Legenda Prancis Khawatirkan Keamanan Piala Eropa 2016

oleh Ary Wibowo diperbarui 16 Mar 2016, 19:45 WIB
Pemain legenda Prancis, Emmanuel Petit, mengaku khawatir penyelenggaraan putaran final Piala Eropa 2016 diganggu masalah keamanan.

Bola.com, Paris - Pemain legenda tim nasional Prancis, Emmanuel Petit, mengaku khawatir penyelenggaraan putaran final Piala Eropa 2016 terganggu masalah keamanan. Kekhawatiran itu mengacu terhadap berbagai teror di Paris, salah satunya ledakan bom bunuh diri pada November 2015. 

Advertisement

Teror bom sempat melanda enam wilayah berbeda di Paris. Salah satu serangan tersebut menyasar di Stade de France, yang sedang menggelar pertandingan persahabatan antara tim nasional Prancis melawan Jerman. Akibat serangan tersebut, ratusan orang dikabarkan tewas. 

Sebelum teror bom itu, Paris juga sempat menjadi sasaran ketika kantor majalah Charlie Hebdo diserang tiga orang bersenjata yang diduga merupakan salah satu kelompok teroris pada 17 Januari 2015. Sebanyak 17 orang dikabarkan tewas akibat insiden berdarah tersebut. 

"Ini (sukses atau tidaknya Piala Eropa 2016) semua akan tergantung terhadap keamanan. Anda tinggal di Irlandia dan sejarah Anda terjadi akibat adanya masalah politik pada masa lalu. Namun, ini semua tidak sama dengan apa yang miliki di Prancis, khususnya di Prancis," ungkap Petit. 

"Setiap saya meninggalkan rumah pagi hari untuk mengantar anak ke sekolah, saya menguncapkan selamat pagi kepada penjaga keamanan. Kami berpikir selama beberapa tahun telah tinggal di negara yang keamanannya sempurna. Sekarang, semuanya sulit untuk dijelaskan."

"Anda tahu ketika Anda tinggal dalam ketakutan dan Anda terkadang takut. Ini bisa terjadi di mana pun dan, menurut saya, ini adalah hal yang sangat mengakutkan. Ini seperti seekor ikan hiu ketika Anda sedang berenang di laut. Anda tidak akan tahu kapan mereka datang," tuturnya. 

Petit mengaku memiliki pengalaman menakutkan ketika terjadi serangan Charlie Hebdo. Ia pun kini berharap agar berbagai insiden serta serangan tersebut tidak kembali terjadi di Prancis. 

"Ini semua terjadi di Prancis. Kami mencoba untuk melupakannya, tetapi akan selalu kembali ke pikiran kami setiap waktu. Pertama ada Charlie Hebdo pada Januari. Saya sedang mengantar anak-anak ke sekolah, yang berada 300 meter dari tempat insiden terjadi," ujar Petit. 

Sumber: The Irish Time

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini