Sukses


Rahmad Darmawan dan 9 Pelatih Lokal yang Meraih Gelar Juara di Liga Indonesia

Bola.com, Jakarta - Kiprah pelatih lokal di perjalanan Liga Indonesia bisa dikatakan mampu bersaing dengan para pelatih asing. Sebelum era Liga 1 dimulai, para pelatih lokal macam Rahmad Darmawan dan Djadjang Nurdjaman mampu melewati persaingan dengan pelatih-pelatih asing untuk bisa membawa timnya menjadi juara.

Harus diakui dalam tiga musim pertama era Liga 1 yang diputar sejak 2017, pelatih asing menjadi dominan membawa timnya menjadi juara. Simon McMenemy membawa Bhayangkara FC menjuarai Liga 1 2017, sementara Stefano Cugurra sukses meraih dua gelar juara, yaitu bersama Persija Jakarta pada 2018 dan Bali United pada 2019.

Sebelumnya, kompatriot Stefano Cugurra, Jacksen Tiago, juga menjadi pelatih asing paling sukses di Liga Indonesia. Pelatih yang dulu aktif bermain di Indonesia itu berhasil membawa Persebaya Surabaya menjuarai Liga Indonesia 2004 dan Persipura Jayapura tiga kali juara Indonesia Super League, yaitu pada musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2013.

Namun, bagaimana kiprah pelatih lokal Indonesia di Tanah Airnya sendiri? Tidak sedikit pelatih asli Indonesia yang mampu membawa tim asuhannya menjadi juara liga di kompetisi teratas sepak bola Indonesia.

Berikut Bola.com mengulas deretan pelatih lokal yang pernah membawa klubnya berjaya di era Liga Indonesia hingga Indonesia Super League.

2 dari 8 halaman

Rahmad Darmawan Tersukses, Juara Bersama Persipura dan Sriwijaya FC

Pelatih yang satu ini bisa dibilang merupakan pelatih lokal yang paling sukses di dunia sepak bola Indonesia. Dua gelar juara liga dan tiga trofi Copa merupakan bukti otentik prestasi Rahmad Darmawan sebagai seorang arsitek tim.

Mengawali karier dengan menjadi asisten pelatih Persikota Tangerang pada 1998, Rahmad Darmawan membawa Persipura Jayapura meraih gelar juara Liga Indonesia 2005. Persipura yang menjadi juara Wilayah Timur dan juga menjadi pemuncak klasemen Grup B babak 8 besar Liga Indonesia 2005, berhasil menang 3-2 atas Persija Jakarta di pertandingan final.

Tidak sampai di situ saja, Rahmad Darmawan kemudian juga berhasil meraih gelar juara Liga Indonesia 2007-2008 bersama Sriwijaya FC. Laskar Wong Kito berhasil menjadi pemuncak klasemen Wilayah Barat dan maju ke babak empat besar. Kembali menjadi yang teratas di fase tersebut, Sriwijaya FC menghadapi PSMS Medan di laga final yang berakhir dengan kemenangan 3-1 untuk SFC.

Tidak hanya itu saja prestasi Rahmad Darmawan di dunia sepak bola Indonesia. Sebelum meraih semua gelar juara liga itu, pelatih yang karib disapa RD itu juga mampu membawa Persikota Tangerang menjadi juara Divisi 2 Liga Indonesia 1996 dan Divisi Satu Liga Indonesia 1997.

Kemudian ada juga gelar juara Copa Indonesia yang tiga kali diraih bersama Sriwijaya FC, yaitu pada 2007-2008, 2008-2009, dan 2010.

3 dari 8 halaman

Indra Thohir dan Djadjang Nurdjaman, Jawara Persib

Jika berhitung dari era Perserikatan, Persib Bandung sejauh ini sudah tujuh kali menjadi juara kompetisi sepak bola Indonesia. Lima di antaranya terjadi di era Perserikatan, satu di era Liga Indonesia, dan satu lainnya diraih di era Indonesia Super League.

