Prancis Juara Piala Dunia, Kerusuhan Meletus di Paris

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 16 Jul 2018, 16:30 WIB
Kerusuhan meletus di Paris setelah Timnas Prancis mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2 sekaligus meraih gelar Piala Dunia 2018. (AFP/Ludovic Marin)

Bola.com, Paris - Kerusuhan meletus di Paris setelah Timnas Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018. Pihak kepolisian sampai harus menggunakan gas air mata untuk memecah dan membubarkan kerumunan massa.

Kerusuhan pecah sesaat setelah Prancis mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2 pada pertandingan final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Minggu (15/7/2018) malam WIB. Massa yang menggelar acara nonton barang di jalan-jalan besar Paris kehilangan kendali untuk merayakan kemenangan Les Bleus.

Advertisement

Puluhan objek berupa botol dan kursi berterbangan ke arah polisi. Hal itu langsung direspons pihak kepolisian dengan menggunakan gas air mata.

Sekitar 30 orang yang kebanyakan menggunakan topeng ski merusak tempat-tempat publik seperti apotek. Setelah itu mereka melemparkan botol wine dan sampanye. Beberapa di antaranya tersenyum sekaligus mendokumentasikan dengan telepon genggam.

Kerumunan massa akhirnya bisa dipecah dengan menggunakan meriam air. Pada pukul 23.30 malam, mereka yang berkerumun sekaligus merayakan suka cita berangsur meninggalkan tempat kejadian. Menurut Sky Sports, sekitar 4000 petugas kepolisian Paris harus bersiaga semalaman. Hal itu untuk mencegah terjadinya aksi susulan.

Tak hanya di Paris, kerusuhan pun meletus di selatan kota Lyon. Sekitar 100 pemuda nekad menaiki kendaraan lapis baja milik Kepolisian setelah peluit akhir pertandingan final Piala Dunia 2018.

Timnas Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2. Gol kemenangan pasukan Didier Deschamps dicetak oleh Mario Mandzukic (18'- bunuh diri), Antoine Griezmann (38'- penalti), Paul Pogba, dan Kylian Mbappe (65'), sedangkan gol Kroasia dibukukan Ivan Perisic (28') dan Mario Mandzukic (69'). Gelar juara Piala Dunia 2018 menjadi yang kedua untuk Prancis setelah 1998.

Berita Terkait