Sukses


Kebiasaan Buruk Manchester United Tiba-tiba Melego Aset Berharganya, Sudah 8 Bintang Jadi Korban!

Bola.com, Jakarta - Manchester United merupakan salah satu klub terbesar di Inggris. Bukti sahihnya berbagai gelar juara  domestik yang mereka raih.

Hingga saat ini Manchester United menjadi klub terbanyak yang menjuarai Liga Inggris. Total 20 kali mereka angkat trofi. Mayoritas di antaranya diraih di era Premier League. Total jumlah trofi yang diraih Manchester United: 44 trofi.

Ada dua era di mana Manchester United begitu disegani dan meraih banyak trofi. Pertama Sir Matt Busby yang melahirkan banyak pemain hebat seperti Bobby Charlton, Denis Law, dan George Best.

Kedua era Sir Alex Ferguson yang dibekali peman seperti Ryan Giggs, Roy Keane samai David Beckham.

Di sisi lain, United juga masuk kategori klub kaya. Seiring popularitas yang mendunia, sumber pemasukan mereka ikut terkerek naik. Perusahaan kakap berlomba-lomba beriklan di Tim Setan Merah.

Dengan pendanaan yang berlimpah Manchester United selalu leluasa menggaet pemain terbaik dari berbagai penjuru dunia. Di sisi lain akademi mereka dari masa ke masa intens memproduksi pemain-pemain bermutu. Mason Greenwood dan Marcus Rashford adalah dua contoh terkini.

Terlepas dari berbagai kelebihan yang mereka miliki, Manchester United punya kebiasaan buruk melepas pemain-pemain terbaiknya di saat karier mereka on-fire. Ya memang, pemasukan mereka bertambah tebal dari hasil penjualan pemain bermutu tinggi tersebut.

Namun, di sisi lain kepergian mereka juga kerap memberi dampak negatif. Manchester United harus kembali berburu pemain untuk menutupi lubang yang ditinggalkan sang bintang.

Di era Sir Alex Ferguson dampak negatifnya tak terlalu terasa. Sang manajer dikenal jago mencari pemain baru. Ia sukses menciptakan kolektivitas tim. Tak ada sosok individu pemain yang lebih besar dari klub. United di era Fergie tetap banjir gelar.

Namun, situasi berbeda dirasakan di era setelah Ferguson. Keputusan gegabah menjual aset berharga seringkali membuat Manchester United goyah. Mereka belakangan kerap menghabiskan uang yang banyak hanya untuk gonta-ganti pemain.

Para pemain yang dilego biasanya justru bersinar di klub baru. Yang ada tinggal penyesalan.

Siapa-siapa saja pemain bermutu tinggi yang dijual Manchester United?

 

2 dari 10 halaman

Roy Keane

Keane bergabung dengan United pada 1992 dan menghabiskan sebagian besar waktunya di klub sebagai kapten, namun pada akhirnya dia harus keluar setelah hubungannya dengan Sir Alex Ferguson menjadi buruk dan tak bisa diperbaiki lagi.

Saat bicara pada Off the Ball, Neville mengungkapkan bahwa waktu Keane di United telah berakhir setelah Ferguson mengumpulkan tim untuk menyaksikan sebuah wawancara yang menunjukkan betapa Keane sangat kritis terhadap rekan-rekan setimnya.

“Saya pernah melihat itu terjadi pada David Beckham setelah saya berada di United selama enam sampai delapan bulan,” kata Neville.

“Dengan Roy dan manajer, selalu ada peluang bahwa situasinya akan seperti itu. Manajer datang ke ruang ganti, dan saat dia mengatakan kami harus melihat video, saya berpikir bahwa itulah akhirnya.

“Saya mengenal Roy, saya mengenal manajer, dan saya berpikir seperti itu. Pertemuan itu mengerikan saat kami melihat video. Itu tidak lucu, jujur saja itu mengerikan.

“Untuk para pemain di ruang ganti yang sudah berada di klub selama 10, 15 tahun, melihat hal itu terjadi memang mengerikan. Anda tak bisa mengatakan apapun, anda hanya berpikir, ‘Demi Tuhan’, anda tahu itulah akhirnya.”

Menariknya, Neville, yang juga berada di event itu bersama Keane, mengatakan bahwa dia mengerti keputusan Ferguson.

“Dari sudut pandang kami sebagai pemain, kami tidak punya masalah. Kami sudah bekerja dengan Roy selama 12 tahun dan saya pikir wawancaranya setelah Bayern Munchen (pada 2011) sebenarnya lebih buruk.

“Apakah Roy Keane sebagai manajer akan menyingkirkan Roy Keane sang pemain setelah pertemuan itu? Kupikir kamu (bicara pada Keane yang ada di sampingnya) akan melakukannya.”

Kepergian Keane jelas sebuah kerugian besar. Pada periode awal Manchester United kesulitan menemukan figur pemimpin baru di tim. Tak terbantahkan bahwa gelandang jangkar asal Irlandia itu salah satu kapten paling berpengaruh sepanjang masa di United.

3 dari 10 halaman

David Beckham

Bersama Ryan Giggs, Neville bersaudara, Paul Scholes, dan Nicky Butt, Beckham termasuk bagian 'Class of 92' yang menjadi tulang punggung klub di awal tahun 2000-an.

Di antara rekan seangkatannya itu, Becks menyita paling banyak perhatian. Dari sisi wajah, pria kelahiran 2 Mei 1975 itu memang paling menjual. Atribut fisik yang oke dilengkapi pula oleh talenta yang keren.

Masih ingat gol Beckham ke gawang Wimbledon pada 17 Agustus 1996? Saat itu, dia menjebol gawang musuh lewat tembakan lambung dari jarak setengah lapangan. “Seperti terbang ke awan. Gol itu mengubah hidup saya,” ujarnya kala itu.

Hampir setahun setelah kejadian tersebut, ikon United, Eric Cantona, memutuskan pensiun. Kostum nomor 7 peninggalan King Eric lowong tanpa pemilik.

Beckham terpilih meneruskan tahta Cantona sebagai pemilik angka keramat itu. Dengan goresan angka 7 di punggungnya, Beckham memasuki tahap krusial yang kedua dalam kariernya. Figur yang terkenal dengan ciri khas tendangan pisangnya itu menjadi ikon baru United disertai gelontoran prestasi.

"Dia sudah seperti putra saya,” ujar Sir Alex Ferguson menunjukkan betapa spesial peran Becks di United.

Sang manajer terkesan dengan peningkatan performa anak buahnya itu. Becks juga istimewa karena selalu punya rapor paling oke di mata Fergie saat sesi latihan.

Namun, kejadian pada musim panas 1999 menjadi titik awal pada fase ketiga karier Beckham yang berujung “perceraian” dengan Sir Alex.

Saat itu, sang jagoan set-piece menikah dengan personel Spice Girls, Victoria Adams. Peristiwa yang semakin menancapkan status Beckham sebagai selebritas papan atas.

Bak papan iklan berjalan, dia adalah ikon fashion terwahid. Setiap jengkal tubuhnya bak aset. Di luar produk olahraga, dia membintangi produk pakaian, kesehatan, parfum dan kosmetik, gaya rambut, hingga perusahaan spa dan rekreasi.

Sir Alex mangkel. Di matanya, kepribadian dan fokus Beckham buat sepak bola berubah. Kisah sang raja tendangan bebas dan assist itu di Old Trafford pun berakhir pada 2003.

Pemicunya karena insiden sepatu terbang dari Ferguson yang melukai pelipis kiri Beckham usai menghadapi Arsenal di Piala FA, 15 Februari 2003.

Konflik antara sang manajer dan mantan anak emasnya itu berujung transfer Beckham ke raksasa Spanyol, Real Madrid.

"Dia bukan sebuah masalah sampai tiba pernikahannya. David jatuh cinta pada Victoria dan hal itu mengubah segalanya. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah lagi sama," kata Ferguson.

