Piala Presiden 2019: Cacian dan Pujian Bonek untuk Andik Vermansah

oleh Aditya Wany diperbarui 05 Apr 2019, 07:45 WIB
Pemain Madura United, Andik Vermansah, tak kuasa menahan emosi saat ikut ambil bagian dalam momen Song of Pride yang dinyanyikan pendukung Persebaya Surabaya usai laga leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Surabaya - Andik Vermansah tidak dapat menahan air mata yang membasahi pipinya. Dia menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Tak lama, dua pemain Persebaya, Otavio Dutra dan Rendi Irwan yang ada di sebelahnya berusaha menenangkannya.

Peristiwa itu dialaminya saat menjalani leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019) sore. Laga sarat emosi baginya yang pernah berseragam Persebaya pada 2008-2013. Andik datang ke markas Persebaya dengan kostum yang berbeda.

Advertisement

Andik harus rela bertanding di hadapan Bonek sebagai pemain Madura United, lebih berat lagi, dia harus menghadapi mantan klubnya. Persebaya adalah klub yang dicintainya. Bersama klub berjulukan Bajul Ijo itulah dia berkembang dan menjadi pemain sayap yang ditakuti lawan.

Air mata Andik jatuh saat bersama pemain Persebaya menyanyikan Song for Pride yang merupakan anthem kebanggaan Bonek, suporter Persebaya. Lagu itu selalu dikumandangkan setiap Persebaya selesai bertanding.

Kali ini, apa yang dijalani Andik begitu berat. Rentetan peristiwa mengikutinya sebelum kembali lagi ke stadion berkapasitas 50 ribu penonton itu. Semua itu diawali saat dia memutuskan hengkang dari Persebaya dan hijrah ke Malaysia bergabung Selangor FA pada 2014.

2 dari 6 halaman

Tak Ingin Khianati Persebaya

Andik Vermansah mendapat perhatian lebih dari suporter Persebaya, Bonek, pada latihan perdana Madura United di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Selasa sore (15/1/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Hanya ada satu klub Indonesia yang akan dibela Andik Vermansah, yaitu Persebaya. Ya, begitulah janji Andik saat resmi berseragam Selangor FA pada 2014. Sebelumnya, Persebaya tengah diterpa dualisme dan Andik menjadi bagian Persebaya 1927.

Rekan-rekannya di Persebaya 1927 banyak yang dipaksa bergabung Persebaya DU yang merupakan klub tandingan. Tapi, pemain kelahiran Jember itu menolaknya. Beruntung, dia mendapat tawaran yang datang dari Malaysia dan bergabung bersama Selangor FA.

Setelah empat musim berkiprah di Malaysia, Andik sempat dikabarkan akan kembali ke Persebaya. Kebetulan, Persebaya DU telah menjadi Bhayangkara FC. Persebaya yang asli, atau berlabel 1927, telah diakui kembali oleh PSSI pada 2017.

Kabar Andik bakal pulang santer terdengar pada awal musim 2018. Saat itu, Persebaya baru saja menjuara Liga 2 2017 dan promosi ke Liga 1 2018. Bonek dengan segala kerinduannya sangat menantikan kehadiran Andik yang kontraknya telah habis bersama Selangor FA.

Sayang, momen itu masih belum menjadi saat yang tepat buatnya pulang ke Persebaya. Sempat diwarnai drama “Kereta Tidak Berhenti untuk Satu Orang”, Andik kemudian batal bergabung Persebaya. Tulisan itu, secara tidak langsung menyatakan bahwa “kereta” Persebaya tak akan berhenti untuk Andik.

Pro kontra antara manajemen Persebaya dengan Bonek menghiasi artikel yang ditulis oleh Presiden Persebaya, Azrul Ananda, itu. Tuduhan manajemen Persebaya pelit membeli pemain mengemuka seiring kegagalan mendatangkan Andik.

Tapi, Andik bisa memetik satu pelajaran dan hikmah dari peristiwa itu. Dia bisa tetap memegang janjinya hanya akan membela satu klub Indonesia, yaitu Persebaya, setelah kembali mendapat tawaran klub Malaysia, Kedah FA, pada 2018.

Akhir musim lalu, momen serupa terjadi pada Andik yang kontraknya bersama Kedah FA telah berakhir. Saat masih berseragam Timnas Indonesia yang tampil di Piala AFF 2018, Andik dengan tegas menyatakan keinginannya kembali berseragam Persebaya.

“Jujur, satu kata. Saya ingin balik ke Persebaya,” kata Andik kepada awak media pada 25 November 2018.

Semua orang tahu, apa yang dikatakan oleh Andik sebenarnya lima kata. Tapi, satu hal yang pasti, Andik sendiri sudah sangat merindukan momen bertanding dengan jersey berwarna hijau.

3 dari 6 halaman

Polemik Kembali Hadir di Bursa Transfer

Madura United menjadi pelabuhan baru bagi Andik Vermansah. (Bola.com/Dody Iryawan)

Andik Vermansah muncul sebagai penonton saat Persebaya menjalani laga terakhir Liga 1 2018 melawan PSIS Semarang di Stadion GBT, Surabaya (8/12/2019). Andik, yang datang memakai balaclava, menarik perhatian Bonek. Setelah pertandingan, dunia media sosial kembali heboh.

Penyebebnya situs resmi Persebaya menulis seharusnya Bonek menghormati pemain Persebaya, bukan mantan pemain yang tiba-tiba datang dengan status penonton. Pernyataan Rendi Irwan yang saat itu menjadi kapten tim dikutip oleh situs resmi klub.

Bonek kemudian terbelah menjadi dua. Ada yang membela Rendi, tapi banyak pula yang mendukung Andik. Bonek membuat dua pemain yang bersahabat ini seolah telah berseteru. Padahal, mereka adalah teman lama sejak di kompetisi internal Persebaya, membawa Jawa Timur meraih emas PON 2008, hingga sama-sama menembus skuat Persebaya.

Setelah permasalahan itu agak mereda, Bonek dikejutkan dengan bergabungnya Andik sebagai pemain Madura United pada 24 Desember 2018. Banyak yang menuduh pemain berusia 27 tahun itu telah berkhianat.

Untuk menunjukkan kesetiaannya, Andik mengenakan kaos bonek berwarna hijau saat menandatangani kontrak dengan Madura United bersama sang manajer, Haruna Soemitro. Dia kemudian juga melontarkan pernyataan yang membuat publik terhenyak.

 “Aku wis janji, ditulis kontrak, aku gak mau main lawan Persebaya. Gak iso aku, Mas. (Saya sudah berjanji, tertulis dalam kontrak, saya tidak mau main melawan Persebaya. Saya tidak bisa, Mas),” kata Andik.

Andik berusaha menunjukkan kecintaannya lewat penolakan saat bermain membela Madura United melawan Persebaya. Namun, lagi-lagi pernyataan itu melahirkan pro dan kontra. Banyak yang mendukungnya karena memang bukan hal mudah menghadapi mantan klub. Tapi, tak sedikit yang menghujat dan menganggap Andik sebagai pemain yang tidak profesional.

Setelah peristiwa itu, Andik kemudian membeberkan cerita dirinya tetap memprioritasnya Persebaya sebagai klub labuhannya. Namun, manajemen Bajul Ijo tak kunjung memberinya tawaran realistis, sehingga Madura United datang dan membuatnya memastikan memiliki klub baru untuk musim 2019.

Pada 10 Januari 2019, Persebaya menggelar latihan perdananya untuk mengawali musim 2019 di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, sore hari. Pada malam harinya, Andik bersama Evan Dimas, menemui Bonek di sebuah tempat di Surabaya untuk membicarakan polemik transfernya itu.

Salah seorang Bonek kemudian mendesak Andik untuk tetap mau bermain melawan Persebaya.

“Soal kesepakatan Sampeyan di kontrak dengan Madura United melawan Persebaya, sudahlah Sampeyan bermain saja, tidak apa-apa. Sampeyan bermain saat Persebaya melawan Madura United itu menjadi obat kangen Bonek,” ucap pria yang tak mau disebutkan namanya itu.

Mendengar permintaan itu, Andik tersenyum. Dia kemudian meresponsnya dan membuka kemungkinan akan tetap bermain di laga bertajuk Derbi Suramadu itu.

“Saya tidak mau menangis di tengah lapangan. Susah saya main pakai jersey klub lain dilihat Bonek, mending saya pakai jersey timnas dilihat ribuan Bonek. Setelah ada yang bilang begini, mungkin akan saya mempertimbangkan lagi. Saya mengucapkan terima kasih atas apresiasinya,” kata Andik.

4 dari 6 halaman

Pertemuan di Piala Presiden 2019

Pemain Madura United, Andik Vermansah. (Bola.com/Aditya Wany)

Andik menyambut Piala Presiden 2019 dengan sukacita. Sebab, musim ini menjadi pertama kali baginya tampil di Piala Presiden. Sejak digelar pada 2015, Andik belum sekalipun berkesempatan unjuk gigi di turnamen pramusim itu karena berkarier di Malaysia.

Pemain yang mulai membela Timnas Indonesia di SEA Games 2011 itu kemudian memasang target juara bersama Madura United di turnamen ini. Namun, yang terjadi ternyata lebih dari itu. Dia harus menghadapi Persebaya untuk mencapai targetnya.

Pertemuan melawan Persebaya lebih cepat dari yang diduganya. Duel bertajuk Derbi Suramadu itu merupakan leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 yang tersaji di Stadion GBT (3/4/2019). Andik dirundung kegalauan menjelang pertandingan.

Dia ingin menunjukkan profesionalismenya dengan tetap tampil di pertandingan ini. Tapi, banyak bonek yang kemudian menagih janji yang ditulis di kontraknya. Janji bahwa dia tidak akan main melawan Persebaya.

“Saya memang punya perjanjian soal pertandingan Persebaya dengan Madura United. Itu sudah diatur terserah saya mau main atau tidak. Kemungkinan besar, sesuai permintaan Bonek yang ingin melihat saya main,” kata Andik saat ditemui Bola.com setelah latihan tim di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Senin sore (1/4/2019).

Desakan Bonek yang meminta Andik tetap tampil kemudian bermunculan di media sosial. Andik kemudian memantapkan hatinya mengobati kerinduan terhadap Stadion GBT, Persebaya, dan Bonek di laga itu.

 

 

5 dari 6 halaman

Tidak Masuk Starting Eleven

Pemain Madura United, Andik Vernansah, bermain sebagai pemain pengganti dalam laga kontra klub kesayangannya, Persebaya Surabaya, di leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Gemuruh dengan tepuk tangan menggema di Stadion GBT yang dipenuhi oleh 50 ribu Bonek saat Andik masuk lapangan bersama pemain Madura United. Dia menjadi magnet dan pusat perhatian meski statusnya adalah pemain lawan. Padahal, dia hanya menjalani pemanasan sebelum kick-off digelar.

Begitu nama-nama starting eleven Madura United diumumkan, nama Andik Vermansah tidak terdengar. Tapi, announcer pertandingan tetap menyebutkan nama-nama pemain cadangan Madura United. Saat giliran nama Andik disebutkan, tepuk tangan kembali menggema.

Pertandingan ini menjadi pertama kalinya bagi Andik diplot sebagai pemain cadangan Laskar Sape Kerap di Piala Presiden 2019. Pelatih Madura United, Dejan Antonic, memberikan jawaban diplomatis saat ditanya alasannya mencadangkan Andik.

“Tanya Andik. Katanya kami harus menghormati Persebaya, saya tidak tahu. Sebagai tim yang bagus, Madura United punya hormat besar untuk Persebaya dan Bonek. Dia tidak mau main dari menit awal. Itu yang saya tahu,” ucap Dejan.

Andik kemudian mendapatkan kesempatan tampil pada menit ke-56. Dia menggantikan David Laly. Tepuk tangan penonton kembali menambah semarak duel panas dua tim bertabut bintang itu. Tapi, jangan dikira Bonek mengelu-elukannya selama pertandingan.

Setiap Andik membawa bola atau berusaha merebutnya dari pemain Persebaya, Bonek meneriakkan boo kepada Andik. Tekanan itu begitu luar biasa dan membuat Andik tak bisa berbuat banyak. Boo adalah cacian yang sempurna buat Andik. Hasilnya, dia tidak tampil istimewa dalam laga ini.

Madura United gagal mencetak gol dan menelan kekalahan untuk pertama kalinya di Piala Presiden 2019. Mereka harus takluk 0-1 dan meneruskan rekor buruk tak pernah menang saat berjumpa Persebaya.

 

6 dari 6 halaman

Tangisan Saat Song for Pride

Pemain Madura United, Andik Vermansah, dipeluk Rendi Irwan saat ikut ambil bagian dalam momen Song of Pride yang dinyanyikan pendukung Persebaya Surabaya usai laga leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Bonek bersorak begitu peluit panjang dibunyikan oleh wasit Agus Fauzan Arifin. Kemenangan atas Madura United terasa istimewa. Dengan begitu, Persebaya telah menginjakkan satu kaki di final Piala Presiden 2019.

Seperti biasa, Bonek akan menyanyikan Song for Pride yang merupakan anthem Persebaya setiap selesai pertandingan. Pada momen ini, semua pemain berikut jajaran pelatih Persebaya melingkar di tengah lapangan. Nah, muncul satu sosok yang tidak berseragam Persebaya kali ini.

Dia adalah Andik. Rendi Irwan dan asisten pelatih Persebaya, Bejo Sugiantoro, memaksa Andik ikut menyanyikan Song for Pride. Demikian halnya dengan Bonek, yang sempat mencacinya, meminta Andik ikut dalam ritual itu. Dia tersenyum dan turut mengumandangkan lagu itu ditemani oleh Rendi dan Dutra.

Begitu masuk lirik terakhir, yang berbunyi “kuyakin kau pasti bisa taklukkan lawanmu, ku selalu mendukungmu Persebaya”, menjadi momen paling emosional dari pertandingan ini terjadi. Andik meneteskan air mata dan menutup wajahnya.

“Saya sudah mencoba sejak di rumah berdoa supaya tidak menangis. Ternyata, saya tidak kuat, air mata saya menetes, hati ini tidak bisa dibohongi. Sulit diungkapkan karena ini memang sangat berat buat saya,” ujar Andik setelah pertandingan.

Pujian kepada Andik terlontar dari Bonek setelah dia berjalan meninggalkan lapangan. Tepuk tangan kembali menggema. Demikian Bonek menunjukkan kedewasaannya. Tetap memuji mantan pemain, namun akan menganggapnya sebagai lawan dan memberi tekanan saat 90 menit pertandingan berlangsung. 

Pertandingan berjalan sangat ketat dan diwarnai berbagai kontroversi. Seperti saat wasit tidak menganggap Osvaldo Haay handball hingga membuat pelatih Madura United Dejan Antonic melakukan protes keras dan diusir.

Lebih dari itu, laga bertajuk Derbi Suramadu ini telah menjadi wadah buat Andik meluapkan emosi dan perasaan kacaunya. Laga di Piala Presiden 2019 telah membuatnya sedikit lega bisa bereuni tanpa menunggu tampil di Liga 1 2019 melawan Persebaya nanti.

Berita Terkait