Kisah Fakhri Husaini: Minim Gelar di Klub, Bergelimang Trofi di Timnas Indonesia Level Usia

oleh Muhammad Adi Yaksa diperbarui 10 Apr 2020, 10:10 WIB
Timnas Indonesia - Fakhri Husaini (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Fakhri Husaini adalah satu dari dua pelatih Timnas Indonesia level usia tersukses bersanding dengan Indra Sjafri. Racikannya pernah mengantar timnas U-16 merengkuh gelar di berbagai turnamen, termasuk Piala AFF U-15 2018.

Fakhri Husaini merupakan legenda hidup Pupuk Kaltim. Sembilan tahun Fakhri bermain di sana. Pencapaian tertingginya adalah membawa tim kebanggaan Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) itu melaju hingga babak final Liga Indonesia 1999-2000.

Advertisement

Selain itu, Fakhri juga merupakan langganan Timnas Indonesia semasa masih aktif bermain. Pernah suatu waktu, ia membawa timnas ke partai puncak SEA Games 1997.

Mengemban ban kapten tim, ia gagal merebut medali emas setelah Indonesia kalah 2-4 dari Thailand melalui babak adu penalti. Fakhri disebut-sebut sebagai salah satu playmaker terbaik Indonesia pada masa itu.

Pada 2001, pria kelahiran 27 Juli 1965 itu pensiun dan menjadi asisten pelatih Pupuk Kaltim hingga 2003. Pada 2004-2005, ia dipercaya sebagai tangan kanan Peter Withe di Timnas Indonesia U-23.

Kesempatan pertama Fakhri berperan sebagai pelatih kepala datang pada 2007 saat ia menangani Tim PON Kaltim pada 2007-2008. Pengalaman pertama Fakhri sebagai pelatih kepala ditandai dengan torehan medali perunggu di PON Kaltim 2008.

Namun, hasil itu telah cukup untuk mengantar Fakhri Husaini ke kursi pelatih Bontang FC, yang dulunya bernama Pupuk Kaltim, pada 2008-2009 dan 2009-2010.

Video

2 dari 4 halaman

Merambah ke Timnas Indonesia

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini. (Bola.com/Yoppy Renato)

Dari level klub, Fakhri Husaini merambah ke level timnas. PSSI memercayainya untuk melatih Timnas Indonesia U-14 dan U-17 pada 2014. Namun, hukuman FIFA kepada PSSI pada 2015 mengacaukan semua program kerjanya.

Setelah hukuman tersebut dicabut, Indonesia kembali aktif berkancah di level internasional pada 2017. Fakhri ketika itu masih menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia U-16.

Di tangan Fakhri, Timnas Indonesia U-16 merengkuh satu gelar bergengsi, Piala AFF U-16 2018 dan dua trofi turnamen Turnamen Jenesys 2018 dan Tien Phong Plastic Cup 2017.

Di Piala AFF U-15 2018, Timnas Indonesia U-15 tidak terkalahkan hingga meraih gelar juara. Kata Fakhri, kuncinya adalah menjaga kebugaran.

"Saya harus menyampaikan terima kasih kepada staf pelatih, dokter, fisioterapis, dan seluruh pihak karena mereka melaksakan tugas dengan baik. Recovery pemain cukup bagus. Seperti yang saya katakan, hasil akhir turnamen ini ditentukan seberapa cepat pemain tetap bugar untuk menjalani pertandingan. Di sini semua tampil profesional. Kami tidak pernah kalah dan kami mencetak banyak gol," imbuh Fakhri pada Agustus 2018.
3 dari 4 halaman

Pecah Kongsi dengan PSSI

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini, memperhatikan pemainnya saat melawan Timnas Korea Utara pada laga Kualifikasi AFC U-19 2020 di Stadion GBK, Jakarta, Minggu (10/11). Indonesia U-19 berhasil menahan imbang 1-1 DPR Korea. (Bola.com/Yoppy Renato)

Untuk memuluskan program kepelatihannya, Fakhri dipromosikan ke Timnas Indonesia U-19 pada 2019 dengan sebagian besar pemainnya adalah didikannya di Timnas Indonesia U-16. Namun, sepanjang tahun lalu, tim berjulukan Garuda Muda itu gagal menorehkan prestasi.

Fakhri mulai gusar setelah PSSI mendatangkan Shin Tae-yong beserta staf kepelatihannya dari Korea Selatan. Mereka yang baru datang bersama Shin lalu difungsikan sebagai pelatih di timnas level usia.

Dengan begitu, peran Fakhri akan memudar dan PSSI berencana untuk memberdayakannya sebagai asisten pelatih di Timnas Indonesia U-19, yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U-20 2021. Dengan tegas, pelatih berusia 54 tahun ini menolaknya mentah-mentah.

"Saya direncanakan sebagai asisten pelatih. Tidak ada tantangan. Kalau mencari aman, posisi itu saya ambil. Tapi, saya bukan tipe seperti itu. Saya tidak akan meninggalkan pekerjaan dan keluarga kalau seperti itu. Saya bukan merendahkan Shin Tae-yong. Saya yakin akan dapat banyak ilmu, tapi buat saya bukan seperti itu," ucap Fakhri, Januari 2020.

"Kalau saya jadi asisten, tidak ada yang saya berikan untuk negara. Sedangkan saya sudah meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Saya ingin ada tantangan. Saya beserta teman-teman lain yang meloloskan Timnas Indonesia U-19 ke Piala AFC U-19 2020. Kemudian kalau saya jadi asisten, lalu asisten saya sebelumnya ke mana? Saya tidak ingin selamat sendirian," tuturnya.

Setelah lepas dari PSSI, terutama Timnas Indonesia U-19, Fakhri kembali ke kantor sebagai Manager Cooporate Social Responsibility (CSR) PT Pupuk Kaltim. Suatu waktu kepada Bola.com, dia bilang tak mungkin kembali melatih di level klub, kecuali perusahaan tempatnya bekerja merestuinya.

4 dari 4 halaman

Prestasi Fakhri Husaini

Fakhri Husaini di Piala AFF U-16 2018. (Bola.com/Aditya Wany)

Pemain:

  • Semifinalis Liga Indonesia bersama 1994-1995 bersama Pupuk Kaltim 
  • Medali perak SEA Games 1997 bersama Timnas Indonesia 
  • Finalis Liga Indonesia 1999-2000 bersama Pupuk Kaltim

Pelatih:

  • Juara Piala AFF U-16 2018 bersama Timnas Indonesia U-16
  • Juara Turnamen Jenesys 2018 bersama Timnas Indonesia U-16
  • Juara Turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 bersama Timnas Indonesia U-16

Berita Terkait