Claudio Ranieri, Leicester City, dan Kisah Pendeta dari Napoli

oleh Ary Wibowo diperbarui 28 Feb 2017, 11:16 WIB
Manajer Leicester City, Claudio Ranieri, saat menghadapi Aston Villa, 2016. (Sky Sports).

Bola.com — Bulan bersinar temaram hampir sepanjang malam. Meski kemerah-merahan, sinarnya terlihat sangat terang menimpa kota Naples, Napoli. Di sudut jalan, sekolompok anak muda berpakaian lusuh berdoa, berharap mendapat rejeki. Lainnya duduk berkelompok sembari memakan sepotong roti.

Advertisement

Menjelang pukul 24.00, bulan yang tadi temaram, redup dengan cepat. Cahayanya hilang bersamaan dengan lampu-lampu listrik jalan yang sengaja dipadamkan. Empat lampu pijar dinyalakan. Sekelompok pemuda itu serentak berdiri. Mereka akan melaksanakan tugas sehari-hari: Mencuri.

Kota hening ketika sekelompok pemuda tanpa alas kaki itu mengendap-endap di balik gelap malam. Tak kelihatan sama sekali kehidupan. Masyarakat Naples tinggal di rumah, yang sudah dipadamkan lampu-lampunya. Mereka mengincar toko roti di sudut jalan Margellina yang sudah ditinggal pulang empunya.

Sekelompok pemuda itu mencungkil pintu jendela dan kemudian masuk ke ruangan. Tak berselang lama, roti-roti "beterbangan" ke luar jendela. Dengan cekatan, pemuda lainnya yang menunggu di pinggir jalan menangkap roti itu. Setelah menjalankan aksi, mereka berlari berharap agar tidak kembali tepergok mencuri.

Demikian dikisahkan potret buram kehidupan Naples pada era 1950-an, dalam A Street Lamp and the Stars (1963) karya Mario Borelli dan Anthony Thorne. Buku ini merupakan autobiografi Mario Borrelli, mantan pendeta yang sempat mengabdikan waktunya tinggal selama bertahun-tahun di lingkungan kumuh Naples.

Pencurian, kekerasan, dan kemiskinan memang hal biasa jika berbicara kehidupan masyarakat di Naples pada 1950-an. Berdasar catatan sejarah, Naples dijatuhi bom lebih dari 100 kali selama masa Perang Dunia II. Pasukan Nazi menghancurkan seluruh pelabuhan sebelum tentara Sekutu mendarat pada 1943.

Suasana masyarakat di Naples, Napoli, pada era 1950-an. (Time).

Berbagai peristiwa tersebut membuat kehancuran Naples kian hebat setelah Perang Dunia II. Meminjam bahasa Profesor Universitas Rutgers, Paola Gambarota, yang juga merupakan penulis American Naples: Cross-Cultural Memories of an Occupation, "Mungkin hanya suasana Berlin pada 1945 yang dapat dibandingkan dengan kondisi di sana."

Berdasar hal itulah Mario Borrelli tergerak "mengangkat derajat" anak jalanan di Naples. Lahir dari pasangan keluarga kelas menengah, Mario Borrelli terbiasa bekerja keras sejak muda. Hatinya mulai tergugah melihat anak-anak di sudut jalan kelaparan, mengais rejeki agar dapat bertahan hidup setiap hari, setelah setelah mengenyam ilmu di sekolah Apostolik.

Selama beberapa tahun, Mario Borrelli menanggalkan pakaian pendeta-nya, agar dapat membaur bersama anak-anak jalanan Naples. Pada akhirnya, ia berinisiatif mendirikan The House of the Urchins, penampungan bagi anak-anak jalanan, tuna-wisma, dan yatim-piatu di wilayah tersebut pada 1963.

Mario Borrelli, pendeta asal Italia yang mengabdikan hidupnya bersama anak-anak kurang mampu di Naples, Napoli. (YOONIQ Images).

"10 Desember 1962. Jika seseorang bertanya kepada saya, mengapa saya tinggal dan menetap di daerah kumuh ini, saya harus menjawab dengan jujur, saya tidak tahu. Saya hanya dapat mengatakan, 'Karena saya mencintai Anda'. Jika seseorang di luar sana kemudian bertanya sama, menurut Anda, apa jawaban yang saya katakan? 'Karena saya mencintai mereka," tulis Mario Borrelli.

Bagi Mario Borrelli, Naples adalah kota, tempat ia dapat memberikan, menyaksikan, dan mengalami cinta. Menurut dia, banyak orang tidak tahu, manusia diciptakan untuk mencintai dan dicintai. Toh, justru di Naples, yang penuh dengan kekerasan dan lingkungan kumuh itulah orang dapat merasakan cinta.

2 dari 3 halaman

Leicester City

Ribuan Fans turun ke jalan saat memeriahkan parade juara Liga Inggris 2015/2016 di Leicester, Inggris, (16/5/2016). (AFP/Paul Ellis)

Jauh setelah ketulusan hati Mario Borrelli membantu warga Naples, Napoli, masyarakat Leicester, Inggris juga sempat merasakan cinta teramat dalam dari warga asal Italia, Claudio Ranieri. Namun, cinta yang diberikan pelatih berusia 65 tahun itu dalam bentuk trofi idaman para penikmat sepak bola di Inggris. 

Leicester City juara Premier League? Jangankan Claudio Ranieri, suporter mereka pun kiranya bakal tertawa jika mendapat pertanyaan sama sebelum Premier League 2015-2016 bergulir. Bahkan, beberapa situs taruhan sempat memprediksi peluang juara Leicester City, 5000-1. (Baca: Kepulauan Faroe, Leicester City, dan Air Mata Ranieri)

Namun, nyatanya Claudio Ranieri dapat mematah berbagai prediksi. 2 Mei 2016, Leicester City menggemparkan seantero bumi setelah dipastikan menjadi juara Premier League untuk kali pertama. Keberhasilan ini juga kiranya kian membuktikan, tidak ada yang dapat ditebak dalam dunia sepak bola. 

Claudio Ranieri saat mencium trofi Premier League setelah mengantarkan Leicester City juara pada musim 2015-2016. (Daily Mail).

Ya, tidak ada yang dapat ditebak dalam dunia sepak bola. Hukum itu juga berlaku saat Claudio Ranieri mendengar kabar menyakitkan: Dipecat setelah 298 hari membuat masyarakat kota berpenduduk 342 ribu itu berpesta menyaksikan Jamie Vardy dan kawan-kawan berpesta di podium kemenangan. 

Gary Lineker, yang sempat memandang sebelah mata kinerja Claudio Ranieri, tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Ia mengaku, "Saya meneteskan air mata tadi malam. Saya meneteskan air mata untuk Claudio Ranieri. Saya meneteskan air mata untuk sepak bola dan klub saya (Leicester City)."

Melalui situs resminya, Kamis (24/2/2017), Leicester City mengungkapkan, alasan utama pemecatan Claudio Ranieri karena performa klub terus menurun. Sebelum pemecatan terjadi, Leicester City sempat hanya terpaut satu poin dari klub yang mengisi zona degradasi klasemen sementara Premier League.  

Dua punggawa Leicester City, Wes Morgan (kiri) dan Jamie Vardy meninggalkan lapangan usai kalah dari Swansea City pada lanjutan Premier League di Liberty Stadium, Swansea, Wales, (12/2/2017). Swansea menang 2-0. (Nick Potts/PA via AP).

Sempat pula muncul kabar keretakan hubungan antara Claudio Ranieri dan para pemain Leicester City. Namun, beberapa pemain, termasuk satu di antaranya Jamie Vardy, membantah ia dan rekan-rekannya pernah "menghasut" para petinggi Leicester City agar  segera memberhentikan Claudio Ranieri. 

Berbagai analisis pun bermunculan. Salah satunya, anggapan pemecatan pelatih dalam dunia sepak bola era modern merupakan hal lumrah. Sebut saja, Jose Mourinho, yang dipecat setelah mengantarkan Chelsea juara Premier League 2014-2015. Selain itu, ada pula Laurent Blanc (PSG) dan Fabio Capello (Real Madrid). (Baca: 5 Pelatih Tenar yang Dipecat Setelah Persembahkan Trofi Liga)

Namun, sejatinya, sudah layakkah Leicester City disandingkan dengan Chelsea, Real Madrid, atau PSG sekalipun, yang selama bertahun-tahun telah menginvestasikan dana besar untuk menargetkan juara setiap musim? Di sinilah yang menjadi letak titik persoalan kontroversi pemecatan Claudio Ranieri. 

3 dari 3 halaman

Claudio Ranieri

Mural dari manajer Leicester, Claudio Ranieri, yang dibuat oleh suporter. Mantan manajer Chelsea ini dianggap pahlawan oleh para penggemar dari The Foxes karena keberhasilannya meraih gelar Liga Inggris musim 2015/2016. (EPA/Facundo Arrizabalaga)

Di tengah berbagai kontroversi, Claudio Ranieri justru memilih menepi. Ia seraya tidak mau ikut campur lebih jauh lagi. Bagi dia, keberhasilan meraih Premier League 2015-2016 sudah cukup membuat ratusan ribu masyarakat Leicester merasakan kecintaan mendalamnya terhadap sepak bola. 

Toh, sepak bola akan terus berjalan. Pertandingan pun akan tetap berlangsung. Demikian halnya musim bakal selalu silih berganti, meski dalam perjalanannya diwarnai berbagai kontroversi yang menyakitkan hati. Namun, satu hal pasti, tidak akan ada lagi keajaiban seperti yang dialami Leicester City. (Baca: Akhir Tragis Perjalanan Claudio Ranieri Bersama Leicester City)

Pada Selasa (28/2/2017), tanpa Claudio Ranieri, Leicester City memang meraih kemenangan 3-1 atas Liverpool, di King Power Stadium. Meski begitu, suporter tuan rumah tetap memberikan dukungan dengan meneriakkan nama sang manajer dan memasang spanduk, yang salah satunya bertuliskan, "Grazie Mille Claudio, Con Amore (Terima kasih Claudio, cinta kami untukmu).

Suporter Leicester City membentangkan spanduk untuk berterima kasih kepada Claudio Ranieri dalam pertandingan melawan Liverpool, di King Power Stadium, Selasa (28/2/2017) dini hari WIB. (The Telegraph).

Selain itu, ada pula karangan bunga bertuliskan "Rest In Peace Football" di salah satu bagian King Power Stadium. Karangan bunga yang merupakan bentuk kekecewaan suporter terhadap keputusan manajemen klub memecat Claudio Ranieri, yang dianggap mereka telah berjasa besar mengangkat derajat Leicester City dari status klub medioker. 

"Apa yang Ranieri lakukan bagi warga Leicester sangatlah besar dan, menurut saya, dia tidak akan dilupakan di sini. Menyedihkan sepak bola sekarang seperti bisnis dengan ingatan yang sangat pendek," ujar Luigi Riccardi, pemilik restoran Italia yang menjadi tempat favorit Claudio Ranieri di Leicester. 

Lantas, seperti apa perasaan Claudio Ranieri? Apakah dia marah atau kecewa? Dalam karya Gabriele Marcotti berjudul Hail, Claudio: The Man, the Manajer, the Miracle (2016), Claudio Ranieri pernah berujar, "Melihat kekompakan, dan laga mendebarkan kedua tim untuk meraih kemenangan, sangat indah dan menyenangkan bagi saya."

Dua poin: Kekompakan dan Mendebarkan. Kiranya itulah "jawaban" Ranieri menanggapi berbagai kontroversi pemecatannya. Bagi dia, sepak bola pun ibarat sayur tanpa garam jika tidak dijalani dengan cinta yang tulus. 

Toh, sejatinya, ini bukan kali pertama Claudio Ranieri dihadapkan fakta pemecatan. Setelah menggelar acara perpisahan di Belvoir Drive Training Ground, Sabtu (25/2/2017), Claudio Ranieri tetap melontarkan senyum ramah ke arah kamera para jurnalis yang menunggu di area parkiran mobil. 

Salah satu jurnalis kemudian sempat melontarkan pertanyaan, "Kegiatan apa yang akan Anda lakukan sekarang?" Claudio Ranieri hanya kembali tersenyum dari balik kaca mobil. Senyum yang melontarkan kenangan 14 tahun lalu saat ia mendapat pertanyaan sama dari salah satu jurnalis Inggris. 

Pada 2003, Claudio Ranieri mengadakan pertemuan dengan beberapa jurnalis Inggris setelah terancam dipecat lantaran Chelsea terus menuai hasil buruk. Di tengah obrolan santai itu, ia mengungkapkan, salah satu aktivitas favoritnya jika tidak sedang berurusan dengan dunia sepak bola.  

"Saya tidak punya banyak waktu istirahat, tetapi jika bisa, saya suka membaca. Buku itu berbahasa Italia. Sangat lelah dan sulit jika harus membaca bahasa Inggris, karena saya sering pulang larut malam," ungkap Claudio Ranieri. 

Buku yang dimaksud adalah A Street Lamp and the Stars, yang berisi pengalaman Mario Borrelli di Naples, Napoli.

Foto dok. Bola.com

Sumber: Berbagai sumber

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, La Liga, Liga Champions, dan Liga Europa, dengan kualitas HD di sini