Sukses


Rivalitas Perburuan Trofi PSM Vs Persebaya: Perserikatan Punya Juku Eja, Bajul Ijo Berkibar di Liga Indonesia, BRI Liga 1 Milik Siapa?

Bola.com, Makassar - PSM Makassar dan Persebaya Surabaya tak hanya berstatus sebagai klub tertua di Tanah Air. Kiprah mereka kental mewarnai sejarah panjang kompetisi di Tanah Air. Khususnya dalam perburuan trofi juara.

Baik di era Perserikatan mau pun Liga Indonesia yang merupakan kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Di era Perserikatan, Persebaya meraih sukses lebih setelah meraih trofi juara secara beruntun pada 1951 dan 1952.

Setelah itu, PSM yang diperkuat legenda sepak bola Indonesia, Andi Ramang menjelma jadi raja Perserikatan pada akhir 1950 sampai 1960-an dengan mengoleksi gelar di musim 1956–1957, 1957–1959, 1964–1965 dan 1965–1966.

Pada periode 1970-an, PSM dan Persebaya tetap eksis dalam daftar tim elite Perserikatan. PSM jadi sorotan setelah meraih trofi juara di Piala Soeharto 1974 dengan mengandalkan mayoritas pemain muda yang dipimpin Ronny Pattinasarani sebagai kapten tim.

Persebaya mengembalikan pamornya dengan gelar juara Perserikatan 1977/1978.

Bajul Ijo yang ditangani legenda PSM Makassar, M. Basri, mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 4-3 pada laga final yang berlangsung di Stadion Utama Senayan, Jakarta (kini Gelora Bung Karno) pada 28 Januari 1978.

2 dari 5 halaman

Perserikatan - Liga Indonesia

Periode 1980-an, pamor PSM Makassar agak meredup. Juku Eja gagal mengoleksi gelar. Sedang Persebaya menambah satu trofi juara pada 1987-1988 yang ditandai dengan tragedi 'sepak bola gajah'.

Bajul Ijo sengaja mengalah dengan skor telak 0-12 dari Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November untuk menyingkirkan PSIS Semarang.

Beruntung Persebaya bisa menegakkan kepala musim itu dengan tampil aktraktif pada laga final untuk menekuk Persija Jakarta 3-2 di Stadion Utama Senayan, 27 Maret 1988.

Pamor PSM sebagai tim elite akhirnya kembali pada periode akhir Perserikatan. Musim 1991/1992, Juku Eja berjaya usai mengalahkan PSMS Medan 2-1 pada partai puncak yang berlangsung di Stadion Utama Senayan, 29 Februari 1992.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Persebaya meraih peringkat tiga usai menekuk Persib Bandung dengan skor 2-1.Musim berikutnya, PSM berhasil menembus laga puncak setelah mengalahkan Persebaya di semifinal dengan skor 1-0.

Juku akhirnya gagal menambah koleksi gelarnya di pengujung era Perserikatan setelah takluk dari Persib Bandung 0-2 pada final di Stadion Utama Senayan, 17 April 1994. Seperti musim sebelumnya, Persebaya kembali berada di peringkat tiga setelah menekuk Persija Jakarta 4-2.

3 dari 5 halaman

Persebaya Gemilang di Liga Indonesia

Di pentas Liga Indonesia yang merupakan penyatuan kompetisi Perserikatan dan Galatama, koleksi gelar Persebaya lebih banyak dari PSM. Bajul Ijo tercatat dua kali meraih trofi juara yakni pada musim 1996/1997 dan 2004.

Sedangan PSM hanya satu kali berjaya yakni di musim 1999/2000.Menariknya, ketika meraih juara, Persebaya mempermalukan PSM. Pada musim 1996/1997, Bajul melangkah ke partai puncak setelah mengalahkan PSM dengan skor 3-2.

Ironisnya, dua dari tiga gol Bajul Ijo dicetak oleh Yusuf Ekodono dan Jacksen Tiago yang musim sebelumnya membawa Juku Eja melaju ke final. Persebaya akhirnya juara setelah menang telah 3-1 atas juara bertahan Bandung Raya di Stadion Utama Senayan, 28 Juli 1997.

Koleksi gelar kedua Persebaya di Liga Indonesia diraih lewat perjuangan dramatis yang berujung manis. Sampai pekan 33, Persija masih bertenger di puncak klasemen dengan koleksi poin 60. Sementara Persebaya dan PSM membayangi dengan perolehan poin sama yakni 58.

Meski unggul dua poin, Persija dinilai sulit mempertahankan posisinya karena Macan Kemayoran bakal dijamu Persebaya di Stadion Gelora 10 November, Surabaya.

Sementara pada hari yang sama, PSM juga bisa menyalip Persija dengan status tuan rumah dengan menjamu PSMS Medan di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin.

Alhasil, berdasarkan hitungan diatas kertas, Persebaya dinilai paling berpeluang meraih meraih trofi juara karena unggul selisih gol atas PSM.

Pada musim itu, sistem head to head tidak diberlakukan bila ada dua tim memiliki poin sama. Dan Persebaya unggul dengan margin 11 gol atas PSM. Seperti diketahui dalam dua kali pertemuan, PSM lebih unggul dari Persebaya. Juku Eja menahan Bajul Ijo dengan skor 1-1 dan menang 3-1 di Makassar.

Sesuai prediksi, Persebaya akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persija 2-1 lewat gol Danilo Fernando dan Luciano da Silva. Sementara balasan Persija berkat gol bunuh diri Mat Halil.

Di Makassar, PSM yang berada dalam situasi sulit, hanya mampu 2-1 atas PSMS berkat gol Ponaryo Astaman dan Ronald Fagundez 89, sedang gol tunggal PSMS dicetak striker asal Cile, Christian Gonzales.

Persebaya melengkapi suksesnya dengan penghargaan pelatih terbaik yang diraih Jacksen Tiago. Sedang gelandang jangkar PSM, Ponaryo Astaman terpilih sebagai pemain terbaik musim itu.

4 dari 5 halaman

Era Liga 1

Ketika Liga Indonesia berganti nama menjadi Liga 1 pada 2017, PSM dan Persebaya tetap menunjukkan pamornya sebagai tim elite. Pada 2018, PSM bertengger di peringkat kedua setelah hanya kalah satu poin dari sang juara, Persija yang mengoleksi 62 angka.

Tapi, kepala pemain Juku Eja tetap tegak dengan raihan trofi juara Piala Indonesia 2018/2019. Sedang Persebaya juga meraih peringkat dua klasemen akhir Liga 1 2019 yang dikuasai oleh Bali United.

5 dari 5 halaman

Intip Posisi Tim Favoritmu

Cara Persija Jakarta untuk Kembali Raih Kemenangan di BRI Liga 1

Video Populer

Foto Populer