Sukses


Energy of Indonesia

TIDAK ADA CINTA YANG ABADI, seperti halnya kesedihan juga diyakini tidak ada yang tak lekang oleh waktu. Bagaimana halnya dengan cinta yang menyedihkan? Konon kabarnya kisah asmara yang menyayat hati lebih melekat dalam ingatan insan manusia, dan bisa jadi inilah juga yang membuat drama-drama Korea terus booming di Indonesia.

Seorang karib saya bermarga Pasaribu yang kini tinggal di Afrika Selatan pernah mengatakan kegemarannya menonton drama Korea sejak awal 2000-an sudah menular pada tetangganya yang tidak hanya sesama keturunan melayu di sana, tapi juga bagi kaum berkulit hitam dan putih. Mereka satu suara bahwa untuk urusan menguras air mata, kisah-kisah sinetron Asia Timur memang jagonya.

Bukan hanya senandung sendu dari semenanjung Korea, tapi kisah-kisah layar kaca dari China dan Jepang mereka akui sanggup menyentuh kalbu terdalam orang-orang dari berbagai latar budaya berbeda. Hikayat sentimentil jadi komoditas ekspor yang laris manis karena orang Asia punya kepekaan lebih tinggi dalam mengolah rasa sebagai imbas sejarah panjang kisah mereka melalui tempaan sejarah, terutama peperangan dan kolonialisasi.

Seorang pakar pengamat Asia dari Universitas Southern California, Clayton Dube, mengamini ini dan bisa mengerti mengapa warna pesta pembukaan Olimpiade Beijing di satu dekade silam juga sangat kental dengan nuansa kebangkitan China dari periode suram penuh himpitan.

Clayton menyebut bangsa China saat itu ingin mengingatkan dunia soal kesanggupan mereka keluar dari situasi sulit pada era Dinasti Tang yang membentang panjang selama tiga abad hingga 907 sesudah masehi. Well, bukan hanya di jagat olah raga, tapi berbekal semangat yang terpicu trauma lampau yang tidak ingin mereka ulangi, bangsa China juga akan jadi pemilik dunia ---secara umum dalam berbagai aspek kehidupan--- di milenium baru ini, kata Clayton.

 

“Pertanyaan soal China dan negara-negara maju Asia lainnya akan menguasai banyak elemen penting dalam sejarah dunia bukan lagi soal kapan dan bagaimana. Semua tengah terjadi saat kita bicara sekarang. Hal yang terpenting adalah justru bagaimana negara barat seperti Amerika Serikat akan menyikapinya dengan penuh optimisme kolektif dan bukan menganggapnya sebagai ancaman.”  ---Clayton Dube, pakar pengamat Asia dari AS.

 

Pada Olimpiade 2008, sebagai tuan rumah China untuk pertama kalinya juga berjaya di puncak klasemen medali dengan koleksi 48 kalungan keping emas sekaligus memutus rentetan hegemoni AS yang tak tersaingi di panggung olimpiade musim panas sejak 1996. Amatlah wajar, bila dalam kancah Asia sang Negara Tirai Bambu pun tak terbendung lagi sejak merajai Asian Games New Delhi 1982.

1 dari 3 halaman

Kolonialisme Asia Timur di Jakarta

Ketika dua puluh tahun sebelumnya Asian Games dipanggungkan di Jakarta, Jepang masih jadi negara dengan prestasi olahraga terbaik karena China belum ikut serta. Debut Republik Rakyat China di Teheran 1974 kemudian cukup impresif dengan menempati peringkat ketiga dalam tabel pengumpulan medali.

Saya pun ingat betul China lalu hanya sekali lagi memberikan kesempatan Jepang menjadi yang terbaik di Asian Games, yaitu pada perhelatan Bangkok 1978, sedangkan selebihnya mereka menyapu bersih gelar sebagai negara dengan prestasi olahraga terbaik di kawasan. Hal yang menarik lagi, ternyata perubahan peta dominasi olahraga Asia juga merangsang Korea Selatan untuk menyodok Jepang.

Korea Selatan kini menjadi langganan peringkat kedua selepas Bangkok 1998 sedangkan Negeri Matahari Terbit menguntit dari posisi ketiga. Nah, sebuah pertanyaan menggelitik pun muncul di benak saya soal apakah tiga raksasa Asia Timur ini juga akan unjuk gigi dengan pola serupa di Jakarta-Palembang pada Agustus mendatang?

Tidaklah terlalu pagi guna menjawab “Ya” untuk pertanyaan itu, aroma persaingan mereka bahkan telah saya rasakan dalam World Broadcast Meeting yang penulis hadiri di pengujung 2017. Forum berdurasi dua hari yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC) tersebut adalah ajang penjabaran aturan main penyiaran Asian Games jilid ke-18 di Tanah Air kita nanti.

Tidak main-main, trio China-Korea Selatan-Jepang bahkan sudah mendominasi pemesanan ruangan kerja di Internasional Brocasting Center (IBC) di JCC nanti hingga mencakup lebih dari 600 meter persegi alias sekitar 80% dari luas total IBC nanti! Sungguh ironis karena ini langsung memperlihatkan bagaimana mereka melakukan “kolonialisasi” di Jakarta bahkan sebelum upacara pembukaan dibuka oleh Presiden Jokowi. Weleh.. weleh...

Kolega saya dari salah satu televisi di forum itu sempat menyebut fenomena keseriusan China, Korea Selatan, dan Jepang untuk memperlihatkan “kehadirannya” dalam soal penyiaran langsung Asian Games dari Jakarta dan Palembang harusnya serta merta mengubah tagline dari Jakarta-Palembang 2018. Bukan “Energy of Asia” lagi nih kelihatannya tapi jadi “Energy of East Asia” tema dari Asian Games 2018 ini, ujarnya melempar retorika berbau satire.

Saya tidak mau lah ikut latah bersikap pesimistis dengan mengekor dan menyemburkan kiasan “Indonesia jadi tamu di negeri sendiri” atau semacamnya. Buat saya sikap seperti itu sudah basi dan tidak mencerminkan ideologi kekinian kids zaman now, yang cenderung segar dan disruptive. Indonesia akan jadi tuan rumah yang baik, penonton yang santun dan sekaligus bersahabat, itu sudah jadi sebuah cita-cita bersama.

 

2 dari 3 halaman

Bersikap Peka Mencatat Kebaikan

Kita kesampingkan dahulu prediksi prestasi kontingen Merah-Putih di lapangan dan arena Asian Games pada Agustus mendatang. Meski pencapaian atlet-atlet kita di invitation tournament yang jadi ajang tes kesiapan INASGOC, alias panitia Asian Games di Indonesia, pada bulan lalu terbilang lumayan tapi untuk mengukur posisi kita di level persaingan yang sesungguhnya diperlukan analisis mendalam yang akan saya urai dalam kolom berikutnya.

Untuk saat ini, janganlah Indonesia bermimpi akan menempati peringkat kedua seperti halnya saat Bung Karno memandu negeri ini menjadi tuan rumah perhelatan serupa pada 56 tahun silam. Mari kita siapkan diri untuk belajar dari tetamu kita yang lebih berpeluang ada di tiga besar dengan cara mencatat dari dekat bagaimana mereka bertarung di Jakarta, Palembang, serta enam wilayah pendukung lainnya.

Sebagai tamu, atlet-atlet Asia Timur tidak menutup mata dari informasi prematur soal bagaimana problematika lalu lintas di Jakarta saja akan berpeluang mengganggu mood mereka dalam berkompetisi nanti. Amati saja percakapan mereka di media sosial.

Akan tetapi, mereka juga tahu bahwa rakyat mereka, keluarga mereka, hingga pelatih dan pengurus organisasi olahraga mereka, tidak akan menerima alasan non-teknis sebagai pembenaran sebuah kegagalan. Lawan mereka sesungguhnya bukan persoalan kesiapan venue, kegagapan pelayanan dari para volunteer, atau kemacetan di Ibu Kota kita. Rival para atlet top itu justru adalah tantangan untuk mengantisipasi semua itu dan tetap bisa meraih emas!

Jika mereka saja sangat kompetitif dan sudah secara bergelombang mengirimkan tim survei ke sejumlah venue di negara kita sejak semester lalu, kenapa kita sebagai tuan rumah justru tidak bisa lebih optimistis? So, tema yang paling pas untuk Asian Games Jakarta-Palembang kali ini memang bukan Energy of Asia, tapi “Energy of Indonesia”.

Mari kita tunjukkan bahwa kita punya tenaga ekstra, semangat besar, untuk bisa belajar dari tamu-tamu kita dengan baik, setidaknya mulailah dari mental melayani dengan baik, mengamati dengan baik, menilai dengan proporsional, dan tidak sebentar-sebentar mencemooh diri sendiri saat atlet kita terpuruk. Ingat, warga Asia punya kepekaan tinggi untuk bangkit dari masa lalu yang tidak menyenangkan, dan saya percaya bangsa Indonesia pun memiliki sensitivitas untuk belajar banyak ketika melihat negara lain berjaya di sini.

 

0 Komentar

Belum ada komentar

    Video Populer

    Foto Populer