Adalah Indra Thohir, pelatih legendaris yang membawa Persib Bandung juara Liga Indonesia 1994-1995, atau tepatnya musim pertama era kompetisi profesional itu digelar. Ya, satu musim setelah membawa Persib menjadi jawara di musim terakhir era Perserikatan, Indra Thohir membawa Maung Bandung kembali menjadi juara.

Pelatih legendaris Persib Bandung: Indra Thohir. (Bola.com/Dody Iryawan/Foto: Erwin Snaz)

Prestasinya terbilang sangat bagus mengingat itu merupakan musim perdana Liga Indonesia. Persib menjadi yang pertama meraih gelar juara pada era sepak bola profesional tersebut. Persib menang 1-0 atas Petrokimia Putra lewat gol Sutiono Lamso pada saat itu.

Keberhasilan Indra Thohir membawa Persib menjadi juara baru diikuti oleh Djadjang Nurdjaman 19 tahun kemudian. Djadjang Nurdjaman, yang pernah 3 kali membawa Persib menjadi juara di era Perserikatan sebagai pemain, kini kembali mempersembahkan gelar juara, tapi dengan peran yang berbeda, yaitu pelatih.

Pelatih Persib Bandung, Djadjang Nurdjaman memeluk Toni Sucipto usai menumbangkan Persipura Jayapura dan menjadi kampiun ISL 2014 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, (7/11/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Djanur mengantarkan Persib Bandung menjadi runner-up wilayah Barat, di mana pada musim itu kompetisi sepak bola Indonesia kembali digelar dengan format dua wilayah. Pada babak 8 besar, Persib berhasil menjadi yang terbaik di Grup B, mengungguli Pelita Bandung Raya, Mitra Kukar, dan Persebaya yang kini berubah menjadi Bhayangkara FC.

Berhasil menyingkirkan Arema FC dengan skor 3-1 di babak semifinal, Persib Bandung menghadapi Persipura Jayapura di partai final yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. Persib menjadi juara ISL 2014 setelah memenangi laga puncak itu melalui drama adu penalti.

Tidak hanya membawa Persib menjuarai ISL 2014, Djanur juga membawa Maung Bandung menjuarai Piala Presiden 2015.

4 dari 8 halaman

Jaya Hartono dan Daniel Roekito, Juara Bersama Persik

Persik Kediri, klub yang baru promosi di Shopee Liga 1 2020 ini, merupakan klub yang sudah tercatat berhasil dua kali menjuarai kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tepatnya pada 2003 dan 2006, tim berjulukan Macan Putih itu mampu memperlihatkan taringnya sebagai yang terbaik di Indonesia.

Jaya Hartono adalah arsitek yang pertama kali membawa Persik menjadi juara. Dalam musim yang menggunakan format liga seutuhnya dengan 20 tim peserta, Persik asuhan Jaya Hartono berhasil menjadi yang terbaik di Liga Indonesia 2003 dengan meraih 67 poin hasil 18 kemenangan dan 13 hasil imbang dari 38 pertandingan.

Jaya Hartono saat berjaya di Persik Kediri. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Hanya butuh waktu tiga tahun hingga akhirnya Macan Putih kembali menjadi yang terbaik. Kali ini Persik menjadi juara bersama Daniel Roekito.

Kembali menggunakan format dua wilayah, Persik menjadi runner-up wilayah timur dan menjadi pemuncak klasemen di babak delapan besar. Mereka pun menang 3-1 atas Persmin Minahasa di semifinal dan dipastikan bertemu PSIS Semarang di pertandingan final yang digelar di Stadion Manahan, Solo.

Bermain imbang tanpa gol selama 90 menit pertandingan, Persik akhirnya meraih kemenangan lewat gol Cristian Gozales pada menit ke-110. Daniel Roekito pun menjawab keinginan Persikmania untuk melihat tim kesayangannya menjadi juara untuk yang kedua kalinya.

