Profil Klub Liga 1 2019: Arema FC

oleh Iwan Setiawan diperbarui 13 Mei 2019, 07:15 WIB
Gelar Piala Presiden 2019 membuat Arema lebih percaya diri menghadapi Liga 1 2019. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Malang - Arema ingin kembali sebagai tim papan atas Liga 1 2019. Dalam dua musim sebelumnya, tim berjulukan Singo Edan ini terlempar ke papan tengah. Tim besutan Milomir Seslija ini lebih percaya diri menyambut Liga 1 2019 karena mereka punya modal dengan meraih gelar Piala Presiden tahun ini. Kini mereka ingin mengulangi keberhasilan Persija Jakarta tahun lalu. Tim Macan Kemayoran berhasil menyabet juara Piala Presiden 2018 dan Liga 1 2018.

General Manager Arema, Ruddy Widodo, mengakui ada semangat yang lebih tinggi tahun ini. Sejak awal tahun, manajemen sudah memberikan target musim ini Arema harus finis di papan atas untuk mendapatkan tiket bermain di pentas Asia, Piala AFC. 

Advertisement

"Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, target kami bisa bermain di kompetisi Asia musim depan. Bisa diartikan sendiri nanti Arema harus finis di urutan berapa pada akhir musim," kata Ruddy.

Keseriusan Arema untuk kembali ke papan atas diperlihatkan dengan rekrutan terakhir, yakni striker asal Belanda, Sylvano Comvalius. Top scorer Liga 1 2017 itu didatangkan dari klub Malaysia, Kuala Lumpur FA.

"Selama ini problem Arema ada di lini depan, terutama striker asing. Jadi, musim ini kami coba perbaiki dan sesuai dengan keinginan pelatih," jelasnya.

Dana yang digelontorkan manajemen Arema musim ini juga bertambah. Setelah mempertahankan Makan Konate dengan nilai kontrak tinggi, Comvalius juga didatangkan dengan nominal yang tidak sedikit.

Berbeda dengan dua musim lalu. Terutama pemain asing yang direkrut mayoritas belum punya nama besar sehingga mereka tidak bisa bertahan lama. Hanya Arthur Cunha yang punya kualitas stabil sejak direkrut pada 2017.

Tahun ini, hanya Pavel Smolyachenko saja yang jadi pemain asing debutan. Selebihnya, sudah punya pengalaman di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Meski begitu, Arema sadarada beban tersendiri yang justru diemban Hamka Hamzah dkk. Kontestan Liga 1 tentu punya semangat besar untuk menjegal Arema karena mengalahkan juara Piala Presiden jadi kepuasan tersendiri bagi klub lain.

"Bukan kali ini saja lawan punya semangat lebih ketika melawan Arema. Pemain sudah biasa dengan hal itu. Jadi kami selalu tekankan kepada pemain, jangan sampai kalah semangat dari lawan," imbuhnya.

2 dari 5 halaman

Milomir Seslija (Pelatih)

Pelatih Arema FC, Milomir Seslija, memberikan arahan kepada pemainya saat menghadapi Persebaya Surabaya pada laga final Piala Presiden 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Selasa (9/4). Kedua tim bermain imbang 2-2. (Bola.com/Yoppy Renato)

Pelatih asal Bosnia ini seperti berjodoh dengan Arema. Dia selalu memberikan trofi saat membesut tim Singo Edan, seperti pada musim 2016. Ketika itu dia berhasil mempersembahkan gelar Bhayangkara Cup dan Bali Island Cup.

Di kompetisi 2016, ia membawa Arema sebagai runner-up. Tahun ini, Milo sudah memberikan gelar bergengsi Piala Presiden 2019.

Kini dia punya tantangan untuk bisa membawa Arema kembali ke papan atas, bahkan jadi juara Shopee Liga 1 2019.

Menterengnya prestasi Milo di Arema seperti berbanding terbalik ketika dia menangani Barito Putera, Persiba Balikpapan, dan Madura United.

Tidak ada prestasi yang bisa diberikan. Padahal, di tim Madura United, khususnya, dia punya materi pemain kelas satu. Tetapi, hasilnya, Milo berhenti di tengah jalan, sama seperti di Barito Putera dan Persiba Balikpapan.

Musim ini Milo juga dibantu deretan asisten pelatih sekaligus kapten tim untuk membuat tim yang solid. Asisten pelatih, Kuncoro dan kapten tim, Hamka Hamzah, yang sering membantu Milo dalam latihan hingga diskusi menjelang pertandingan.

Kolaborasi ini terlihat bagus karena pelatih 54 tahun ini juga jeli dalam menyusun strategi. 

“Tim ini sudah seperti keluarga. Selain itu, komposisi musim ini berbeda dengan tahun 2016. Bagi saya, semua pemain mau kerja lebih keras sekarang. Tidak ada yang merasa jadi pemain bintang,” jelas Milo.

Tipikal bermain bola-bola pendek selalu ditekankan. Tetapi, tahun ini dia sedikit memberikan kebebasan kepada beberapa pemain untuk tampil sesuai dengan karakternya, seperti Makan Konate yang dapat kebebasan berkreasi di lini tengah sehingga pemain tersebut merasa nyaman dan bisa mengeluarkan kemampuan terbaik.

