Kabar dari Prancis: Zidane dan Bisnis Besar La Castellane (2)

oleh Ary Wibowo diperbarui 04 Jul 2016, 17:46 WIB
Suasana deretan kapal berlabuh di Pelabuhan Vieux Port, Marseille, Prancis, Minggu (3/7/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

 

Laporan langsung jurnalis Bola.com, Ary Wibowo dan Vitalis Yogi Trisna, dari Paris, Prancis. ...Para imigran menetap hingga era sekarang. Karena itulah Marseille kini dianggap sebagai "kampung"-nya pendatang di Prancis. Kampung yang juga menjadi tempat anak-anak imigran tumbuh besar, termasuk bagi sang legenda sepak bola mereka, Zinedine Zidane.

SULIT membayangkan Kota Marseille pernah hancur dibombardir Nazi ketika Perang Dunia II. Jerman yang menduduki Marseille, menurut catatan sejarah, merusak hampir seluruh bangunan agar tidak bisa digunakan sebagai tempat persembunyian kelompok pemberontakan.

Advertisement

Namun, kini jejak kehancuran itu kini seakan menghilang. Di beberapa sudut kota, arsitektur Marseille dari sisa-sisa peninggalan Yunani dan Romawi masih bisa ditemukan. Di dekat Vieux Port, misalnya, yang dihiasi beberapa benteng pertahanan, potongan jalan, dan sebidang sisa dermaga tua.

Untuk mengetahui keberadaan sisa-sisa peninggalan sejarah lebih menyenangkan menelusuri kota dengan berjalan kaki. Kondisi jalan yang turun naik karena kondisi geografis yang berbukit-bukit menjanjikan pemandangan yang indah dengan pantulan sinar matahari di permukaan air.

Di dermaga, bukan lagi dipenuhi kapal-kapal pedagang, melainkan pesiar yang berjejer rapi. Di seberang bibir pelabuhan berjejer restoran dan kafe yang menawarkan berbagai macam makanan, baik khas Marseille yang serba seafood sampai aneka makanan junkfood.

Situasi pinggir pelabuhan ini bakal jauh lebih indah pada malam hari. Namun, sayang di balik nikmat "surgawi" itu, terselip anomali. Sebab, Marseille saat ini juga dikenal sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Wajar jika kota tua ini sempat disebut Chicago-nya Prancis.

Jika di AS ada Al-Capone, di Marseille, para penjahat kelas teri hingga mafia narkoba kelas berat-lah yang tak jarang berurusan dengan polisi. Suasana berbeda pun terasa begitu saya menginjakkan kaki di wilayah La Castellane, yang berjarak 9,1 kilometer dari area Vieux-Port.

Sempit
Bus 25 jurusan St Antoine yang saya tumpangi dari stasiun Bougainville berhenti di halte Barnier Giroud. Menurut peta elektronik, La Castellane dapat ditempuh dengan berjalan kaki karena berjarak hanya 190 meter. 

Halte La Cestellane, wilayah yang menjadi tempat kelahiran legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane. (Bola.com/Ary Wibowo).

Setelah kurang lebih berjalan selama dua menit dari halte Barnier Giroud, tibalah saya di depan halte bus La Castellane. Suasana pun terasa sepi, hanya ada kendaraan lalu lalang di dua sisi jalan dan satu dua orang warga imigran sedang duduk-duduk di bangku taman.

Jalan di kompleks La Castellane pun terasa sempit dan berliku. Apartemen-apartemen berlantai empat di sisi jalan berjejer menjadi satu. Warga sekitar pun terkesan tak bersahabat dengan "orang baru". Boro-boro memberi senyum, jika ditanya saja mereka biasanya hanya berlalu.

Pada saat melanjutkan perjalanan, saya juga menemukan beragam kekontrasan. Seperti berpapasan dengan wanita berbaju kurung tertutup dari kepala hingga ujung kaki, sementara tak jauh dari situ ada pula wanita-wanita berpakaian minim berkumpul sembari tertawa-tertiwi.

Narkoba
"Oh, rumah Zidane? Anda lurus saja, lalu belok kiri dan akan melihat bangunan tinggi," ujar Asyad, salah satu warga La Castellane, yang berhasil dimintai informasinya oleh Bola.com. Awalnya, saya mencoba mencari tempat tujuan sendiri, namun terdengar suara bantuan dari Asyad.

"Ayo ikut saya," ujar pria berdarah Senegal itu. Sembari menentang tas belanjaan, dia mencoba memandu saya menaiki beberapa anak tangga di salah satu apartemen La Castellane.

Sesampainya di bagian atas, suasana terasa berubah karena terlihat beberapa raut tak ramah dari warga. Asyad yang awalnya cukup "bersahabat" seketika berubah begitu melihat mereka. "Di sana," kata dia sembari menunjuk salah satu bangunan apartemen. Setelah itu, dia pergi. 

Di beberapa sudut apartemen terlihat sekelompok pria sedang mengobrol. Dari wajah tampaknya mereka adalah imigran dari Afrika Utara. Rasa penasaran pun akhirnya membuat kaki berani melangkah ke bangunan apartemen yang ingin dituju. 

Pada September 2015, kepolisian Marseille sempat melakukan razia narkotika besar-besaran di La Castellane. Menurut The Guardian, lebih dari 1,3 juta euro sempat ditemukan di salah satu apartemen di wilayah tersebut ketika penggerebekan jaringan narkoba pada 2013.

Kepolisian Marseille saat menggelar razia narkotika di wilayah La Cestellane pada 2015. (L'Express).

Voxeuro juga mencatat, pada 2010, ada 54 kasus pembunuhan di Marseille, termasuk 17 di antaranya terkait jaringan narkoba. Satu tahun kemudian, tercatat ada 38 kasus pembunuhan di La Castellane, dengan 20 di antaranya disebabkan masalah pertikaian geng narkoba. 

Sejumlah praktik kejahatan itu akhirnya membuat pemerintah Marseille memberikan label La Castellane zona merah. Memang sungguh ironi. Sebab, di daerah itulah Zidane lahir dan tumbuh besar sehingga dapat menjadi seorang maestro sepak bola dengan berbagai raihan gelar.

Bersambung...

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini