Sukses


11 Duel Klasik Menguras Emosi Timnas Indonesia Vs Thailand di Pentas Piala AFF

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia bakal melakoni duel ketiga penyisihan Grup B Piala AFF 2018 menghadapi Thailand di Stadion Rajamanggala, Bangkok, Sabtu (17/11/2018). Bukan pekerjaan mudah bagi tim asuhan Bima Sakti meraih kemenangan atas Tim Gajah Putih.

Berstatus sebagai juara bertahan turnamen, Thailand selalu jadi lawan yang sulit bagi Tim Merah-Putih di seluruh ajang sepak bola Asia Tenggara. Baik di Piala AFF maupun SEA Games.

Thailand saat ini jadi tim paling banyak mengoleksi gelar Piala AFF sejak kali pertama turnamen digelar pada tahun 1996. Yakni pada periode 1996, 2000, 2002, 2014, 2016. Sementara itu, Indonesia belum sama sekali mengecap madu trofi Piala AFF.

Tim Garuda hanya jadi spesialis runner-up (lima kali). Padahal pada era 1960 hingga 1980-an kedua negara kerap dijuluki Macan Asia Tenggara. Satu sama lain kerap saling mengalahkan.

Buat Timnas Indonesia pertemuan melawan Thailand pada akhir pekan ini amat krusial. Posisi Hansamu Yama dkk. bisa dibilang belum mapan untuk bisa lolos ke fase semifinal Piala AFF 2018.

Timnas Indonesia saat ini di klasemen sementara berada di posisi kedua Grup B, dengan modal satu kemenangan atas Timor Leste (3-1) dan kekalahan dari Singapura (0-1).

Thailand yang ada di posisi puncak baru menjalani satu pertandingan saja. Tapi hasilnya sensasional, mereka membantai Timor Leste 7-0.

Bola.com mengajak pembaca bernostalgia mengenang laga-laga klasik Timnas Indonesia Vs Thailand di sepanjang penyelenggaraan Piala AFF. Simak cerita serunya.

Sajian liputan eksklusif Timnas Indonesia di Piala AFF  2018 bisa pembaca nikmati dengan mengklik tautan ini

2 dari 7 halaman

Piala AFF 1998: Sepak Bola Gajah yang Memalukan

Keikutsertaan Timnas Indonesia pada Piala AFF 1998 (dulu bernama Piala Tiger) meninggalkan noda hitam bagi sepak bola negeri ini. Kasus sepak bola gajah merusak reputasi Tim Merah-Putih saat itu.

Mungkin masih banyak di antara pembaca Bola.com yang masih ingat kejadian pada Piala AFF 1998 ini. Ya, bila dibandingkan kiprah Timnas Indonesia pada ajang ini, insiden sepak bola gajah yang terjadi pada babak penyisihan, lebih menyita perhatian.

Sikap tidak sportif yang diperlihatkan Tim Garuda tidak hanya menyentak publik dalam negeri karena kejadian ini juga jadi perhatian di pentas internasional.

Kejadian bermula ketika Indonesia tergabung di Grup A bersama Thailand, Myanmar, dan Filipina. Ketika itu Thailand dan Indonesia mendominasi penyisihan grup.

Indonesia mengawali pertandingan pertama Grup A dengan baik. Filipina ditundukkan 3-0. Di laga kedua, giliran Myanmar yang dihajar 6-2 oleh Bima Sakti dkk. Sementara Thailand, imbang 1-1 dengan Myanmar dan menang 3-1 atas Filipina.

Alhasil, Timnas Indonesia yang kala itu dilatih Rusdy Bahalwan (almarhum) dan Thailand memastikan diri tampil di semifinal. Penentuan juara dan runner-up grup ditentukan pada duel terakhir (laga ketiga), yang mempertemukan keduanya.

Tidak diduga, pertandingan yang diprediksi berjalan panas karena dua tim terbaik di Grup A berhadapan, justru memunculkan keanehan sejak awal pertandingan. Kedua tim bermain dalam tempo lambat dan tampak tidak bergairah untuk memenangi pertandingan.

Situasi membaik kala Miro Baldo Bento menjebol gawang Thailand pada menit ke-53. Kemudian susul-menyusul skor terjadi. Thailand lantas menjebol gawang Indonesia yang dikawal Kurnia Sandy. Indonesia balas memimpin 2-1 lewat gol Aji Santoso menit ke-84 dan segera disamakan Thailand dua menit kemudian.

Di pengujung waktu normal, kejadian menyesakkan ini terjadi. Adalah Mursyid Effendi yang jadi pelaku gol bunuh diri pada menit ke-90 yang membuat Indonesia kalah 2-3.

Gol bunuh diri itu tidak hanya mengagetkan penonton di Stadion Thong Nat, Ho Chi Minh, Vietnam, namun juga suporter setia Indonesia yang berada di Tanah Air menyaksikan siaran langsung lewat layar kaca. Nyaris tidak ada yang percaya gol bunuh diri itu terjadi, membuat Indonesia kalah dan jadi runner-up

Unsur kesengajaan dalam proses gol bunuh diri itu sangat jelas terlihat. Melalui layar kaca, penggemar sepak bola di Tanah Air tersentak karena seusai membobol gawang sendiri, Mursyid disambut beberapa rekan setim justru melakukan selebrasi.

Motif menghindari Vietnam di semifinal diduga kuat sebagai alasan Timnas Indonesia dan Thailand enggan menang di partai terakhir penyisihan Grup A hingga akhirnya memilih memainkan sepak bola gajah. 

Saat itu Vietnam dianggap menakutkan untuk dihadapi karena permainan yang diperlihatkan selama penyisihan grup. Padahal, justru Singapura yang keluar sebagai juara Grup B.

Apesnya, rencana menghindari Vietnam di semifinal tetap tidak mampu membawa Indonesia ke final karena di semifinal, Yusuf Ekodono cs. dikalahkan Singapura 1-2 pada 3 September 1998. Sama seperti Indonesia, Thailand juga menyerah dengan skor 0-3 dari Vietnam.

Singapura akhirnya memenangi gelar juara Piala AFF 1998, gelar pertama mereka, setelah menundukkan tuan rumah Vietnam 1-0. Sedangkan Indonesia, mengakhiri Piala AFF 1998 dengan berada di peringkat ketiga setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti (5-4) setelah di waktu normal bermain sama kuat, 3-3.

3 dari 7 halaman

Piala AFF 2000: Dibantai di Final

Timnas Indonesia melaju hingga ke final di Piala AFF edisi 2000. Namun, Tim Garuda tidak tak berdaya ketika harus menghadapi Thailand. Tim Negeri Gajah Putih jadi momok bagi Tim Merah-Putih. Mereka dua kali menggasak Indonesia di edisi turnamen kali ini.

Tim Garuda datang ke Bangkok untuk melakoni penyisihan denhan modal 24 pemain, termasuk Gendut Doni Christiawan yang sempat tidak masuk tim sebelum Bambang Pamungkas akhirnya batal bergabung.

Tim Garuda yang memiliki komposisi terbaik saat itu langsung tampil menggebrak saat menghadapi Filipina di pertandingan pertama. Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento menjadi pilihan utama lini depan Timnas Indonesia dalam pertandingan tersebut.

Hasilnya pertandingan pertama pun sangat memuaskan. Timnas Indonesia memukul Filipina tiga gol tanpa balas. Aji Santoso, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Eko Purdjianto sukses membuat Edmundo Mercado harus tiga kali mengambil bola dari dalam gawangnya sendiri.

Tim Merah-Putih juga meraih kemenangan telak 5-0 saat menghadapi Myanmar. Duet Kurniawan Dwi Yulianto dan Gendut Doni Christiawan tampil memukau dalam pertandingan tersebut.  Masing-masing pemain itu mencetak dua gol, sementara satu gol lain dicetak oleh Uston Nawawi.

Kemenangan atas Myanmar itu adalah kemenangan yang mengantarkan Tim Garuda bisa melangkah ke semifinal sebagai runner-up Grup A karena kalah kelas dari Thailand yang di laga kedua menghujam Indonesia dengan skor telak 4-1.

Timnas Indonesia saat berjumpa Thailand di Piala AFF 2000. (Bola.com/Kientcut.net.vn)

Ya, kekalahan telak 1-4 yang dialami Indonesia dari Thailand terjadi di pertandingan kedua babak grup, di mana buntutnya adalah pelatih Nandar Iskandar diistirahatkan oleh Manajer Timnas Indonesia saat itu, Muhammad Zein.

Namun, beruntung Indonesia masih bisa melangkah ke semifinal karena berhasil meraih kemenangan telak dalam dua laga lainnya dan menghadapi Vietnam di babak empat besar.

Timnas Indonesia yang sempat unggul lebih dulu atas Vietnam di pertandingan semifinal akhirnya harus memaksakan perpanjangan waktu setelah bermain imbang 2-2 dalam waktu normal 90 menit. Beruntung gol penentu kemenangan diciptakan Gendut Doni pada menit terakhir babak perpanjangan waktu kedua, atau menit ke-120.

Tim Garuda pun melangkah ke final dan akhirnya harus kembali menghadapi Thailand yang meraih kemenangan 2-0 atas Malaysia beberapa jam setelahnya.

Sayangnya mimpi buruk Timnas Indonesia di fase grup kembali terulang di pertandingan puncak yang digelar di Stadion Rajamangala, Bangkok. Thailand kembali melucuti Indonesia dengan skor telak.

Tak tanggung-tanggung, Thailand seperti ingin memperlihatkan bahwa kemenangan mereka atas Indonesia di fase grup bukan kebetulan semata. Kedudukan 4-1 untuk kemenangan Thailand kembali terukir di papan skor, seperti halnya di babak grup.

Worrawoot Srimaka, yang mencetak dua gol ke gawang Indonesia di fase grup, seperti menjadi mimpi buruk bagi Timnas Indonesia di pertandingan final. Striker senior Thailand itu mencetak hattrick pada pertandingan final, membuatnya sukses mengejar Gendut Doni dalam daftar pencetak gol terbanyak Piala Tiger 2000. Baik Srimaka dan Gendut Doni sama-sama mengemas lima gol sepanjang turnamen.

4 dari 7 halaman

Piala AFF 2002: Kalah Penalti di Hadapan Publik Sendiri

Piala AFF edisi 2002 menyisakan pengalaman menyakitkan bagi Timnas Indonesia. Pada laga puncak turnamen Thailand mengalahkan Tim Merah-Putih di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dukungan 100 ribu suporter yang memenuhi SUGBK tak berefek pada hasil akhir laga. Pemenang pertandingan final melawan Thailand ditentukan lewat adu penalti. Tim Negeri Gajah Putih membuktikan kalau mental mereka tangguh menghadapi tekanan.

Dalam waktu normal ditambah perpanjangan waktu 2x15 menit, skor tetap sama kuat 2-2. Dalam drama adu penalti empat dari lima eksekutor Thailand berhasil menunaikan tugasnya secara sempurna. Mereka adalah Sakda Joemdaee, Terdsak Chaiman, Manit Noyvach, dan Dusit Chalermsan. Sementara Kiatisuk Senamuang, penendang pertama, gagal.

Sedangkan Indonesia hanya menampilkan empat penendang karena dua di antaranya gagal menceploskan bola ke gawang. Dua pemain yang gagal mengeksekusi penalti itu adalah Bejo Sugiantoro yang tendangannya membentur tiang dan Firmansyah melebar dari gawang Thailand yang dijaga Kittisak Rawangpa.

Kiper Timnas Indonesia, Hendro Kartiko, gagal membendung penalti Manit Noyvach (Thailand) di final Piala AFF 2002. (AFP/Weda)

Kegagalan Indonesia dalam adu penalti ini memunculkan cerita lain. Banyak dari kalangan pencinta sepak bola nasional yang merasa tidak puas dengan eksekutor penalti pilihan Ivan Kolev.

Kabar yang mencuat ke permukaan, Ivan Kolev kesulitan memilih para eksekutor penalti karena para pemain jeri. Para pemain konon merasa tidak kuat mental menendang penalti yang begitu berat risikonya di depan puluhan ribu suporter.

Meski tidak ada yang berani membenarkan kabar itu, yang pasti, kegagalan ini cukup menyakitkan buat publik Indonesia. Sedikit kebanggaan yang dimiliki adalah komposisi Timnas Indonesia ketika itu dianggap paling kuat dalam sejarah keikutsertaan di Piala AFF.

Termasuk penghargaan sepatu emas yang diterima Bambang Pamungkas setelah berada di urutan teratas pencetak gol terbanyak dengan koleksi delapan gol, jadi penghibur Indonesia dalam Piala AFF edisi keempat ini.

Separuh gol Bepe lahir saat partai melawan Filipina, sisanya hattrick kala Timnas Indonesia menumbangkan Kamboja 4-2 dan satu gol saat melawan Malaysia di semifinal. 

5 dari 7 halaman

Piala AFF 2008: Dua Kali Dipecundangi di Fase Semifinal

Timnas Indonesia berstatus tim tuan rumah penyisihan Piala AFF 2008. Tim Merah-Putih pun mencanangkan kebangkitan setelah perjalanan terburuk di Piala AFF 2007. Sayangnya, Charis Yulianto dkk. hanya tampil apik di dua pertandingan awal penyisihan, sebelum melorot dan akhirnya terkapar di semifinal.

Timnas Indonesia menghibur pecinta sepak bola Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, saat menghadapi Myanmar di pertandingan pertama Grup A. Tiga pemain pilar Tim Garuda, Budi Sudarsono, Firman Utina, dan Bambang Pamungkas, sukses membawa Tim Garuda menang telak 3-0.

Euforia pun berlanjut di pertandingan kedua. Para pendukung Timnas Indonesia sudah mengetahui bahwa tim kesayangan mereka akan kembali meraih kemenangan besar karena menghadapi Kamboja yang memang selalu kesulitan jika menghadapi Tim Garuda.

Budi Sudarsono menjadi pemain yang sangat disorot dalam pertandingan tersebut. Dalam 70 menit pemain Sriwijaya FC itu berhasil mencetak hattrick ke gawang Kamboja.

Budi memang menjadi pemain yang sangat ditakuti oleh Timnas Kamboja setelah pada Piala Kemerdekaan Indonesia 2008, gawang mereka bobol empat kali oleh Budi Sudarsono dalam pertandingan yang berakhir 7-0 untuk kemenangan Tim Garuda.

Bambang Pamungkas melengkapi kemenangan Tim Merah-Putih menjadi 4-0 atas Kamboja dengan satu gol tambahan. Indonesia pun dipastikan lolos ke semifinal dan akan menentukan status juara grup atau runner-up ketika menghadapi Singapura di pertandingan terakhir babak grup.

Syamsul Chaeruddin saat berduel dengan pemain Thailand di semifinal Piala AFF 2008 di Jakarta. (AFP/Pornchai Kittiwongsakul)

Namun, publik yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno harus kecewa setelah tim asuhan Benny Dolo dibungkam oleh dua gol Singapura yang dicetak oleh Baihakki Khaizan dan Shi Jiayi. Keganasan Timnas Indonesia di dua pertandingan awal benar-benar tidak lagi tampak dalam pertandingan tersebut.

Keinginan Benny Dolo dan Charis Yulianto, selaku kapten tim, yang ingin menyapu bersih kemenangan di babak grup pun seakan hanya menjadi sebuah retorika dan tak lebih dari psywar jelang pertandingan.

Ketika memasuki lapangan, Timnas Indonesia tampak tidak memainkan taktik dan strategi yang jitu yang seharusnya diberikan Benny. Bahkan Charis dkk. tampak bermain seadanya di pertandingan kontra Singapura itu.

Buruknya permainan Indonesia begitu terlihat jelas karena Tim Negeri Singa pada dasarnya memilih bermain defensif dan mengandalkan serangan balik. Kekalahan di SUGBK ini pun harus dibayar mahal karena dengan demikian Timnas Indonesia harus menghadapi juara Grup B, Thailand, di semifinal.

vMarkus Horison hanya bisa terpaku menyaksikan gawangnya dibobol Thailand saat semifinal Piala AFF 2008. (AFP/Pornchai Kittiwongsakul)

Pendukung Timnas Indonesia mendapatkan kesempatan pertama untuk menyaksikan laga semifinal yang mempertemukan tim kesayangan mereka dengan tim kuat Thailand. Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi pertama Timnas Indonesia menyerah dari Thailand lewat gol tunggal Teerasil Dangda.

Asa sempat menggelora ketika Nova Arianto berhasil mencetak gol pembuka ketika leg kedua semifinal dimainkan di Stadion Rajamangala, Bangkok empat hari kemudian. Sayangnya, gol sang stoper pada menit kesembilan itu tak berhasil menyelamatkan Tim Garuda. Thailand sukses dua kali menjebol gawang Timnas Indonesia yang dikawal Markus Horizon melalui Teeratep Winothai dan Ronnachai Rangsiyo.

Tim Garuda akhirnya harus mengakhiri perjalanan di Piala AFF 2008 dengan catatan yang sangat timpang di awal dan akhir. Dua kemenangan menghadapi Myanmar dan Kamboja di dua laga awal membuktikan bahwa tim asuhan Benny Dollo hanya mampu memberikan hiburan ketika menghadapi tim yang lebih lemah.

Namun, begitu menantang Singapura dan Thailand, yang memang punya sejarah mengalahkan Timnas Indonesia menghadang, hasil mengecewakan harus kembali diterima.

6 dari 7 halaman

Piala AFF 2010: Kemenangan Penyisihan Rasa Final

Berstatus sebagai tuan rumah Grup A di Piala AFF 2010 Timnas Indonesia bersaing bersama Malaysia, Thailand, dan Laos. Sementara Grup B yang dimainkan di Vietnam dihuni tuan rumah bersama Filipina, Singapura, dan Myanmar.

Langkah Tim Merah-Putih terhitung mulus di penyisihan. Usai membantai Malaysia 5-1 selanjutnya tim asuhan Alfred Riedl menggulung Laos dengan skor 6-0 serta menumbangkan tim kuat, Thailand, dengan skor 2-1.

Secara khusus, kemenangan atas Thailand yang kala itu sudah tiga kali meraih trofi juara Piala AFF, diperoleh secara dramatis karena dihasilkan di menit akhir (menit 91) lewat penalti Bambang Pamungkas. 

Timnas Indonesia pun melaju ke semifinal sebagai juara grup dengan nilai sempurna, sembilan, mencetak total 13 gol dan hanya kebobolan dua gol. Langkah Indonesia ini diikuti Malaysia, yang jadi runner-up Grup A.

Di semifinal, Tim Merah-Putih bertemu tim kuda hitam, Filipina. Di luar dugaan Filipina mampu menyingkirkan Singapura dan Myanmar untuk jadi runner-up Grup B mendampingi Vietnam yang jadi juara grup.

Antusiasme suporter meledak selama mendukung perjuangan  Timnas Indonesia di Piala AFF 2010. (AFP/Adek Berry)

Di semifinal, keberuntungan bak menaungi Indonesia. Pasalnya, Filipina terpaksa memainkan laga kandangnya (leg pertama semifinal) di Stadion GBK, karena AFF tidak memberikan rekomendasi Filipina memainkan laga kandang di Manila lantaran stadion yang masih belum memenuhi syarat.

Kepercayaan diri Timnas Indonesia pun membumbung tinggi. Sempat kesulitan membongkar pertahanan The Azkals, gol tunggal Cristian Gonzales menyudahi perlawanan Filipina pada leg pertama. Di leg kedua, pemain naturalisasi asal Uruguay itu kembali jadi pahlawan karena gol tunggalnya mengirim Indonesia ke final. 

Indonesia menyingkirkan Filipina di semifinal dengan agregat gol 2-0 dan mencapai final keempat sepanjang keikutsertaan di Piala AFF sejak edisi pertama pada 1996.

Sayang di partai puncak secara mengejutkan Timnas Indonesia digebuk Malaysia. Pada leg pertama laga puncak di Kuala Lumpur, Tim Garuda dipermak 0-3. Kemenangan 2-1 di Jakarta terasa tak berarti.

7 dari 7 halaman

Piala AFF 2016: Kalah di Final tapi Membanggakan

Piala AFF 2016 menyisakan cerita manis bagi pencinta sepak bola Tanah Air. Usai terkena hukuman skorsing setahun berkecimpung di persaingan internasional FIFA gara-gara intervensi pemerintah ke PSSI, Timnas Indonesia yang melakukan persiapan minimalis malah sukses lolos ke final Piala AFF.

Di partai final, Timnas Indonesia kalah agregat gol 2-3 dari Thailand. Saat menjamu Thailand pada leg pertama final di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, 14 Desember 2016, Indonesia menang 2-1 lewat gol Rizky Pora dan Hansamu Yama. Namun, Thailand mampu mencuri gol tandang melalui Teerasil Dangda.

Pada leg kedua di Stadion Rajamangala, Bangkok, 17 Desember 2016, Timnas Indonesia takluk lewat dua gol Siroch Chattong. Timnas Indonesia pun harus puas pulang dengan status runner-up.

Sejatinya, sejak awal bermain di penyisihan Grup A bersama Singapura, Thailand, dan tuan rumah Filipina, Indonesia sudah harus berjuang ekstra keras. 

Stefano Lilipaly dan Manahati Lestusen berpelukan usai kalah dari Thailand pada laga final leg kedua Piala AFF 2016 di Thailand, (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Tim asuhan pelatih Alfred Riedl ini dipaksa melalui pertandingan demi pertandingan dengan berpeluh. Di matchday pertama Grup A, Andik Vermansah dkk. menyerah 2-4 dari Thailand. Padahal, Timnas Indonesia sempat menyamakan skor jadi 2-2 sebelum akhirnya kalah.

Di matchday kedua melawan Filipina, Timnas Indonesia lagi-lagi harus bekerja keras. Tim Garuda, yang sudah unggul 2-1 hingga menit ke-68, terpaksa menelan pil pahit setelah Philip Younghusband mencetak gol penyama skor 2-2 pada menit ke-82.

Pertandingan ketiga di penyisihan Grup A tak kalah menegangkan. Dengan hanya mengantongi poin satu dari dua laga, Indonesia wajib memenangi pertandingan kontra Singapura jika ingin lolos ke semifinal.

Butuh kemenangan, justru the Lions mampu unggul lewat gol Khairul Amri, menit ke-27. Di saat itulah, Timnas Indonesia menunjukkan ketangguhannya pada situasi mendesak.

Timnas Indonesia bangkit dengan gol Andik Vermansah menit ke-62, dan Stefano Lilipaly memastikan kemenangan Tim Garuda dengan skor 2-1. Indonesia pun melaju ke semifinal sebagai runner-up Grup A, di bawah Thailand yang jadi juara grup, dengan poin empat. 

Video Populer

Foto Populer