Kolase - Daniel Roekito di Persik Kediri (Bola.com/Adreanus Titus/Foto: Gatot Susetyo)

5 dari 8 halaman

Rusdy Bahalwan Bersama Persebaya, Edy Paryono Bersama PSIS

Selain lima pelatih di atas, masih ada lima pelatih lokal lain yang tercatat pernah meraih gelar juara di era Liga Indonesia hingga Indonesia Super League. Rusdy Bahalwan adalah yang pertama. Pelatih kelahiran Surabaya itu mengantarkan klub kebanggaannya, Persebaya, untuk menjadi juara di Liga Indonesia 1996-1997.

Ia membawa Persebaya menjadi yang terbaik di wilayah barat dengan meraih 13 kemenangan dan 4 hasil imbang dalam 20 laga. Persebaya kemudian juga menjadi yang terbaik di Grup A babak delapan besar Liga Indonesia 1996-1997, mengungguli Mitra Surabaya, Persiraja Banda Aceh, dan Gelora Dewata.

Pada pertandingan final menghadapi Bandung Raya, Persebaya berhasil meraih kemenangan 3-1 berkat gol yang dicetak Aji Santoso, Jacksen F Tiago, dan Reinald Pieters. Persebaya pun meraih gelar juara untuk pertama kalinya di era Liga Indonesia, atau yang kelima sejak era Perserikatan.

Rusdy Bahalwan kemudian berhasil membawa Persebaya Surabaya kembali ke final pada Liga Indonesia 1998-1999. Namun, kali ini nasib baik bukan menjadi miliknya, tapi menjadi milik edy Paryono yang menangani PSIS Semarang dan mengantarkan Laskar Mahesa Jenar jadi juara pada musim itu.

Seperti halnya Rusdy Bahalwan yang menangani Persebaya sebagai klub kota kelahirannya, Edy Paryono juga merupakan pelatih kelahiran Semarang yang dengan bangga bisa membawa PSIS mencapai final Liga Indonesia 1998-1999.

Keberhasilan Edy Paryono membawa PSIS Semarang juara cukup unik. Tim asuhannya menjadi runner-up Grup 4 Wilayah Tengah pada fase pertama, dan juga runner-up Grup A fase kedua. Dalam dua fase tersebut, PSIS Semarang berada di bawah Persebaya asuhan Rusdy Bahalwan yang menjadi pemuncak klasemen.

Keduanya pun berhak lolos ke semifinal, di mana Persebaya bertemu PSMS Medan dan PSIS bertemu Persija Jakarta. Persebaya dan PSIS pun kembali berhadapan di pertandingan final.

Namun, berbeda dengan perjalanan di fase pertama dan kedua, justru laga final menjadi milik PSIS yang diasuh Edy Paryono. Melalui gol tunggal Tugiyo pada menit ke-89, PSIS Semarang pun berhasil menyabet trofi juara, yang kedua sejak pertama kalinya diraih pada era Perserikatan musim 1986-1987.

 

6 dari 8 halaman

Syamsuddin Umar Bersama PSM, Sofyan Hadi Bersama Persija

Skema serupa seperti Rusdy Bahalwan dan Edy Paryono kembali terulang pada musim 1999-2000 dan 2001. PSM Makassar berhasil jadi yang terbaik pada Liga Indonesia 1999-2000 di tangan Syamsuddin Umar.

Berhasil membawa PSM Makassar memuncaki klasemen wilayah Timur, Syamsuddin Umar berhasil membawa timnya kembali menjadi yang terbaik di Grup A babak delapan besar. PSM Makassar pun memastikan diri ke pertandingan puncak setelah mengalahkan Persija Jakarta di semifinal dengan skor 1-0.

Mengandalkan Miro Baldo Bento, Rachman Usman, dan Kurniawan Dwi Yulianto di lini serang, Syamsuddin Umar berhasil memastikan PSM Makassar menjadi juara dengan kemenangan 3-2 atas Pupuk Kaltim di pertandingan final. Dua gol yang dicetak Kurniawan Dwi Yulianto dan satu gol Rachman Usman memastikan Juku Eja menjadi juara.

