Sukses


Kolom Ian Situmorang: Brasil Vs Belgia, Drama Bernama Neymar

 

Ian Situmorang, Wartawan Olahraga Senior Ada yang mencibir, ada yang memuji setinggi langit. Piala Dunia Rusia 2018 menampilkan sosok yang harus dilihat dari dua sisi berbeda. Sosok tersebut bernama Neymar da Silva Santos Junior. Permain sepak bola termahal dunia.

Bagi Brasil, Neymar adalah pahlawan. Bagi pihak musuh, pemain kelahiran 5 Februari 1992 ini seperti aktor opera sabun. Untuk mendapat keunggulan, jika terjadi kontak kaki agak keras, maka ia langsung berteriak seperti orang sangat kesakitan.

Tapi, logikanya sih, kalau pemilik klub PSG melabelinya sebagai pemain termahal dunia, berarti Neymar tentu punya potensi istimewa. Hal itu sudah ditunjukkan ketika bermain di Barcelona, kemudian PSG dan Timnas Selecao.

Kehadiran Neymar menjadi pembeda di Rusia. Ia mampu menularkan spirit dan optimisme bagi rekan-rekannya. Kemampuan menggocek, melewati lawan, dan mencetak gol menjadi keunggulannya.

Hingga pertandingan keempat, dua gol dicetak dan merupakan pemain yang paling banyak dilanggar, 23 kali.

Neymar bintang Brasil, ya! Tapi, Brasil bukan hanya Neymar, ada 10 pemain lainnya yang memiliki kualitas bintang lima.

Kalau oli Neymar agak encer, maka Willian (Chelsea) yang menjelajah lapangan tengah.

Komposisi 4-2-3-1 sebagai favorit pelatih Tite mampu diimplementasikan pemain secara tepat. Kiper diisi Allison (25-Roma), Bek: Thiago Silva (33-PSG), Miranda (33-Inter Milan), Fagner (29-Corinthians), Filipe Luis (32-Atletico) menggantikan Marcello (30-Madrid).

Dua pemain jangkar yang berperan memotong serangan lawan diisi Casemiro (26-Madrid), Paulinho (29-Barcelona). Trio pengatur irama permainan ditempati Neymar 26), Willian (29) dan Cautinho (26-Barcelona). Ujung tombak ditempati pemain Manchester City, Gabriel Jesus (21).

2 dari 2 halaman

Faktor Keberuntungan

Tidak kalah mentereng pasukan muda The Red Devils, Belgia. Melangkah mulus di penyisihan grup dengan nilai sempurna dan menggusur Jepang di fase gugur. Hasil sempurna inilah yang diharapkan terus terjadi hingga laga akhir.

Racikan pelatih asal Spanyol, Roberto Martinez tepat sekali mengandalkan pasukan muda dengan strategi 3-4-3 yang lebih menyerang. Materi pemain Belgia saat ini dinilai sebagai Golden Generation. 

Kiper, Courtois (26-Chelsea), Alderweireld (29-Totteham), Vertonghen (31-Tottenham), Kompany (32-Manchester City); Barisan tengah dikuasai Kevin de Bruyne (27-City), Axel WItsel (29-Quanjian), Meunier (26-PSG), Carrasco (24-Dalian).

Trio penyerang adalah Mertens (31-Napoli), Eden Hazard (27-Chelsea) dan Romelu Lukaku (25-MU).

Pertandingan pada level seperti ini, kita tidak lagi dapat membandingkan kedua tim dari sisi teknis. Ada factor-faktor yang sulit diterjemahkan dalam analisis, yaitu luck (keberuntungan). Namun, jauh lebih berpengaruh adalah sejarah dan mental juara.

Jika ini menjadi pertimbangan pokok, di luar hal-hal non teknis seperti ganjaran kartu dan tendangan penalti, maka Brasil boleh diunggulkan. Selecao yang semakin menemukan chemistry sesama pemain semakin kompak dan padu.

Belgia sudah menemukan formasi paling pas. Apakah Hazard yang bergaya sama seperti Willian akan lebih bersinar? Mungkinkah Neymar lebih mengkilap dibandingkan De Bruyne?

 Menurut hemat saya, Belgia sudah mencapai puncak permainan terbaik, sebaliknya Brasil semakin menanjak. Maaf, bagi para penggemar Belgia bila saya menyebut bahwa ini adalah panggung Brasil.

 Ayo, Enjoy.

Video Populer

Foto Populer