Indonesia, Boaz tampil dalam 48 laga. Dari jumlah itu, ia membukukan 14 gol.

7 dari 7 halaman

Video

Timnas Indonesia Gelar Latihan Perdana Dengan Protokol Kesehatan yang Ketat

Video Populer

Foto Populer