"Dia selebritas besar. Dia lebih besar dari manajernya. Sepak bola hanya bagian kecil dari hidupnya. David adalah satu-satunya pemain saya yang memilih untuk terkenal di luar sepak bola. Ia pemain fantastis. Namun, dia membuyarkan kesempatan menjadi salah satu legenda terbesar klub dengan memilih mengejar gaya hidup selebritas," ucap Fergie. 

4 dari 10 halaman

Ruud van Nistelrooy

Striker asal Belanda, Ruud van Nistelrooy, merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Manchester United.

Di bawah asuhan pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson, Van Nistelrooy menjelma sebagai striker haus gol setelah didatangkan dari PSV Eindhoven pada Juli 2001.

Van Nistelrooy menjadi andalan lini depan Setan dan berhasil membukukan 150 gol dan 22 assist dalam 219 laga.

Pria yang saat ini menjadi pelatih tim junior PSV Eindhoven itu meraih penghargaan pencetak gol terbanyak alias top scorer pada musim 2002-2003 dengan 25 gol.

Selain itu, Van Nistelrooy juga mempersembahkan 1 gelar Liga Inggris, 1 Piala FA, 1 Piala Liga, dan 1 kali juara Community Shield bareng Manchester United.

 Mantan bek Timnas Inggris, Rio Ferdinand, mengungkapkan satu laga yang membuat karier Ruud van Nistelrooy di Manchester United tamat.

Hal itu terjadi ketika Man United bertanding melawan Wigan Athletic pada final Piala Liga 2006. Pada pertandingan tersebut, Ferguson memutuskan untuk tidak memainkan Van Nistelrooy dan menempatkannya di bangku cadangan.

Sang pelatih lebih memilih Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Luis Saha. Kombinasi ketiganya di lini serang membuat Setan Merah menang meyakinkan dengan skor 4-0.

Van Nistelrooy kesal karena tak dimainkan, lalu menyumpahi Ferguson. "Saya pikir salah satu alasan terbesar kepergian Van Nistelrooy saat Man United bertanding pada fina Piala Liga," ujar Ferdinand dikutip dari Mirror.

"Van Nistelrooy tidak bermain saat awal pertandingan, tetapi dirinya mengatakan bahwa Ferguson berjanji akan memainkannya. Namun, dia tidak kunjung dimainkan yang jelas membuatnya kesal. Van Nistelrooy menjadi gila di bangku cadangan lalu berteriak dan memaki sang pelatih."

"Saya pikir Ferguson terlihat berpikir dan berkata,'Anda tahu, inilah saat (untuk mendepaknya dari klub)'," ucap bek yang pernah membela Setan Merah selama 12 tahun itu.

Dan benar saja di pengujung musim sang bomber dijual ke Real Madrid. Keputusan yang dinilai aneh oleh banyak orang, karena Ruud sejatinya tengah on-fire.

 

5 dari 10 halaman

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo dipinang oleh Manchester United dari Sporting Lison dengan nilai kontrak 12 juta poundsterling atau sekitar Rp215 miliar pada tahun 2003. Ia didatangkan untuk menggantikan David Beckham.

Pada awal kedatangannya, banyak orang ragu dengan kualitas CR7. Kemampuannya melakukan crossing dan assist dinilai kalah jauh dibanding Beckham. Tapi keraguan itu perlahn sirna. Di tangan Sir Alex Ferguson, Ronaldo menjelma menjadi penyerang menakutkan.

Berbeda dengan Beckham yang bermain sebagai gelandang sayap murni, Ronaldo difungsikan sebagai penyerang yang bergerak dari sisi melebar. Ia amat produktif di United.

Bersama The Red Devils, kiprahnya semakin bersinar dan membantu tim meraih tiga gelar Liga Inggris, serta masing-masing trofi Liga Champions Eropa dan Piala Dunia Antarklub.

Enam musim di Inggris, akhirnya Ronaldo melakukan langkah besar dengan hengkang ke Liga Spanyol dan memperkuat Real Madrid pada tahun 2009.

Keputusan ini terasa menyesakkan bagi Sir Alex Ferguson. Bukan rahasia lagi, CR7 merupakan salah satu pemain kesayangannya. Ia tipikal penurut dan tak banyak tingkah. Ronaldo pemain yang bisa menyatu dengan timnya.

Ia bisa menjaga kekompakan dengan pemain lain walau punya keistimewaan yang berlebih. Tapi apa mau dikata, Cristiano Ronaldo memutuskan pergi. Ia ingin mewujudkan mimpi masa kecilnya bermain di Real Madrid.

Performanya pun tidak kalah jauh saat di Manchester United, bahkan empat gelar Liga Champions dan tiga trofi Piala Dunia Antarklub berhasil ia rengkuh bersama El Real.

 

6 dari 10 halaman

Carlos Tevez

Saat masih bersama Manchester United, Carlos Tevez merupakan pemain andalan di lini depan bersama Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo. Bahkan, pada musim pertamanya, 2007-2008, Tevez berhasil mempersembahkan dua gelar, Liga Inggris dan Liga Champions.

Selain itu, dia mampu mencetak 19 gol dari 48 pertandingan di semua kompetisi. Sayangnya, performa Tevez menurun di musim keduanya bersama Setan Merah.

Hal tersebut diakui oleh legenda United, Gary Neville. Bahkan, penyerang asal Argentina tersebut terlihat ogah-ogahan bermain untuk tim yang kala itu masih dinakhodai Sir Alex Ferguson.

"Yang membuat saya kesal dengan Tevez adalah, dia malas-malasan di musim keduanya. Dia sering berada di meja perawatan, datang terlambat saat latihan, dan mulai main-main," kata Neville, seperti dikutip dari Sky Sports.

"Saya merasa kecewa. Sebab, sebagai seorang profesional, dia sudah berindak sangat keterlaluan. Masalah saya bukan karena dia pindah ke Manchester City. Namun, cara bermainnya yang buruk dalam beberapa bulan terakhir," ujar legenda MU berusia 45 tahun itu melanjutkan.

Tevez saat masih bermain untuk Setan Merah merupakan pemain yang dipinjam dari West Ham United selama dua tahun. Di musim keduanya, Tevez tidak menemukan kata sepakat dengan United soal kontrak permanen.

Neville menyebut agennya telah mempengaruhi Tevez untuk bermain buruk bersama Man United. Selain itu, ada tawaran menggiurkan dari Manchester City.

"Saya paham dia punya situasi pelik. Namun, pembisiknya itu selalu didengarkan. Dia diatur sama pembisiknya," ucap Gary.

Neville pun menyebut cara Tevez meninggalkan Old Trafford sama sekali tidak berkelas. Namun dia mengakui kalau trio MU kala itu, Tevez, Ronaldo, dan Rooney, tidak bisa dihentikan tim lain.

"Saya tidak punya masalah dengan pemain yang meninggalkan klub seperti Cristiano Ronaldo, David Beckham, dan Ruud van Nistelrooy. Mereka semua hebat. Namun, untuk meninggalkan klub (seperti Tevez), lihatlah cara bersikapnya."

"Namun saya pertegas. Tevez, selama satu tahun dengan Ronaldo dan Rooney sangat menakjubkan," kata Neville.

7 dari 10 halaman

Wayne Rooney

Setelah 13 tahun berseragam Manchester United, Wayne Rooney, memilih angkat kaki dari Old Trafford. Wazza hengkang dari MU dan kembali ke klub masa kecilnya, Everton.

Everton mengumumkan jika Wayne Rooney telah bergabung dari Manchester United, dan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan biaya transfer yang tak diungkapkan," bunyi penyataan Everton di situs resmi klub.

Rooney merupakan salah satu penyerang yang disegani di Inggris dan Eropa. Tak hanya piawai dalam membobol gawang lawan, dia juga kerap menjadi kreator gol rekan setimnya di Manchester United.

Namun, sejak kedatangan Jose Mourinho ke United pada 27 Mei 2016, Wayne Rooney mulai kehilangan tampat di skuat inti. Posisinya di Setan Merah lebih sering diisi oleh Zlatan Ibrahimovic, Marcus Rashford, Juan Mata, ataupun Henrikh Mkhitaryan.

Alhasil, Rooney hanya tampil dalam 39 laga yang 13 di antaranya bermain selama 90 menit penuh. Dari 39 pertandingan tersebut, pemain bernama lengkap Wayne Mark Rooney itu berhasil mendulang delapan gol plus 10 assist. Ironis rasanya, karena di saat bersamaan nama Rooney selalu menghiasi skuat Timnas Inggris.

Di usianya yang 31 tahun saat itu bisa dibilang bulan merupakan senjakala kariernya. Keputusan Mourinho mencadangkan Rooney jelas sebuah kesalahan besar.

Tak ingin selalu menjadi penghangat bangku cadangan, Wayne Rooney akhirnya memilih pergi dari MU, dan kembali ke klub lamanya Everton. Bersama Everton, Rooney sepakat menandatangani kontrak sampai 30 Juni 2019.

"Wayne Rooney telah memperlihatkan kepada saya ambisi yang kami butuhkan dan mental kemenangan. Dia tahu bagaimana cara memenangkan gelar dan saya sangat senang dia memutuskan untuk pulang," ujar manajer Everton saat itu, Ronald Koemann.

Karier Rooney di Old Trafford dimulai pada Agustus 2004. The Red Devils harus mengeluarkan dana hingga 25,6 juta poundsterling (Rp 442 miliar) demi bisa memboyong Rooney dari Everton.

Harga tersebut membuat Wazza menjadi salah satu pesepak bola di bawah 20 tahun dengan nilai transfer termahal di Inggris. Ketika itu, Rooney baru berusia 18 tahun.

"Saya ingin semuanya jelas, jika saya ingin pergi dari Everton. Begitu saya tahu Manchester United tertarik, hanya ada satu tempat yang akan saya jalani," ujar Rooney seperti dilansir BBC.

"Saya tahu jika saya ingin melanjutkan karier dan bermain di Liga Champions," lanjutnya ketika pertama kali diperkenalkan sebagai pemain The Red Devils.

Dibeli dengan harga yang cukup mahal tak membuat Wayne Rooney terbebani. Dia justru mampu memperlihatkan ketajamannya di lapangan.

Pada musim perdana bersama Manchester United, Rooney berhasil mencetak 17 gol dan lima assist dari 43 pertandingan di seluruh ajang kompetisi.

Penampilan Wayne Rooney bersama Setan Merah terus berkembang setiap musim. Secara keseluruhan, dia telah mengoleksi 253 gol dari 559 pertandingan di seluruh ajang kompetisi bersama MU.

Jumlah tersebut membuat Rooney menjadi top skorer sepanjang masa Manchester United. Dia unggul empat gol atas legenda The Red Devils, Sir Bobby Charlton, yang berada di tempat kedua.

Wayne Rooney juga turut berkontribusi membawa Manchester United meraih 15 gelar juara, yakni lima trofi Premier League, satu Piala FA, tiga titel Piala Liga Inggris, empat gelar Community Shield, serta masih-masing satu gelar Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Dunia Antarklub.

8 dari 10 halaman

Romelu Lukaku

Romelu Lukaku menceritakan bagaimana ia menyadari bahwa waktunya di Manchester United telah berakhir. Ia merasa saat manajer United, Ole Gunnar Solskjaer memutuskan untuk menggunakannya dalam peran yang luas.

Seperti diketahui, pemain asal Belgia itu sudah hengkang dari MU dengan menyelesaikan transfer senilai 74 juta poundsterling ke Inter Milan musim panas lalu. Di klub barunya ia telah mencetak 10 gol sejauh ini.

Kepergian Lukaku dari Man United didasarkan pada fakta bahwa Solskjaer, berbeda dengan Jose Mourinho. Sangat jelas Solskjaer lebih suka menggunakan Marcus Rashford sebagai nomor sembilan klub.

Berkaca pada waktunya di Old Trafford, Lukaku mengatakan kepada Corriere dello Sport: "Setelah saya mengetahui bahwa (Ole Gunnar) Solskjaer berencana untuk menempatkan saya di sayap, maka saya tahu waktu saya di MU telah berakhir."

"Saya selalu menghormati Solskjaer. Dia sangat mengerti keinginan saya untuk pindah," kata Lukaku seperti dilansir Evening Standard.

"Sebenarya Solskjaer ingin saya bertahan di United. Namun saya ingin mencoba sesuatu yang baru."

Lukaku dimainkan Solskjaer dengan peran beda ketika Manchester United menang 3-1 atas Arsenal di Emirates pada bulan Januari lalu. Kemudian ketika Red Devils ditahan imbang 0-0 Liverpool pada Februari.

Penyerang asal Belgia itu tak senang dimainkan sebagai penyerang sayap. Ia merasa posisi terbaiknya adalah striker.

Romelu Lukaku merasa lebih bahagia di Inter Milan klub barunya. Antonio Conte membantunya bangkit.

"Latihan di sini berbeda, di sini Anda diminta untuk bekerja lebih keras," kata Lukaku.

"Tanya saja Ashley Young. Ada banyak perbedaan. Di sini tim adalah tim, ada seperti ikatan tersendiri, bahkan kami memiliki waktu untuk makan bersama sebanyak dua atau tiga kali dalam seminggu."

 "Di sini semua dikerjakan bersama-sama, tidak ada yang ditinggalkan," tutur Lukaku menambahkan seakan menyindir Manchester United yang tak menolongnya saat periode terpuruk pada musim keduanya.

 

9 dari 10 halaman

Angel Di Maria

Angel Di Maria melakoni kepindahan fantastis kala berlabuh ke klub raksasa Inggris, Manchester United, dengan mahar 59,7 juta pound dari klub Real Madrid pada musim panas 2014.

Dengan nilai transfer sebesar itu, ekspektasi publik Old Trafford terhadap dirinya sangat tinggi. Apalagi Di Maria sedang dalam puncak performa di usianya yang ke-26 tahun.

Saat empat tahun memperkuat Real Madrid, Angel Di Maria telah mencatatkan 36 gol dan 85 assist dari 190 laga. Ia juga menjadi man of the match pada kemenangan Real Madrid di final Liga Champions.

Namun, semua ini berbanding terbalik ketika dirinya di Man United. Kiprahnya selama semusim di tim Setan Merah memang pantas dilupakan.

Meski mencetak gol indah di pekan-pekan awal, perjalanan karier singkat Di Maria di Man United terbilang buruk bagi pemain sekelasnya. Dirinya gagal beradaptasi dengan baik di Inggris.

Di Maria tak melulu jadi pilihan utama pelatih. Ia juga hanya main 32 kali di semua kompetisi dan mencetak 12 assist.

ampil melempem di Man United membuat Di Maria dicap telah habis. Banyak yang meyakini tak ada tim elite yang mau membelinya lagi dengan harga tinggi.

Namun beruntung, ketika itu tim kaya PSG tertarik mendatangkannya dengan uang 44 juta pound. Keputusan PSG ternyata tepat, karena di Parc des Princes, Di Maria kembali menemukan sentuhan terbaiknya.

Bak sebuah renaissance, Angel Di Maria melakoni masa kebangkitan keduanya di PSG. Di klub itu ia sanggup tampil gemilang seperti saat memperkuat Real Madrid enam tahun lalu.

Angel di Maria selalu menjadi pilihan utama dan telah melakoni 217 laga sejak 2015. Dari 217 laga ia sanggup mencatatkan 90 assist dan 80 gol.

Sumber: Berbagai sumber

 

10 dari 10 halaman

Video

Profil Bintang Luis Suarez, Penyerang Barcelona yang Sukses Berkat Cinta Pertamanya

Video Populer

Foto Populer