Sukses


Program Pembinaan dan Latihan Timnas Indonesia Junior ala Fakhri Husaini

Bola.com, Jakarta - Sebagai legenda Timnas Indonesia, Fakhri Husaini tidak hanya pernah sukses sebagai pemain saja. Ia juga punya prestasi mentereng sebagai pelatih Timnas Indonesia kelompok usia.

Saat aktif sebagai pemain, Fakhri begitu akrab dengan posisi gelandang skuad Garuda pada era 90-an, trmasuk mengantarkan Timnas Indonesia meraih medali perak SEA Games 1997.

Ia lalu merintis karier sebagai pelatih sejak memutuskan gantung sepatu. Kariernya sebagai pelatih meroket dengan ditunjuk menangani Timnas Indonesia U-16 dan U-19 sejak 2015.

Prestasi tertingginya adalah membawa Garuda muda U-16 menjuarai Piala AFF U-16 di Sidoarjo tahun 2018. Lantas ia sempat mengantarkan Timnas Indonesia melaju ke perdelapan final ajang Piala Asia U-16 di Kuala Lumpur pada tahun 2018.

Sayangnya, perjalanan tim Merah-putih kala itu harus dihentikan Australia. Kekalahan yang sekaligus membuat langkah Timnas Indonesia U-16 gagal melaju ke Piala Dunia U-17 2019.

Skuad yang dibentuknya cukup mumpuni dengan memiliki pemain-pemain terpilih. Sebut saja Ernando Sutaryadi, Bagas Kaffa, Komang Teguh, David Maulana, Byrlian Aldama, Supriadi, dan Bagus Kahfi. Mayoritas pemain timnya tersebut kini masuk skuat Timnas Indonesia U-19 di bawah naungan Shin Tae-yong.

Fakhri Husaini harus berpisah dari Timnas Indonesia kelompok usia yang sudah dibangunnya. Ia menolak posisi sebagai asisten pelatih Timnas Indonesia U-19, yang dikepalai Shin Tae-yong sejak Januari lalu.

 

2 dari 4 halaman

Program Pembinaan

Belum lama ini Fakhri Husaini membeberkan program pembinaan dan latihan yang dibentuknya saat masih menangani Timnas Indonesia junior. Banyak hal yang ia ungkapkan dalam perjalanannya membangun Timnas Indonesia di kelompok usia yang begitu matang.

"Timnas Indonesia U-16 ke level dunia, saat saya bertugas dulu. Di tahun 2014 saya sudah ditunjuk membesut Timnas U-16 dan U-19. Menyusun program kerja dengan standar yang tinggi. Otomatis semua harus mengikuti standar itu," ungkap Fakhri Husaini saat berbincang di kanal YouTube Garuda Nusantara.

Kedisiplinan di berbagai sektor diakuinya menjadi kunci utama meraih kesuksesan bagi tim sepak bola Indonesia. Fakhri membeberkan sejumlah persyaratan khusus ketika ditunjuk sebagai pelatih Timnas U-16 dan U-19 saat itu.

"Kenapa kita sulit melakukan, sementara negara lain bisa. Tidak cukup memperbaiki beberapa namun seluruh aspek.Teknik, taktik, fisik, dan mental harus terpenuhi untuk sebuah tim. Kami memang belum menembus Piala Dunia, tapi di perdelapan final Piala Asia 2016, kalah dari Australia, hanya tinggal selangkah lagi menembus Piala Dunia," certia Fakhri Husaini.

"Yang saya lakukan saat mendapat tugas menjadi pelatih adalah memilih asisten pelatih dan staf, karena penting keberlanjutan dan kenyamanan saya bekerja adalah siapa yang mendampingi. Memilih orang yang tepat membantu kerja saya," ungkapnya.

"Saya minta ke PSSI bahwa harus diberikan otoritas membangun skuat tim pelatih atau para asisten. Tidak ada intervensi, meski saya akan menampung usulan. Saya perlu diberikan keleluasaan," lanjut eks pemain PKT Bontang itu.

3 dari 4 halaman

Cari Pemain ke Seluruh Pelosok Negeri

Tahapan berikutnya adalah Fakhri Husaini harus menyusun rencana kerja. Ia mengaku harus memperhitungkan waktu sampai piala AFF U-18 dan Piala Asia 2018. 

Kemudian hal yang paling penting adalah saat mencari pemain pilihan melalui seleksi. Tidak mudah mencari pemain terbaik, melihat luasnya negara Indonesia dan banyaknya potensi pemain dari berbagai daerah.

Saat menjadi pelatih Timnas Indonesia U-16, program pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia belum berkembang seperti sekarang. Belum ada kompetisi Elite Pro Academy (EPA) yang dikembangkan oleh PSSI.

Praktis, saat itu Fakhri Husaini menjaring pemain dengan memantau kompetisi seperti Piala Soeratin, turnamen dari Kemenpora, hingga kompetisi usia dini oleh perusahaan swasta.

"Seleksi pemain, tidak mudah di Indonesia. Karena kita tidak punya kompetisi sepak bola usia muda yang baik dan benar, Elite Pro Academy baru muncul satu tahun terakhir, setelah adanya era Bagas-Bagus. Saya meminta menyiapkan 33 pemain terbaik di setiap Asprov PSSI seluruh Indonesia," tutur Fakhri Husaini.

"Tidak semua Asprov menjawab surat PSSI, ada sekitar 70 persen saja. Karena beberapa Asprov tidak melakukan fungsi kerja lewat kompetisi usia muda," kata pria asal Aceh tersebut.

Program terakhir yang dilakukan ketika di Timnas Indonesia adalah periodesasi latihan. Dalam kurun waktu, waktu dua bulan ia harus membuat, program yang terisolasi. Baik persiapan umum dan khusus, termasuk kaitannya dengan siswa yang harus sekolah.

"Ada yang sifatnya isolasi dan holistik. Itu yang akan menentukan nilai seorang pemain. Kalau mau dibayar mahal, ya harus mengikuti itu, bukan hanya perbanyak follower di media sosial, tidak ada di tim saya pemain seperti itu," jelas Fakhri Husaini.

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer