Tarsius Tumpara, Monyet Hantu Maskot Tafisa Games 2016

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 10 Okt 2016, 15:15 WIB
Tarsius Tumpara dalam spanduk Tafisa Games 2016. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Jika berkunjung ke Taman Impian Jaya Ancol pada 6-12 Oktober 2016, publik bakal melihat perhelatan Tafisa Games 2016 yang merupakan event cabang olahraga rekreasi masyarakat tingkat dunia. Tak berbeda dengan acara kegiatan olahraga serupa seperti SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade, Tafisa Games 2016 memiliki maskot yang unik bernama Tarsius Tumpara.

Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu Tarsius Tumpara. Hewan dengan nama latin Tarsius Spectrum ini merupakan primata terkecil di dunia yang ternyata merupakan hewan khas dari Indonesia. Tarsius Tumpara bisa dilihat di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Selatan. Masyarakat Pulau Siau menyebut primata ini dengan sebutan Tumpara.

Hewan yang kadang disebut monyet hantu itu merupakan salah satu binatang langka dunia. Populasinya kini hanya sekitar 1.300 ekor. Baru-baru ini Kebun Binatang Ragunan membawa Tarsius Tumpara ke Jakarta sebagai salah satu upaya melestarikan dan mengembangbiakkan hewan langka itu.

Advertisement

Ketua Panitia Penyelenggara Tafisa Games 2016, Hayono Isman, mengungkapkan alasan kegiatan olahraga dan permainan tradisional yang kini diselenggarakan di Jakarta itu memilih Tarsius Tumpara sebagai maskot. Menurut Hayono, Tarsius Tumpara dan olahraga-olahraga tradisional yang digelar di Tafisa 2016 memiliki nasib yang sama.

"Kami memilih Tarsius Tumpara karena nasib hewan langka ini sama seperti olahraga-olahraga tradisional yang dipertandingkan dalam Tafisa 2016. Olahraga-olahraga tradisional terutama di Indonesia mulai ditinggalkan dan tidak terlalu banyak yang masih memainkan. Dengan semangat ingin tetap melestarikan olahraga tersebut, kami juga ingin mengajak generasi muda untuk melestarikan Tarsius Tumpara," ujar Hayono Isman selepas konferensi pers Tafisa 2016 bersama Indosat Ooredoo di Discovery Hotel and Convention Ancol, Jakarta, Senin (10/10/2016).

Ketua Panitia Penyelenggara Tafisa Games 2016, Hayono Isman, memperlihatkan maskot Tarsius Tumpara. (Bola.com/Benediktus Gerendo Pradigdo)

Binatang dengan sebutan monyet hantu ini memiliki ciri-ciri bulu dengan warna abu-abu gelap dan bintik coklat. Ia memiliki ekor panjang yang hanya berbulu di bagian ujungnya. Mata Tarsius sangat besar dan kepalanya bisa berputar 180 derajat ke kiri dan kanan. Alasan itu mungkin yang membuatnya disebut sebagai monyet hantu.

Menurut IUCN Species Survival Commission Primate Specialist Group, Tarsius Tumpara merupakan satu di antara 25 spesies primata yang paling terancam punah. Hayono Isman bahkan cukup mengenal karakteristik hewan ini yang disebutnya mudah mengalami stres.

"Kemarin kebun binatang Ragunan mencoba memindahkan Tarsius Tumpara dari Sulawesi ke Jakarta dan membawa lima ekor. Namun, kini yang hidup hanya tinggal dua dan dalam keadaan sehat. Ternyata hewan kecil ini mudah stres dan harus berpasang-pasangan. Jika tidak, kemungkinan mereka mati akan semakin besar," ucapnya kepada wartawan.

Sementara itu, John M. Thompson, Director &Chief Technology Officer Indosat Ooredoo, sebagai salah satu pendukung panitia penyelenggara Tafisa Games 2016 mengaku terkejut dengan kelangkaan primata kecil ini.

"Jumlahnya hanya 1.300 ekor dan hidup di kolam air tawar di selatan Pulau Siau pada 2009. Anda bisa bayangkan berapa kira-kira jumlahnya saat ini jika kita tidak berinisiatif melestarikannya," ujar Thompson.