Kolom Ganesha Putera: Portugal Mencari Jurus Ampuh Atasi Wales

oleh Bola diperbarui 06 Jul 2016, 19:15 WIB
Kolom Ganesha Putera: Portugal Mencari Jurus Ampuh Atasi Wales. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Laga semifinal pertama Wales kontra Portugal bakal menyajikan pertarungan adu taktik menarik. Secara reputasi dan komposisi pemain, Portugal jelas jauh unggul dari Wales. Nama besar Ronaldo, Nani, dan Pepe adalah jaminan mutu. Sedangkan Wales? Siapa sangka negeri liliput sepak bola ini mampu lolos ke Piala Eropa. Lima tahun silam, Wales masih berada di rangking 117 FIFA. Penampilan di Piala Eropa terakhirnya adalah pada 1976 alias 40 tahun silam.

Advertisement

Pada kenyataannya, nama besar dan reputasi menjadi tidak penting dalam Piala Eropa 2016 ini. Portugal tak pernah menang dalam laga 90 menit. Anak asuh Fernando Santos harus berdarah-darah menuju semifinal. Beruntung mereka memiliki banyak talenta individu yang mampu mengubah jalannya permainan.

Sebaliknya kiprah skuat Chris Coleman cukup menjanjikan, meski terus diterpa inkonsistensi. Pasca kalah 1-2 dari Inggris, Bale dkk. bangkit taklukkan Rusia 3-0. Anehnya, di 16 besar, penampilan Wales drop walau menang atas Irlandia Utara. Beruntung, penampilan Si Naga kembali pulih saat tumbangkan Belgia 3-1 secara meyakinkan. Apakah fluktuasi performa Wales kembali terulang kontra Portugal.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

2 dari 4 halaman

Kalah Jumlah Pemain

Chris Coleman diyakini tetap mainkan formasi 1-3-4-2-1 (1-5-4-1) kontra Portugal. Tetapi, Wales harus kehilangan Ramsey dan Davies. Kemungkinan Coleman akan turunkan Hennesey di bawah mistar, mengomandoi trio bek Chester, Williams, dan Gunter. Perpindahan Gunter jadi bek tengah gantikan Davies, membuat Jazz Richards isi wingback kanan. Wingback kiri tetap diisi Taylor menopang kuartet Ledley, Allen, Bale, dan Jonathan Williams yang gantikan Ramsey. Robson Kanu akan bermain sebagai striker tunggal.

Menarik ditunggu pilihan formasi Santos untuk dapat menyikat Sang Naga. Di penyisihan, Portugal berganti antara 1-4-3-3, 1-4-3-1-2 atau 1-4-4-2. Di dua pertandingan terakhir lawan Kroasia dan Polandia, Santos memilih 1-4-4-2. Bila demikian, Patricio akan mengawal gawang di belakang kuartet Guerreiro, Fonte, Pepe, dan Cedric. Lini tengah diisi Danilo dan Adrien di tengah, Mario di kanan dan Gomes di kiri. Duet Ronaldo-Nani akan memainkan tombak kembar di depan.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

Ini berarti adalah pertarungan 1-3-4-2-1 melawan 1-4-4-2. Situasi yang memusingkan untuk Portugal. Secara natural situasin ya adalah 3v2 di pertahanan Wales. Lalu 6 Vs 4 di lini tengahnya. Tentu, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian. Sebab kedua tim tidak mainkan formasi statis. Melainkan lakukan pergerakan dinamis untuk mencari keuntungan menang jumlah pemain di suatu lokasi tertentu.

Pertanyaannya, bagaimana Portugal melakukan penyesuaian terhadap kondisi natural kalah jumlah pemain di depan? Yakni kondisi 2 Vs 3 saat Wales mulai bangun serangan dengan tiga beknya. Dari pengalaman laga sebelumnya, Santos gemar melakukan tekanan berorientasi man to man. Kemungkinan salah satu dari Mario atau Gomes akan naik ke depan untuk menekan 3 bek Wales. Portugal bertransformasi menjadi 1-4-3-3.

Jika itu yang dilakukan, Portugal punya pekerjaan rumah lain. Ke mana 3 gelandang tersisa akan berorientasi? Jika mereka berorientasi ke tengah, mereka akan tetap kalah jumlah 3 Vs 4. Plus, wingback Wales akan bebas. Andai Santos ingin wingback Wales dijaga fullbacknya, Cedric dan Guerreiro harus naik tinggi. Gawatnya, ruang di belakang fullback adalah ruang favorit bagi Bale dan Robson Kanu. Nah, makin pusing Santos.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

Model pressing ini bisa mengulangi problem kontra Polandia. Di laga itu, lawan bertransformasi dari 1-4-2-3-1 jadi 1-3-4-2-1 saat menyerang. Portugal pressing tinggi dengan harapan lawan umpan panjang. Padahal Polandia sengaja memancing lawan pressing, diikuti umpan panjang. Memang umpan panjang mudah dimentahkan Pepe dkk. Tapi, bola kedua dari adu sundulan selalu dimenangkan Polandia. Sebab 2-3 gelandang Portugal telah naik tinggi untuk pressing sehingga terjadi 3 bahkan 4 bahkan 1 di depan empat bek Portugal.

Saya membayangkan ada baiknya Portugal tetap lakukan pressing dengan form 1-4-4-2. Di mana keberadaan 2 striker fokus melebar lindungi area halfspace. CR berorientasi ke Gunter sambil menutup jalur passing ke Jazz Richards. Sedang, Nani fokus ke Chester sambil membayangi jalur passing ke Taylor. Sedang, 4 gelandang dan 4 bek Portugal bisa rapat melindungi area sentral.

Memang, model ini setengah melepas Ashley Williams, stoper tengah Wales. Toh, tak banyak yang bisa dilakukannya di area ini. Ia sulit mengakses kedua wingback dengan operan cepat. Varian long pass juga mudah diantisipasi karena 4 bek dan 4 gelandang telah berdiri di area tengah. Kalaupun Williams memutuskan untuk men-dribble bola ke depan, Ronaldo dan Nanti bisa berlari kembali untuk menjepitnya dari kedua sisi.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

3 dari 4 halaman

Bongkar Pertahanan

Saat menyerang, Santos juga harus berpikir keras. Satu hal yang Santos harus ingat adalah motto "cara tim menyerang adalah cara tim bertahan". Maksud motto tersebut adalah struktur posisional tim saat menyerang haruslah tertata rapi. Agar saat tim hilang bola, semua pemain sudah berada di posisi ideal untuk transisi ke bertahan.

Santos harus menyiapkan dua skenario saat membangun serangan. Skenario pertama bila Wales mendorong Bale ke depan untuk pressing tinggi dengan 2 striker. Artinya akan terjadi situasi 2 Vs 2 di lini belakang Portugal. Situasi yang sulit untuk memprogresi bola ke lini tengah. Pepe dan Fonte harus sedikit lebih melebar dan dalam dari biasa, supaya Patricio punya ruang besar untuk memprogresi bola ke depan.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

Fullback Portugal harus naik untuk memaksa Taylor dan Richards turun sehingga Wales tinggal memiliki 3 gelandang. Dengan posisi awal Mario dan Gomes yang menyempit, terjadi situasi 4 Vs 3. Gelandang Portugal bisa membentuk berlian dengan menaikkan salah satu dari Adrien dan Danilo untuk memanfaatkan situasi 4 Vs 3 ini. Formasi menjadi 1-2-3-3-2.

Skenario kedua yang lebih mungkin terjadi adalah Wales tidak lakukan pressing tinggi. Baik Bale atau Jonnie Williams akan turun melindungi area sayap. Wales akan bertransformasi menjadi 1-5-4-1. Situasi ini tentu lebih memudahkan Pepe dan Fonte karena mereka bertemu dengan situasi 2 Vs 1 kontra Robson-Kanu. Di skenario ini Portugal akan mudah memprogresi bola ke depan.

Meski mudah membangun serangan, tetapi skenario ini justru akan menyulitkan Portugal untuk menyelesaikan serangan. Akan ada 8-9 pemain Wales yang berada di belakang bola. Padahal, Portugal di laga sebelumnya masih memiliki masalah koneksi antara Nani dan Ronaldo. Statistik menunjukkan tingginya jumlah passing ke dua pemain itu. Anehnya, jumlah operan Ronaldo ke Nani dan sebaliknya sangatlah minim. Pekerjaan rumah untuk Fernando Santos!

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

Format yang mungkin efektif dicoba Santos adalah bertransformasi jadi 1-2-3-2-3 bila Wales parkir dengan 1-5-4-1. Di mana Ronaldo dan mungkin Mario bermain mengapung di antarlini. Ronaldo bisa berdiri diantara Gunter dan Allen. Posisi yang membingungkan untuk Gunter. Jika Gunter tidak ikut, Ronaldo mudah berputar. Jika Gunter ikut, berarti ia akan meninggalkan lubang di belakang. Format ini juga efektif untuk Portugal bisa langsung lakukan press saat kehilangan bola. 

4 dari 4 halaman

Doa

Kedua tim menatap semifinal dengan keuntungan dan masalah masing-masing. Secara taktikal, Wales jelas unggul. Komunikasi taktikal Bale dkk. lebih terjalin mapan. Coleman juga tak pernah mengubah formasi dan cara bermainnya. Kalaupun ada penyesuaian terhadap lawan, lebih bersifat minor pada tataran taktik individu.

Kolom Ganesha Putra, Portugal vs Wales. (Bola.com/Ganesha Putera)

Masalah Wales terletak pada absennya Aaron Ramsey dan Ben Davies. Keduanya merupakan pilar penting dalam kesatuan taktik Coleman. Menjadi tanda tanya besar, apakah pengganti keduanya mampu jalankan tugas yang sama dengan kualitas selevel?

Portugal terkendala secara taktikal. Komunikasi taktikal mereka amburadul. Ini risiko tim yang banyak berorientasi pada individu. Meski demikian, usaha individu juga dapat mengubah banyak hal di sepak bola. Saat ini pasti Coleman berdoa "berikan pengganti Ramsey dan Davies performa terbaik". Sedang Santos berdoa "mampukan Ronaldo menunjukkan magisnya!"

Doa mana yang dikabulkan? Selamat menonton!

 

@ganeshaputera

Co-Founder KickOff!

IndonesiaPusat Kepelatihan Sepak Bola