Sukses


Cristian Gonzales dan 5 Pemain Nomor 10 Terbaik di Liga Indonesia

Bola.com, Jakarta - Dalam dunia sepak bola, nomor punggung 10 biasanya diberikan kepada pemain yang bisa memberikan dampak signifikan di klub. Hal itu juga berlaku di Liga Indonesia sejak dulu sampai saat ini.

Nomor punggung 10 biasanya digunakan pemain yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Biasanya, nomor ini digunakan kepada penyerang yang haus gol maupun kreator serangan di lini tengah dan depan.

Banyak pemain legendaris yang dikenal menggunakan nomor punggung 10. Sebut saja Diego Maradona, Roberto Baggio, Pele, hingga Lionel Messi yang masih aktif bermain.

Jadi, tak sembarang pemain bisa memilih untuk menggunakan nomor punggung 10. Selain karena faktor-faktor di atas, nomor punggung 10 juga sering dikeramatkan dalam sepak bola.

Hal itulah yang membuat nomor 10 memiliki beban tersendiri buat penggunanya. Namun, jika bisa dimaksimalkan dengan penampilan di lapangan, pemain dengan nomor punggung 10 biasanya akan menjadi magnet buat para suporter.

Bola.com mencoba mengerucutkan nama-nama pemain yang pernah berkarier di Liga Indonesia dan identik dengan nomor punggung 10. Tanpa bermaksud untuk mengecilkan nomor punggung lainnya, berikut deretan pemain yang sukses menggunakan nomor punggung 10 di Liga Indonesia versi Bola.com.

2 dari 8 halaman

Cristian Gonzales

Predikat apa yang cocok untuk melabeli Cristian Gonzales? Penyerang terbaik Liga Indonesia atau pemain naturalisasi terbaik Indonesia? Sebab, dua-duanya cocok disandang oleh pemain kelahiran Montevideo, Uruguay, tersebut.

Kata Data merangkum, Cristian Gonzales merupakan pemain tersubur di kompetisi paling elite Tanah Air sejak peleburan Perserikatan dan Galatama pada musim 1994-1995. Selama 16 tahun kariernya di Indonesia, El Loco mengemas 249 gol.

Pemain yang paling mendekati torehan El Loco, julukan Gonzales, adalah Budi Sudarsono. Si Ular Piton, julukannya, membukukan 185 gol. Catatan El Loco tidak akan pernah terkejar oleh Budi lantaran sang pemain telah pensiun.

Bambang Pamungkas dengan 178 gol, Boaz Solossa dengan 176 gol, Kurniawan Dwi Yulianti dengan 162 gol, dan Alberto Goncalves dengan 149 gol, menyusul di belakang Budi. Namun, hanya Boaz dan Goncalves yang masih punya peluang untuk menyamai pencapaian El Loco sebab keduanya masih aktif bermain. Namun, dengan usia yang telah menginjak 34 dan 39 tahun, keduanya tergolong mustahil untuk melakukannya.

Di tahun ini, Cristian Gonzales mulai hilang dari peredaran. Pelan-pelan, sinar El Loco meredup mengingat usianya yang terbilang sangat uzur bagi pesepak bola, 43 tahun. Mantan pemain Sud America, klub Uruguay tersebut bersikukuh tidak ingin pensiun namun kondisinya kontradiktif.

Penyerang berkaki kidal ini masih menganggur karena tidak ada klub yang tertarik menggunakan jasanya setelah kontraknya bersama PSIM Yogyakarta tidak diperpanjang.

"Kapan saya pensiun? Belum terpikirkan sama sekali. Mungkin nanti ketika saya tidak bisa cetak gol lagi. Sekarang saya masih merasa fit dan sebugar pemain berusia 25 tahun. Saya masih bisa mencetak banyak gol," imbuh El Loco.

Hampir di setiap tim yang disinggahinya, Cristian Gonzales mengenakan nomor punggung sepuluh. Mulai dari PSM Makassar, Persik Kediri, Arema FC hingga PSIM Yogyakarta.

3 dari 8 halaman

Zah Rahan Krangar

Sebelum digunakan Hilton Moreira, nomor punggung 10 di Sriwijaya FC sudah lebih dulu digunakan Zah Rahan Krangar pada 2007-2010. Dengan nomor tersebut, pemain asal Liberia mampu menunjukkan kualitasnya di lapangan.

Zah Rahan tampil menggilan dengan sumbangan 27 gol dalam 99 laga bersama Sriwijaya FC. Zah Rahan berhasil mempersembahkan gelar Liga Super Indonesia 2007-2008 dan tiga gelar Piala Indonesia untuk Sriwijaya FC.

Nomor punggung 10 juga kembali digunakan Zah Rahan ketika bergabung dengan Persipura. Hasilnya, Zah Rahan sukses mempersembahkan dua gelar Liga Super Indonesia pada edisi 2010-2011 dan 2012-2013.

Tren penggunaan nomor punggung 10 yang dilakukan Zah Rahan terhenti ketika bergabung dengan Madura United pada 2018. Ketika itu, Zah Rahan memilih nomor 29. Saat ini, Zah Rahan menggunakan nomor 11 bersama PSS Sleman.

4 dari 8 halaman

Makan Konate

Makan Konate memilih nomor punggung 10 ketika bergabung dengan Persib Bandung pada 2014. Magis nomor punggung tersebut langsung terasa buat Makan Konate yang sukses mengantarkan Persib Bandung menjuarai Liga Super Indonesia 2014.

Selain itu, Makan Konate juga berperan membantu Persib menjuarai Piala Presiden 2015. Secara keseluruhan, ketika itu Makan Konate mencetak 14 gol dalam 30 laga.

Tren nomor punggung 10 juga dilanjutkan Makan Konate ketika berseragam Sriwijaya FC, Arema FC, dan Persebaya Surabaya. Magis yang terasa ketika berseragam Arema pada 2018-2019.

Makan Konate sukses mempersembahkan gelar Piala Presiden 2019 dan mencetak 29 gol dalam 51 laga untuk Singo Edan.

5 dari 8 halaman

Kurniawan Dwi Yulianto

Legenda sejatinya pengguna nomor punggung 10 layak diberikan kepada Kurniawan Dwi Yulianto. Bicara kualitas, tak ada yang perlu diragukan lagu dari sosok pemain yang akrab disapa Si Kurus itu.

Kurniawan kerap menggunakan nomor punggung 10 sepanjang kariernya mulai dari di Pelita Bakrie hingga PSM Makassar. Kurniawan tercatat sukses mencetak 148 gol bersama klub Indonesia.

Selain itu, tradisi nomor 10 juga dipertahankan Kurniawan bersama Timnas Indonesia. Rentang 1995-2005, Kurniawan berhasil mencetak 79 gol untuk Timnas Indonesia dalam 59 laga.

6 dari 8 halaman

Luciano Leandro

Aroma nomor punggung sepuluh kental mewarnai perjalanan Luciano Leandro di Liga Indonesia. Pria asal Brasil itu memakai nomor keramat tersebut ketika membela PSM Makassar dan Persija Jakarta.

Luciano Leandro adalah satu di antara playmaker terbaik di Liga Indonesia. Luciano mendapat tempat spesial di hati suporter dua klub yang pernah ia bela, PSM pada 1996-2000 dan dan Persija Jakarta 2000-2004. Pertama di Indonesia dan gabung PSM, Luciano langsung mencicipi partai final Liga Indonesia 1995-1996.

Beberapa karakter Luciano yang membuat penggemar PSM kagum adalah pekerja keras, lincah, dan tidak macam-macam di luar lapangan. Satu lagi, gaya rambutnya dengan kuncir jadi ciri khas Luciano. Luciano baru merasakan gelar juara di Liga Indonesia VII tahun 2001 bersama Persija Jakarta, 7 Oktober 2001 di Stadion Gelora Bung Karno. Disaksikan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarno Putri, Persija mengalahkan PSM 3-2.

Luciano dianggap sebagai playmaker terbaik dekade 2000-an oleh penggemar Persija. Setelah Luciano pensiun, baru muncul deretan pengatur serangan asal Amerika Latin seperti Lorenzo Cabanas, Alejandro Tobar, hingga Ronald Fagundez.

Pada 2004, Luciano yang sudah gantung sepatu dan kembali ke Brasil membangun sebuah hotel bernama Hotel Makassar. Ia mengabadikan jejak kariernya di Indonesia di hotel itu. Makassar seolah jadi kota yang sangat berarti bagi Luciano. 

7 dari 8 halaman

Eduard Ivakdalam

Nomor 10 di Persipura Jayapura sempat bertahan beberapa musim di punggung Eduard Ivakdalam. Sebagai kapten dan gelandang berpengaruh di Persipura, nomor keramat tersebut melekat di bagiian belakang baju Eduard Ivakdalam.

Beban nomor punggung 10 pun berhasil dipikul Eduard Ivakdalam dengan penampilan gemilang di lini tengah. Eduard Ivakdalam memiliki peran penting di balik kesuksesan Persipura Jayapura dengan sumbangan dua gelar Liga Indonesia pada 2005 dan 2008-2009.

Selama 16 tahun bermain untuk Persipura, Eduard Ivakdalam tampil sebanyak 218 pertandingan dan menyumbang 21 gol. Nomor punggung 10 kini dilanjutkan Thiago Amaral di Persipura.

8 dari 8 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer