Sukses


Meredupnya Pamor Nomor Punggung 10 di Timnas Indonesia: Kenapa Ya?

Bola.com, Jakarta - Nomor punggung 10 merupakan sebuah hal yang sakral di dunia sepakbola. Tak sembarang pemain berhak mengenakan jersey dengan nomor punggung 10 di punggungnya.

Pemain yang menggunakan nomor punggung 10 biasanya merupakan pemain paling istimewa di tim tersebut. Kemampuan olah bolanya jauh di atas rata-rata pemain-pemain lainnya.

Berkat keistimewaannya, pemain nomor punggung 10 bakal selalu jadi pusat perhatian lawan. Maka tak heran bila penjagaan ketat sering kali diberikan kepada mereka yang menjadi otak permainan.

Di Timnas Indonesia, tak banyak yang berani mengenakan nomor punggung 10 dalam beberapa tahun terakhir. Baik itu di pertandingan resmi semisal Kualifikasi Piala Dunia atapun pertandingan persahabatan sekalipun.

Pada lima edisi terakhir perhelatan Piala AFF, hanya ada empat nama yang mau menggunakan nomor keramat ini. Pada gelaran AFF 2014 bahkan tak ada satupun yang berani menggunakannya. Tidak bisa dimungkiri pamor nomor punggung 10 perlahan memudar.

Hal ini dipicu sejarah masa lalu di mana pemain yang pernah memakainya di Piala AFF, kerap gagal kembali ke level permainan terbaiknya.

Siapa empat pemain Timnas Indonesia yang terkena 'kutukan' tersebut? Bola.com coba mengulasnya satu persatu.

2 dari 5 halaman

Oktavianus Maniani - Piala AFF 2010

Mendiang Alfred Riedl sepertinya menyadari betul potensi Oktavianus Maniani. Saat memanggilnya untuk Piala AFF 2010, dirinya tak ragu memberikan nomor punggung 10 kepadanya.

Meskipun bukan seorang playmaker, pergerakannya di sektor sayap berarti banyak bagi Timnas Indonesia. Tak hanya cepat, dirinya kerap kali menusuk ke jantung pertahanan dengan dribel yang memukau.

Sayangnya, setelah membawa Indonesia menjadi finalis AFF 2010 dan mendapatkan medali perak di ajang SEA Games 2011, kariernya mulai menurun. Menjadi perhatian publik sepakbola Indonesia membuatnya keblinger.

Masalah indisipliner semakin menyulitkan langkahnya untuk kembali menjadi Oktavianus Maniani di AFF 2010. Rasa frustasinya tersebut sempat ditunjukkan saat menusuk wasit dengan gagang bendera yang membuatnya dihukum larangan tanding selama beberapa bulan.

Dirinya coba kembali ke lapangan hijau bersama Persiba Balikpapan, tetapi pandemi Covid-19 membuyarkan impiannya. Terkini, dirinya dikabarkan telah resmi menjadi salah satu kader partai politik.

3 dari 5 halaman

Irfan Bachdim - AFF 2012

Irfan Bachdim dibebani banyak ekspektasi saat mengenakan nomor punggung 10 pada AFF 2012. Tak seperti dua tahun sebelumnya, Indonesia hadir ke ajang ini 'bukan' dengan skuad terbaiknya.Dualisme kompetisi dan federasi memunculkan dua kubu di tahun tersebut.

Alhasil, hanya pemain-pemain terbaik di salah satu kubu yang datang ke turnamen ini. Indonesia yang dalam keadaan compang-camping tak bisa melawan takdir.

Irfan Bachdim pun kecewa dengan masalah yang mendera di Tanah Air dan memutuskan hengkang ke luar negeri. Namun, kariernya terbilang meredup di titik ini.

Meskipun berkarier di Thailand dan Jepang, namanya terhitung jarang untuk tampil di kompetisi resmi yang diikuti klubnya. Setelah empat tahun di luar negeri, Irfan Bachdim pulang ke Indonesia untuk memperkuat Bali United.

Setelah tak banyak terlibat saat timnya meraih titel Liga 1 2019, pemain yang kini berusia 33 tahun itu memutuskan pindah ke PSS Sleman.

4 dari 5 halaman

Zulham Zamrun - AFF 2016

Penampilan ciamik Zulham Zamrun di turnamen Piala Presiden 2015 menjadi bukti bila dirinya tengah dalam performa terbaiknya saat itu. Tak hanya membawa Persib Bandung menjadi juara, dirinya juga dinobatkan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Tetapi sayangnya, sebuah keputusan sederhana di awal tahun 2016 membuat jalan kariernya berubah. Zulham Zamrun memilih mengikuti pertandingan tarkam bertajuk Habibie Cup selagi kompetisi masih vakum.

Keputusan itu pada akhirnya berujung pahit dengan dia harus mengalami cedera parah. Hantaman pemain lawan membuatnya ligamen lututnya rusak dan harus menjalani beberapa waktu pemulihan.

Meski telah berhasil sembuh, Zulham Zamrun kehilangan momen terbaiknya saat bermain untuk Persib Bandung di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Meskipun hanya dua gol yang berhasil dibuatnya sepanjang musim, namanya tetap masuk dalam daftar skuad AFF 2016.

Tetapi kehadirannya bukan lagi sebagai penampil utama. Meski mengenakan jersey nomor punggung 10, dirinya hanya seorang cameo di tim arahan Alfred Riedl yang mampu mencapai babak final.

Setelahnya, kariernya tak bisa dikatakan cemerlang meski sempat bermain apik bersama PSM Makassar. Terkini, dirinya terlibat perkelahian di laga persahabatan yang melibatkan timnya PSG Pati (lebih dikenal AHHA PS Pati).

 

5 dari 5 halaman

Stefano Lilipaly - AFF 2018

Penampilan cemerlang Stefano Lilipaly di Asian Games 2018 gagal terulang di Piala AFF 2018. Padahal di perhelatan level Asia itu, dirinya mampu membawa Timnas Indonesia U-23 ke babak 16 besar.

Tetapi kegagalan meraih target yang dibebankan membuat Luis Milla mundur dari kursi pelatih. Kekosongan tersebut membuat Indonesia terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Pada akhirnya, Indonesia gagal menampilkan kembali performa terbaiknya. Bima Sakti gagal menduplikat kehebatan Luis Milla saat ditunjuk menukangi Stefano Lilipaly dkk di ajang Piala AFF 2018.

Walaupun bermain dengan pemain-pemain terbaiknya, Indonesia tetap gagal melangkah ke fase gugur. Kekalahan dari Singapura dan Thailand, hasil imbang dari Filipina dan satu kemenangan dari Timor Leste, tak cukup bagi Indonesia.

Setelah kegagalan menyakitkan tersebut, pemain berdarah Belanda itu berhasil mempertahankan level permainannya. Dirinya membantu Bali United meraih supremasi tertinggi di Liga 1 2019.

Hanya saja di musim ini, Stefano Lilipaly sedikit terlambat bergabung bersama rekan-rekannya. Dirinya dikabarkan mengalami cedera yang cukup serius sehingga harus absen di beberapa laga awal BRI Liga 1 2021/2022.

Video Populer

Foto Populer