Tidak salah manajemen Arema memanggilnya kembali. Milo juga punya penilaian jeli kepada bakal pemain muda di Arema. Apalagi musim ini operator kompetisi mewajibkan setiap klub mengontrak 7 pemain U-22 untuk regenerasi tim.

3 dari 5 halaman

Makan Konate (Pemain Kunci)

Gelandang Arema, Makan Konate butuh adaptasi latihan di Bulan Puasa. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Semua pasti setuju jika Makan Konate sejak musim lalu jadi roh permainan Arema. Jika dia dikawal ketat, serangan tim berjulukan Singo Edan ini menjadi kurang tajam.

Saat didatangkan pada paruh musim 2018 dari Sriwijaya FC, dia bisa menjadi pemain tersubur Arema dengan 13 gol. Semua gol itu dicetaknya dengan seragam tim Singo Edan.

Hal itu membuktikan dia merasa lebih nyaman bermain di Malang karena pelatih tidak membatasi pergerakannya. Konate dapat keleluasaan untuk bergerak dari lini tengah. Di Piala Presiden 2019, pemain asal Mali ini juga masuk nominasi pemain terbaik. Namun, panpel memilih Hamka Hamzah sebagai peraih gelar itu.

Sementara untuk jumlah gol, Konate mencetak empat gol di Piala Presiden 2019, hanya selisih satu gol dari peraih gelar top scorer, Manuchekr Jalilov, Bruno Matos, dan Ricky Kayame.

Di Shopee Liga 1, dia siap berkolaborasi dengan striker baru, Sylvano Comvalius. Saat ini dia masih coba menemukan kesehatian lantaran keduanya belum pernah bermain bersama. Sementara, Comvalius baru datang pada awal Mei sehingga waktu adaptasinya sangat mepet.

Tetapi, kehadiran mantan striker Bali United itu tidak serta merta mengubah karakter bermain Konate. Dia tetap dapat kebebasan seperti biasanya. Namun, dia mengaku siap melayani Comvalius dengan umpan-umpan matang.

Sebenarnya, Konate bisa saja berperan sebagai penyuplai bola untuk lini depan seperti saat memperkuat Sriwijaya FC setengah musim 2018. Dia jadi satu di antara pemegang assist terbanyak. Tetapi, imbasnya, tidak ada gol yang dicetaknya.

Berbeda saat dia dapat posisi lebih bebas untuk menusuk ke depan, dia tak hanya memberikan assist, tetapi juga produktif karena dia punya kelebihan skill dan tembakan akurat.

4 dari 5 halaman

Hamka Hamzah (Pemain Kunci)

Kapten Arema FC, Hamka Hamzah. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Peran Hamka Hamzah tidak hanya sebagai palang pintu lini belakang Arema, melainkan juga kapten tim yang bisa memberikan ketenangan bagi pemain lain.

Pengalamannya sebagai salah seorang pemain senior di Indonesia juga jadi nilai lebih karena banyak striker lawan yang segan jika harus berhadapan dengan bek 35 tahun ini.

Musim ini Hamka berusaha agar Arema berhasil meraih juara. Jika impiannya itu terkabul, dia mulai mempersiapkan diri di tim kepelatihan sebagai asisten. Dengan catatan, dia sudah tidak sanggup lagi bermain dalam jadwal yang padat.

Tetapi, kehadirannya di tim hingga kini masih sangat dibutuhkan. Meski tidak secepat dulu, Hamka bisa membuat pemain lain lebih percaya diri di lapangan karena ada sosok pelindung sekaligus bisa memberikan motivasi tambahan.

Selain itu, Hamka memperlihatkan kengototannya jika Arema sedang tertinggal atau butuh gol. Dia sering maju untuk ikut berusaha mencetak gol.

Tak jarang mantan pemain PSM Makassar ini berubah posisi jadi targetman di pengujung pertandingan. Bahkan dia sempat diturunkan jadi striker sejak menit awal pada satu pertandingan Liga 1 2018.

Tetapi, jika bermain sejak menit awal sebagai striker, dia justru kurang menggigit karena dia terbiasa bermain sebagai stoper dan naik secara tiba-tiba sehingga pemain belakang lawan sering tidak siap jika dia muncul dari belakang.

5 dari 5 halaman

Daftar Pemain Arema FC

Skuat Arema dengan jersey baru musim 2019. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Kiper

Kurniawan Kartika Ajie, Utam Rusdiana, Sandi Firmansyah, Andrias Fransisco

Belakang

Arthur Cunha, Hamka Hamzah, Alfin Tuasalamony, Ahmad Alfarizi, Agil Munawar, Rachmat Latief, Ikhfanul Alam, Ricky Ohorella

Tengah

Hendro Siswanto, Jayus Hariono, Hanif Sjahbandi, Pavel Smolyachenko, Vikrian Akbar, Dendi Santoso, Makan Konate, Ridwan Tawainella, Nasir, M. Rafli, Titan Agung Fawazzi

Depan

Sylvano Comvalius, Dedik Setiawan, Ricky Kayame, Sunarto, Ahmad Nur Hardianto, Rivaldi Bawuo, Zidane Pulanda.