Satu hal yang menarik, Syamsuddin Umar punya peluang untuk membawa PSM menjadi juara dua musim berturut-turut. Pasalnya, ia berhasil mengantar PSM Makassar mencapai final lagi pada musim berikutnya, yaitu Liga Indonesia 2001.

Namun, Persija Jakarta yang mereka kalahkan di semifinal musim sebelumnya seperti mengusung misi balas dendam karena tersingkir di semifinal Liga Indonesia 1999-2000. Persija yang ditangani oleh Sofyan Hadi pun menjadi juara pada musim tersebut.

Sofyan Hadi

Tim ibu kota memang bertabur bintang pada saat itu. Melalui sokongan dari Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso, Persija memiliki banyak pemain bintang dengan label Timnas Indonesia. Sebut saja Nur'alim, Imran Nahumarury, Gendut Doni, Bambang Pamungkas, Widodo Cahyono Putro, dan Dedi Umarella.

Sofyan Hadi sebenarnya hanya membawa Persija Jakarta menjadi runner-up di wilayah Barat. Macan Kemayoran hanya terpaut satu poin dari PSMS Medan yang bertengger di puncak, dan unggul empat poin dari Persib Bandung yang juga melangkah ke babak delapan besar.

Persija asuhan Sofyan Hadi dan PSM asuhan Syamsuddin Umar sebenarnya sudah bertemu di Grup B babak delapan besar. Bertemu di Makassar, Persija menang 1-0 berkat gol semata wayang Budi Sudarsono.

Namun, akhirnya kedua tim bertemu lagi di final setelah PSM menang atas PSMS Medan melalui drama adu penalti di semifinal, sementara Persija Jakarta sukses menang 2-1 atas Persebaya Surabaya.

Duel PSM dan Persija di laga final yang digelar di Stadion Utama Gelor Bung Karno pun sangat menarik karena kedua tim sama-sama memiliki bintang-bintang berlabel Timnas Indonesia. Namun, akhirnya Persija berhasil meraih kemenangan 3-2 setelah sempat unggul tiga gol lebih dulu lewat Imran Nahumarury dan dua gol Bambang Pamungkas.

Sofyan Hadi pun mempersembahkan gelar juara bersama Persija Jakarta, yang merupakan gelar ke-10 Macan Kemayoran sejak tampil di era Perserikatan.

 

7 dari 8 halaman

Kas Hartadi Juara Bersama Sriwijaya FC

 

Satu pelatih lokal lain yang berhasil menjadi juara di era sepak bola profesional Indonesia adalah Kas Hartadi. Ia membawa Sriwijaya FC menjuarai Indonesia Super League 2011-2012.

Pelatih kelahiran Solo itu dipromosikan menangani tim utama Sriwijaya FC menggantikan Ivan Kolev. Awalnya Kas Hartadi merupakan pelatih tim U-21 dan asisten pelatih Sriwijaya FC.

Kepercayaan yang diberikan manajemen Laskar Wong Kito dibayar tuntas oleh Kas Hartadi. Mengandalkan pemain-pemain asing berkualitas, seperti Keith Kayamba Gumbs, Thierry Gathuessi, Hilton Moreira, Lim Joon-sik, dan Jamie Coyne, SFC sulit untuk dihentikan.

Tim yang dikapteni oleh Ponaryo Astaman itu berhasil meraih 25 kemenangan dan hanya lima kali kalah dari 34 pertandingan. Sriwijaya FC menjadi juara setelah mengoleksi 79 poin dan unggul hingga 11 poin dari sang runner-up yang juga merupakan juara musim sebelumnya, Persipura Jayapura.

Selain membawa Sriwijaya FC menjuarai Indonesia Super League 2011-2012, sejauh ini prestasi lainnya adalah membimbing Kalteng Putra promosi ke Liga 1 2019 setelah menjadi tim peringkat ketiga Liga 2 2018.

8 dari 8 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer