Hero Background

era baru

Di piala dunia 2026

104 Laga, 48 Negara, 3 Tuan Rumah: Wajah Baru Piala Dunia yang Mengubah Segalanya

Scroll Down Navigation

Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, sedang bersiap menyambut jutaan penonton yang akan menjadi saksi gegap gempita turnamen sepak bola paling bergengsi yang akan digelar pada 11 Juni hingga 24 Juli 2026.

Jauh sebelum bergulir, Piala Dunia 2026 telah diwarnai beragam perdebatan, drama, antusiasme, hingga keraguan yang silih berganti bermunculan. Semua itu dipicu fakta Piala Dunia 2026 bakal sangat berbeda.

Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar kompetisi, tetapi sebuah festival raksasa yang membentang dari dinginnya Vancouver di Kanada hingga panasnya pantai Miami di Amerika Serikat. Bayangkan saja, Piala Dunia kali ini untuk pertama kali akan digelar di tiga negara, serta melibatkan 48 negara, menjadi yang terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Langkah berani FIFA untuk mengubah format menjadi 48 tim sebenarnya lahir dari ambisi besar mengenai inklusivitas global. Presiden FIFA, Gianni Infantino, ingin memastikan sepak bola benar-benar milik dunia, bukan hanya hak istimewa negara-negara raksasa tradisional.

Dengan menambah kuota, negara-negara dari Asia, Afrika, dan Oseania kini memiliki pintu yang lebih lebar. Sepanjang sejarah Piala Dunia, dominasi negara-negara Eropa dan kekuatan tradisional di Amerika Selatan sangat terasa. Keterwakilan Afrika, hingga Asia kurang terasa.

Sepuluh dari 16 peserta pada tahun 1978 berasal dari Eropa. Sementara itu, pada Piala Dunia 1990, Asia, Afrika, serta kawasan CONCACAF, yang meliputi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, masing-masing hanya memiliki dua wakil. Sejak FIFA memperluas jumlah tim menjadi 32 tim pada 1998, distribusi peserta menjadi lebih merata. Meski begitu, Eropa masih mendapat 13 slot, dan Afrika hanya lima.

Calon Juara Piala Dunia 2026

peserta lebih

berimbang

Setelah FIFA memutuskan memakai format 48 tim, distribusi peserta juga lebih berimbang. UEFA memperoleh jatah 16 tim, Afrika 10, Asia sembilan, sedangkan CONCANCAF dan CONMEBOL masing-masing enam, plus satu tiket untuk Oseania yang diwakili Selandia Baru.

Perluasan ini memungkinkan beberapa negara terkecil di dunia untuk lolos ke putaran final untuk pertama kalinya, terutama pulau Karibia yang mungil, Curacao, dengan populasi yang hanya mencapai 160.000 jiwa.

“Sekali dalam satu dekade atau sekali setiap empat tahun, terjadilah sebuah negara kecil menjadi kejutan,” kata pelatih Curacao, Fred Rutten, kepada AFP, seraya berharap dapat menciptakan satu atau dua kejutan besar.

Sayangnya, Fred Rutten dipecat sebulan sebelum Piala Dunia 2026 berlangsung dan harus mengubur mimpi besarnya.

Semua perubahan di Piala Dunia 2026 tersebut membawa konsekuensi besar pula. Pencinta sepak bola dunia tidak lagi melihat 64 pertandingan, melainkan 104 laga yang akan memanjakan mata penonton selama 39 hari penuh, sekitar satu pekan lebih lama daripada Piala Dunia edisi-edisi sebelumnya.

Format baru Piala Dunia ini terasa seperti labirin yang mendebarkan. Sebanyak 14 tim dibagi ke dalam 12 grup yang masing-masing berisi empat tim. Yang paling radikal adalah diperkenalkannya babak 32 besar, yang merupakan fase gugur tambahan yang membuat perjalanan menuju trofi menjadi satu langkah lebih jauh.

Tim finalis kini harus melewati delapan pertandingan untuk menjadi kampiun, bukan lagi tujuh laga. Di sisi teknis, FIFA juga melakukan eksperimen untuk mempercepat tempo, seperti pembatasan waktu bagi kiper untuk memegang bola dan aturan ketat terkait manajemen waktu di lapangan guna meminimalkan drama buang-buang waktu.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan Piala Dunia 2026 akan menjadi peristiwa yang transformatif. Pria Italia itu menyuarakan janji tersebut saat berbicara di hadapan para peserta KTT yang diselenggarakan oleh Future Investment Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang dijalankan oleh dana kekayaan kedaulatan utama Arab Saudi, Public Investment Fund.

“Pertunjukan terbesar di planet ini, pertunjukan terbesar di Bumi, dunia akan berhenti sejenak. Anda tahu, kita semua belajar di sekolah bahwa dunia berputar mengelilingi matahari, dan seterusnya, lalu berputar pada porosnya sendiri. Nah, selama 39 hari Piala Dunia FIFA, dunia akan berhenti sejenak, dan semua orang akan menyaksikan serta fokus pada sepak bola,” ujar Infantino dengan penggambaran hiperbola mengenai Piala Dunia 2026.

Infantino, menegaskan kembali dampak ekonomi yang besar dari turnamen 48 negara yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini.

“Enam belas kota tuan rumah yang fantastis di negara-negara ini, yang akan diikuti oleh 48 tim dari 48 negara. Mereka akan memainkan 104 pertandingan dalam 39 hari, yang pada dasarnya setara dengan 104 Super Bowl dalam waktu satu bulan lebih sedikit” - katanya.

Infantino mengklaim bahkan sebelum bola pertama ditendang di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, minat global untuk menyaksikan turnamen ini langsung dari stadion telah mencapai jutaan orang, dengan miliaran orang lainnya diperkirakan akan terlibat dari seluruh penjuru dunia.

"Jadi, dunia akan berhenti sejenak, dan semua orang akan fokus pada apa yang terjadi di Amerika Utara, 76 hari dari sekarang," ucapnya.

Keputusan FIFA memperluas jumlah peserta Piala Dunia hingga menunjuk tiga negara sebagai tuan rumah tidak terhindar dari kritikan. Salah satu kritikan terpedas justru datang dari mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter.

"Ini tidak benar. Dengan menyatukan ketiga tuan rumah tersebut, orang akan mengira mereka akan mendapatkan pembagian kue yang kurang lebih sama. Perluasan kompetisi menjadi 48 tim itu tidak bagus. Dan bermain di tiga negara bahkan lebih buruk lagi, terutama karena dua dari negara-negara tersebut hanya menerima remah-remahnya saja,” sergah Blatter, dalam wawancara dengan Radio Canada pada Januari 2026.

"Dalam Piala Dunia kali ini, pihak yang paling diuntungkan adalah Amerika Serikat, tetapi bukan para penonton. Sebuah Piala Dunia seharusnya tidak diselenggarakan di negara yang tidak memberikan visa (kepada semua orang)."

Ya, Amerika Serikat, yang dipimpin Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menerapkan serangkaian pembatasan perjalanan yang berdampak pada warga negara dari negara-negara tertentu, termasuk Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti, yang telah masuk putaran final Piala Dunia 2026.

Pro dan kontra tentang format baru Piala Dunia 2026 dan penunjukkan tiga negara sebagai tuan rumah bahkan masih terus dibahas hingga menjelang bergulirnya turnamen akbar tersebut.

Calon Juara Piala Dunia 2026

kehilangan

ketegangan

Namun, di balik ambisi FIFA untuk melibatkan lebih banyak negara di Piala Dunia demi prinsip inklusivitas global, muncul kekhawatiran di sisi lain. Tak sedikit yang khawatir jumlah peserta yang banyak dan format baru justru menghilangkan ketegangan (jeopardy) yang selama ini membuat kompetisi ini begitu luar biasa.

Tak sedikit yang khawatir Piala Dunia 2026 akan kehilangan banyak ketegangan di fase awal karena negara-negara besar kemungkinan tidak akan terlalu khawatir. Meski, menderita kekalahan di laga perdana, berbeda dengan Piala Dunia 2022 ketika Argentina benar-benar panik setelah dikalahkan oleh Arab Saudi.

Melihat tim raksasa tersingkir di fase grup, seperti yang dialami Jerman pada dua Piala Dunia terakhir, kemungkinan kini tinggal menjadi kenangan masa lalu.

Pada 2022, fase grup menyajikan 48 pertandingan untuk mengeliminasi 16 tim. Kali ini, akan ada 72 pertandingan di babak pertama hanya untuk menyaring jumlah tim yang sama.

Untuk mencapai babak final, tim-tim sekarang harus memainkan delapan pertandingan, yang berpotensi dilakukan dalam kondisi cuaca musim panas Amerika Utara yang menguras energi, alih-alih tujuh pertandingan seperti sebelumnya, yang semakin menambah beban berat bagi para pemain.

“Saya paham argumen tentang peningkatan keterwakilan, tetapi saya pikir putaran final dengan 32 tim sudah sempurna,” kata Jonathan Wilson, penulis buku The Power and the Glory, A New History of the World Cup, seperti dikutip dari Supersport, Senin (11/5/2026).

“Masalah terbesar dari hal ini sebenarnya bukan soal kualitas, melainkan pengenceran tontonan di babak pertama dengan adanya delapan tim peringkat ketiga yang lolos,” katanya kepada AFP, seraya menyiratkan fase grup mungkin pada akhirnya akan menguji kesabaran orang-orang.

Selain itu, ia mengatakan risiko dengan adanya babak gugur tambahan. “Format itu mungkin mendorong permainan sepak bola yang cukup membosankan dan berhati-hati,” ujar Wilson.

Bagi tim-tim besar, langkah pertama adalah memastikan agar tidak terpeleset secara tidak terduga di awal.

“Anda hanya perlu fokus pada grup, itulah yang Anda lakukan, dan memastikan Anda berada dalam kondisi mental yang tepat,” tegas pelatih Inggris, Thomas Tuchel.

Selain itu, banyak pula yang mengkhawatirkan munculnya fenomena "persekongkolan" di laga terakhir grup karena format peringkat tiga terbaik bisa memicu tim untuk bermain aman demi hasil imbang.

Di balik kontroversi tentang format baru, kebijakan Donald Trump yang kontroversial dan lain-lain, secara finansial, turnamen ini adalah "mesin uang" yang tak terbendung, diprediksi menyumbang lebih dari $80 miliar dolar AS terhadap ekonomi global. Total hadiah uang yang disiapkan mencapai sekitar Rp14 triliun, di mana sang juara diproyeksikan mengantongi hampir Rp900 miliar.

“Ini sangat kuat, ini penting. Saya bisa menyampaikan semua itu kepada Anda, saya juga bisa berbicara karena kita berada di antara para investor dan ekonom mengenai dampak ekonomi dari Piala Dunia. Nilainya sekitar 80 miliar dolar AS,” kata Infantino.

Infantino itu menambahkan bahwa turnamen Piala Dunia 2026 tersebut akan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja dan memberikan manfaat sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Kampanye promosi bertajuk "We Are 26" pun telah digencarkan, tetapi untuk menyatukan identitas tiga negara tuan rumah yang berbeda budaya namun dipersatukan oleh gairah yang sama.

Ya, Piala Dunia 2026 memang menjanjikan kesempatan bersejarah bagi negara-negara yang dulu hanya jadi penonton. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah kebijakan itu akan membuat kompetisi menjadi lebih menarik atau malah mengikis romantisme lama Piala Dunia?

Namun, di luar semua perdebatan itu, esensi terpenting Piala Dunia adalah apa yang terjadi di lapangan. Negara-negara seperti Spanyol, Prancis, Argentina, Inggris, hingga Brasil akan berusaha unjuk kekuatan sebagai kekuatan tradisional sepak bola. Namun, tim-tim seperti Jepang hingga Bosnia tentu punya hasrat besar menciptakan kejutan.

Miliaran pasang mata di dunia juga akan tersihir aksi bintang-bintang lapangan hijau, menerka-menerka siapa calon pemain terbaik, top scorer, hingga berderet rising star. Para pencari bakat milik klub-klub top dunia juga akan berkumpul di Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada untuk menjadi yang tercepat menemukan mutiara terpendam.

Jangan lupakan juga, Piala Dunia 2026 mungkin akan menjadi kesempatan terakhir pencinta sepak bola dunia menyaksikan “tarian” Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di panggung besar ini. Ingat, mereka sudah tak muda lagi.

Calon Juara Piala Dunia 2026
powerade

Deretan Kontroversi:

Harga Tiket Selangit hingga Polemik Iran

Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko seharusnya menjadi pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah. Namun, menjelang kick-off, turnamen ini justru diwarnai berbagai kontroversi yang memicu perdebatan global.

Format baru dengan 48 tim memang menghadirkan antusiasme luar biasa dari penggemar. Permintaan tiket melonjak drastis dan diprediksi akan memecahkan rekor kehadiran sepanjang sejarah Piala Dunia.

Di balik euforia tersebut, sejumlah kebijakan dan situasi di luar lapangan justru menimbulkan polemik. Mulai harga tiket yang dianggap tidak masuk akal, aturan FIFA yang menuai kritik, hingga isu geopolitik yang menyeret keikutsertaan Iran.

Situasi ini membuat Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga arena tarik-menarik kepentingan ekonomi, politik, dan regulasi global.

Situasi ini membuat Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga arena tarik-menarik kepentingan ekonomi, politik, dan regulasi global.

Satu di antara kontroversi terbesar datang dari sektor tiket. FIFA mendapat kritik keras setelah harga tiket melonjak tajam, bahkan sempat menyentuh angka ribuan dolar untuk laga tertentu.

Lebih kontroversial lagi, FIFA menghapus batas harga resale tiket dan mengambil komisi dari transaksi tersebut. Kebijakan ini dinilai membuka ruang spekulasi dan membuat harga tiket semakin tidak terjangkau bagi suporter biasa.

Tekanan dari publik akhirnya memaksa FIFA menyesuaikan strategi dengan menghadirkan kategori tiket lebih murah. Namun, langkah itu belum sepenuhnya meredam kritik karena distribusinya terbatas dan tidak merata.

Masalah lain muncul dari sisi teknis. Berdasarkan laporan CBS News, penjualan tiket sempat kacau dengan antrean panjang hingga 90 menit dan gangguan sistem daring, membuat banyak penggemar frustrasi saat mencoba membeli tiket.

Bahkan, FIFA juga mengakui bahwa memiliki tiket tidak menjamin seseorang bisa masuk ke negara tuan rumah, terutama Amerika Serikat, karena tetap harus memenuhi aturan imigrasi.

Kontroversi lain yang tak kalah besar adalah soal keikutsertaan Iran di turnamen ini.

Gelombang protes muncul di Kanada menjelang Kongres FIFA, dengan sejumlah kelompok mendesak agar Iran dikeluarkan dari Piala Dunia. Mereka menilai Timnas Iran tidak merepresentasikan rakyat, melainkan rezim yang berkuasa.

Situasi semakin rumit ketika beberapa pejabat Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) ditolak masuk ke Kanada karena keterkaitan dengan organisasi yang dianggap bermasalah secara politik dan keamanan.

Di sisi lain, FIFA tetap pada pendiriannya. Presiden Gianni Infantino menegaskan bahwa Iran tetap akan tampil di Piala Dunia dan memainkan laga sesuai jadwal, termasuk di Amerika Serikat.

Namun, ketegangan geopolitik antara Iran dan negara tuan rumah memunculkan kekhawatiran tersendiri, termasuk soal keamanan, logistik, hingga kemungkinan perubahan venue pertandingan.

Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam sejarah, baik dari sisi jumlah peserta, skala penyelenggaraan, maupun potensi pendapatan.

Akan tetapi, besarnya skala tersebut juga berbanding lurus dengan kompleksitas masalah yang muncul. The Independent melaporkan, dari kebijakan komersial yang dinilai memberatkan fans, hingga isu politik yang sulit dipisahkan dari olahraga modern.

FIFA berada di posisi sulit: menjaga keseimbangan antara bisnis, regulasi, dan nilai sportivitas. Sementara itu, publik kini semakin kritis dan tidak segan menyuarakan ketidakpuasan.

Jika tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Piala Dunia 2026 akan lebih dikenang karena kontroversinya ketimbang aksi di lapangan.

Calon Juara Piala Dunia 2026

Momen bersejarah

4 tim debutan

Empat tim debutan akan mewarnai Piala Dunia 2026 dengan kisah perjuangan yang inspiratif. Keempat tim tersebut adalah Timnas Tanjung Verde, Timnas Curacao, Timnas Yordania, dan Timnas Uzbekistan.

Tanjung Verde, Curacao, Yordania, serta Uzbekistan menorehkan sejarah dengan cara yang berbeda. Meski begitu, mereka memiliki satu benang merah, yakni kerja keras, konsistensi, dan tekad membara untuk ambil bagian di turnamen terakbar di sepak bola tersebut.

Tanjung Verde menjadi simbol kebangkitan negara kecil Afrika yang mengandalkan kekuatan kolektif dan pemain diaspora di Eropa. Nama-nama seperti Ryan Mendes (Igdir), Garry Rodrigues (Apollon Limassol), Kevin Pina (Krasnodar), serta Deroy Duarte (Ludogorets Razgrad) merupakan beberapa pilar penting Timnas Tanjung Verde.

Tim yang dijuluki Tubaroes Azui tersebut tampil disiplin serta punya organisasi permainan yang solid sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika (CAF). Mereka sukses meraih tiket ke putaran final sebagai pemuncak Grup D, mengungguli tim kuat Afrika, Kamerun.

Tim yang dijuluki Tubaroes Azuis tersebut tampil disiplin serta organisasi permainan yang solid sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika (CAF). Mereka sukses meraih tiket ke putaran final sebagai pemuncak Grup D, mengungguli tim kuat Afrika, Kamerun.

Curacao yang selama ini sering dipandang sebagai underdog di kawasan Amerika Utara (CONCACAF), menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Diperkuat deretan pemain yang mayoritas menjalani karier di luar negeri, Timnas Curacao tampil kompetitif dan akhirnya menembus panggung Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Mengandalkan beberapa nama tenar seperti Roshon van Eijma (RKC Waalwijk), Godfried Roemeratoe (RKC Waalwijk), hingga duo kakak-beradik Leandro Bacuna (Igdir) dan Juninho Bacuna (Volendam), Timnas Curacao berhasil memuncaki Grup B sekaligus mengamankan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026.

Dari Asia, Yordania melanjutkan tren positif setelah performa impresif di level kontinental. Mereka tampil konsisten di kualifikasi Piala Dunia 2026, mengandalkan pertahanan kukuh dan efektivitas serangan balik untuk mengamankan tiket bersejarah.

Tim yang dijuluki The Chivalrous Ones tersebut berhasil melenggang ke putaran final dengan status peringkat kedua Grup B putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Mereka hanya kalah dari Korea Selatan yang menempati posisi teratas grup.

Sementara itu, Uzbekistan akhirnya mematahkan "kutukan nyaris lolos" yang selama ini membayangi. Setelah beberapa kali gagal di fase akhir kualifikasi, generasi emas mereka kali ini tampil matang dan tak menyia-nyiakan momentum untuk mencetak sejarah.

Sama seperti Yordania, Timnas Uzbekistan juga lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 pada putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Tim yang dijuluki White Wolves tersebut lolos ke putaran final sebagai peringkat kedua Grup A, hanya terpaut dua poin dari Iran di posisi teratas.

Kehadiran empat debutan tersebut tak hanya menambah warna di Piala Dunia 2026, tetapi juga membuktikan sepak bola terus berkembang secara global. Dari negara kecil hingga kekuatan baru Asia, mimpi tampil di panggung terbesar kini semakin terbuka bagi siapa saja.

Calon Juara Piala Dunia 2026
powerade

Sang Calon Juara

Mereka yang Jadi Favorit Angkat Trofi di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah, di mana untuk kali pertama ada 48 tim.

Tentu saja di antara peserta, beberapa tim menonjol sebagai kandidat terkuat untuk merebut trofi. Inilah lima tim teratas untuk menjadi kandidat juara berdasarkan kualitas skuad, pengalaman pelatih, dan performa terkini.

spanyol

Juara Eropa dengan Identitas Taktik yang Kuat

Spanyol datang ke Amerika Utara dengan status juara bertahan Piala Euro, menjadikan mereka salah satu tim dengan kredensial terbaik dalam turnamen nanti.

Tim matador membangun skuad mereka di sekitar penguasaan bola dan pressing, dengan bintang-bintang muda seperti Lamine Yamal dan Pedri yang telah membuktikan kemampuan mereka di level tertinggi.

Kejelasan taktik mereka berjalan konsisten dari lini belakang hingga depan, dan itu semua akan membuat mereka sangat sulit untuk dikalahkan selama 90 menit pertandingan.

Prancis

Punya Kedalaman Skuad yang Luar Biasa

Prancis memiliki kedalaman talenta yang luar biasa, dan jujur saja, hanya sedikit skuad yang dapat menandingi kualitas Les Bleus di setiap posisi.

Didier Deschamps telah membimbing kelompok ini melalui beberapa siklus turnamen, sehingga pengalaman mereka dalam pertandingan Piala Dunia di tahap ini hampir tidak mungkin ditandingi.

Lini depan mereka menampilkan pemain-pemain yang mampu memutuskan hasil pertandingan apa pun dalam satu momen saja. Hal itu sudah terlihat empat tahun lalu, ketika Kylian Mbappe dkk. menyulitkan Argentina sebelum kalah lewat drama adu penalti di final Piala Dunia 2022.

Argentina

Juara Bertahan yang Punya Kontinuitas Tim

Argentina datang sebagai juara bertahan Piala Dunia dan mempertahankan inti skuad tetap utuh. Kontinuitas semacam itu biasanya memberikan keunggulan nyata bagi sebuah tim.

Dalam turnamen sekelas Piala Dunia, yang nantinya ditentukan melalui sistem gugur pada fase kedua, hal ini cenderung terlihat. Mereka tahu apa yang diperlukan untuk menang ketika tekanan mencapai titik tertinggi.

Inggris

Punya Deretan Penyerang Paling Menjanjikan

Generasi penyerang Timnas Inggris saat ini adalah yang paling menarik yang pernah dihasilkan negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Penggemar sepak bola yang mengikuti kompetisi Eropa akan mengenali sebagian besar skuad ini, di mana para pemainnya berkompetisi di klub-klub papan atas dunia setiap minggu.

Sebut saja Harry Kane di Bayern Munchen, Jude Bellingham di Real Madrid, dan Marcus Rashford bersama Barcelona. Belum lagi mereka yang yang menjadi bintang utama di Premier League, seperti Morgan Rogers dan PDeclan Rice.

Ekspektasi pengggemar di seluruh Inggris sangat jelas, tim ini harus memberikan hasil di turnamen besar setelah dalam dua edisi terakhir Piala Eropa selalu menjadi runner-up.

kata mereka tentang

Favorit Juara

  • marcel desailly
    (Legenda Prancis dan AC Milan)
    “Potensi Prancis sangat besar, begitu juga Spanyol. Portugal juga bisa memberi kejutan.”
  • Arsene wenger
    (mantan manager arsenal)
    “Saya pikir Prancis adalah super favorit. Hanya karena satu alasan. Mereka memiliki lebih banyak penyerang kelas dunia dibandingkan negara lain.”
  • paul scholes
    (Legenda Manchester United)
    “Saya benar-benar percaya Inggris akan memenangkan Piala Dunia 2026. Mereka tim hebat.”
  • jose mourinho
    (Pelatih asal portugal)
    “Ada Brasil yang dilatih oleh Carlo Ancelotti dan ada juga Argentina, tetapi Portugal bisa memenangi Piala Dunia kali ini.”
Last Dance Messi vs Ronaldo Piala Dunia 2026
powerade

the last dance:

messi dan
ronaldo

Tahun 2026 bisa menjadi tarian terakhir dari rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola; Lionel Messi melawan Cristiano Ronaldo. Piala Dunia 2026 di Amerika Utara nanti diperkirakan menjadi panggung penutup bagi dua ikon yang telah mendominasi sepak bola dunia selama hampir dua dekade.

Kendati sudah meninggalkan sepak bola Eropa, Messi masih terus mengoleksi trofi bersama Inter Miami. Kapten Argentina itu belum memastikan tampil di Piala Dunia 2026, namun banyak yang percaya turnamen tersebut akan menjadi kompetisi besar terakhir dalam kariernya.

Sementara itu, Ronaldo tetap menunjukkan ketajamannya bersama Al-Nassr. Di usia 41 tahun, megabintang Portugal tersebut masih menjaga ambisi besarnya untuk menembus 1.000 gol sepanjang karier profesionalnya. Belum lama ini, Ronaldo menggenapi 100 gol di Liga Arab Saudi.

Piala Dunia 2026 juga berpotensi mencatat sejarah baru. Messi dan Ronaldo diprediksi menjadi pemain pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia berbeda sejak debut mereka pada 2006 di Jerman.

Ronaldo masih tampil produktif dengan rata-rata hampir satu gol per pertandingan di Liga Arab Saudi.

Di sisi lain, Messi baru memulai musim 2026 pada Februari setelah membawa Inter Miami menjuarai MLS Cup musim lalu. Namun, perjalanan klub asal Florida itu musim ini belum terlalu meyakinkan, terlebih setelah beberapa pemain senior seperti Jordi Alba dan Sergio Busquets memutuskan pensiun.

Mampukah Messi atau Ronaldo menutup rivalitas legendaris mereka dengan kisah sempurna di Piala Dunia 2026?

Messi datang ke Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan bersama Argentina setelah sukses mengangkat trofi di Qatar 2022. Saat turnamen dimulai nanti, bintang Inter Miami itu berusia 39 tahun.

Kesempatan terakhir CR7

Berbeda dengan edisi sebelumnya, kali ini Messi tidak lagi bermain untuk membuktikan diri. Ia sudah memenangkan hampir semua gelar yang mungkin diraih seorang pesepak bola.

Namun, tekanan justru hadir karena ini kemungkinan menjadi kesempatan terakhirnya tampil di panggung terbesar dunia. Pelatih Lionel Scaloni diyakini akan kembali membangun tim yang mampu memaksimalkan kualitas Messi dengan mengurangi beban fisiknya. Argentina diprediksi tetap menjadi salah satu favorit juara jika sang kapten mampu menjaga kebugaran.

Jika Messi datang dengan status juara dunia, Ronaldo memasuki turnamen dengan misi berbeda. Mega bintang Portugal itu tampil di Piala Dunia pada usia 41 tahun.

Ronaldo telah memenangkan hampir semua trofi besar sepanjang kariernya, termasuk Liga Champions dan Euro 2016. Namun, satu gelar yang belum berhasil ia raih adalah Piala Dunia.

Pemain yang kini berkarier di Al Nassr tersebut masih menunjukkan ketajaman di level klub. Namun, tantangan di Piala Dunia tentu berbeda. Portugal kini memiliki generasi baru seperti Rafael Leao, Bernardo Silva, dan Joao Neves yang membuat pelatih Roberto Martinez harus menemukan keseimbangan ideal.

Selain duo GOAT yang selalu diperdebatkan itu, Piala Dunia 2026 juga bisa menjadi panggung perpisahan bagi pemain seperti Neymar, Kevin De Bruyne, Luka Modric, Mohamed Salah, Son Heung-min, hingga David Alaba.

Apa yang membuat edisi kali ini terasa spesial adalah fakta bahwa begitu banyak legenda meninggalkan panggung hampir secara bersamaan. Mereka adalah generasi yang membentuk sepak bola modern sejak pertengahan 2000-an.

Ketika peluit akhir Piala Dunia 2026 berbunyi di MetLife Stadium, dunia sepak bola mungkin tidak hanya menyaksikan lahirnya juara baru, tetapi juga berakhirnya sebuah era besar yang sulit terulang kembali.

Eks Real Madrid, Marcelo, menegaskan bahwa dunia sepak bola seharusnya menikmati momen langka ini alih-alih terus terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang paling hebat.

“Kita harus bersyukur bisa hidup di era yang menghadirkan keduanya karena pada akhirnya, momen seperti ini tidak akan datang dua kali,” katanya.

Ballon d'or

Sejarah Pemain Pemenang Piala Dunia dan Menyabet Ballon d'Or , Akankah Terjadi Lagi pada Edisi 2026?

Piala Dunia dan Ballon d'Or, dua hal yang dalam sejarahnya sangat berkaitan

Seperti syarat tak tertulis, jika ingin memenangkan Ballon d'Or di tahun yang sama dengan perhelatan Piala Dunia, pemain harus membawa tim nasional masing-masing menjadi juara.

Mengutip Sports Illustrated, sepanjang sejarah ada tujuh pemain yang meraih Ballon d'Or di tahun saat sang pemain merasakan gelar juara Piala Dunia.

Mereka adalah Bobby Charlton (1966-Inggris), Paolo Rossi (1982-Italia), Lothar Matthaus (1990-Jerman), Zinedine Zidane (1998-Prancis), Ronaldo (2002-Brasil), Fabio Cannavaro (2006-Italia), dan Lionel Messi (2022-Argentina).

Lalu, siapa pemain yang berpeluang menjuarai Piala Dunia 2026 dan berpotensi menyabet trofi Ballon d’Or. Berikut kandidatnya.

lionel messi

lionel messi

(argentina)

Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, termasuk melihat Lionel Messi mempertahankan gelar juara Piala Dunia bersama Timnas Argentina pada usia 38 tahun.

Jika terealisasi, tampaknya seperti edisi 2022 di Qatar, Ballon d'Or berpeluang kembali menjadi milik Lionel Messi. Kebetulan Messi sangat akrab dengan penghargaan ini.

Dia sudah meraihnya sebanyak delapan kali dan berstatus pemain dengan gelar Ballon d'Or terbanyak!.

lionel messi

lamine yamal

(spanyol)

Rodri adalah pemain Spanyol terakhir yang merasakan gelar Ballon d'Or pada 2024. Jika Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026, tampaknya penghargaan individu paling prestise di dunia ini bakal jadi milik Lamine Yamal.

Yamal menjadi runner-up Ballon d'Or 2025. Kini di usia masih belia, 18 tahun, perannya sangat krusial untuk Spanyol.

Pada 2024 ketika membawa Spanyol menjadi juara Euro, ia meraih titel Golden Boy, dua tahun berselang pada Piala Dunia 2026, ia berpotensi besar meraih Ballon d'Or. Syaratnya, membawa Spanyol sampai menjadi juara.

lionel messi

kylian mbappe

(prancis)

Percaya atau tidak, Ballon d'Or adalah penghargaan bergengsi yang belum pernah dirasakan Kylian Mbappe bersama titel juara Liga Champions.

Terlepas momen kontroversialnya bersama Real Madrid, Mbappe punya momen pembuktian diri pada Piala Dunia 2026.

Pada dua edisi terakhir, Mbappe mengantar Prancis juara Piala Dunia 2018, runner-up Piala Dunia 2022. Pada Piala Dunia 2026, tentunya Les Blues kembali masuk jajaran favorit. Satu yang belum berubah sejak Piala Dunia 2018, 2022 sampai 2026, Mbappe masih jadi andalan anak asuh Didier Deschamps.

lionel messi

marquinhos

(brasil)

Anda boleh tidak setuju, Bola.com memasukkan nama Marquinhos. Namun, kami punya alasan kuat. Selain juara Piala Dunia, terkadang pemenang Ballon d'Or turut ditentukan oleh sukses sang pemain di Liga Champions.

Marquinhos punya keuntungan dari faktor di atas karena ia berperan krusial membawa PSG sampai ke final Liga Champions. Andai sukses mengalahkan Arsenal di final Liga Champions, lalu eks pemain AS Roma ini mengantarkan Brasil juara Piala Dunia 2026, bukan tidak mungkin gelar Ballon d'Or jadi miliknya.

Ingat pernah ada bek yang mendapat gelar Ballon d'Or, lihat Fabio Cannavaro pada 2006. Apalagi ada kesamaan antara Fabio Cannavaro dan Marquinhos di tim nasional masing-masing: seorang bek tengah plus kapten tim!

lionel messi

cristiano ronaldo

(portugal)

Peraih lima gelar Ballon d'Or plus Timnas Portugal punya jalan mulus menuju Piala Dunia 2026. Jadi, nama Cristiano Ronaldo tetap layak masuk daftar ini.

Tercatat Portugal membukukan 20 gol pada kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa dan Cristiano Ronaldo mencetak lima di antaranya.

Disokong bakat-bakat luar biasa di tim seperti Bruno Fernandes, Joao Neves hingga Vitinha, Cristiano Ronaldo jelas bakal berbicara banyak pada Piala Dunia 2026.

calon-juara

Era Baru di Piala Dunia 2026

Penulis: Wuri Anggarini Cinthya Septavy

Diterbitkan:

image

“104 Laga, 48 Negara, 3 Tuan Rumah: Wajah Baru Piala Dunia yang Mengubah Segalanya

Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, sedang bersiap menyambut jutaan penonton yang akan menjadi saksi gegap gempita turnamen sepak bola paling bergengsi yang akan digelar pada 11 Juni hingga 24 Juli 2026.

Editor: Mahardi Eka