Momen yang Mendorong Rontoknya Kejayaan AC Milan versi Adriano Galliani

oleh Liputan6.com diperbarui 23 Apr 2020, 21:20 WIB
Mantan CEO AC Milan, Adriano Galliani. (DARIO AZZARO / AFP)

Jakarta - Adriano Galliani merupakan salah satu direktur dengan masa jabatan terlama di AC Milan. Dan Galliani tahu persis momen apa yang membuat klub berjuluk Rossoneri tersebut mengalami keterpurukan hingga saat ini.

Prestasi AC Milan terus merosot setiap tahunnya. Perlu diketahui bahwa klub raksasa Italia tersebut terakhir juara Serie A pada tahun 2011 lalu. Tepat sebelum era kejayaan Juventus dimulai.

Advertisement

Dari juara bertahan, awalnya AC Milan masih bisa bertahan di papan atas klasemen Serie A dan bersaing dengan tim seperti Juventus dan Napoli. Namun seiring berjalannya waktu, pencapaian mereka selalu memburuk.

Bahkan mereka sempat terlempar dari posisi 10 besar di musim ini. Sekarang Rossoneri sedang berusaha merangkak naik dan kini menempati peringkat ke-7 dalam klasemen sementara dengan perolehan 36 poin.

Galliani juga turut bertanggung jawab atas keterpurukan yang menimpa AC Milan saat ini. Perlu diketahui bahwa dirinya baru meninggalkan San Siro pada tahun 2017.

"Tak perlu berbasa-basi, Milan kolaps setelah menjual pemain bintangnya," ujar Galliani, menyinggung transfer Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva ke PSG pada tahun 2012 lalu kepada Top Calcio 24.

"Kami meraih Scudetto di musim 2010-2011 dan juga nyaris mendapatkannya di 2011-2012, namun gagal jelang akhir," lanjutnya.

Video

2 dari 2 halaman

Membangun AC Milan

Mantan CEO AC Milan Adriano Galliani. (AFP/Alberto Lingria)

"Ini kesalahan kami, karena kami ingin menjuarai Coppa Italia dan terlalu bergantung kepada Thiago Silva. Jika kami tak memainkan dirinya di babak semi-final, ceritanya bisa jadi berbeda," tambahnya.

Sebenarnya Galliani sudah merencanakan pembangunan tim Milan menjadi lebih baik dari saat mendapatkan Scudetto dulu. Dan salah satu pemain incarannya waktu itu adalah Carlos Tevez.

Sayang nasib tidak berpihak kepada mereka. Milan gagal mendapatkan Tevez dan dua tahun berselang, striker asal Argentina tersebut memutuskan bergabung dengan Juventus dan meraih kesuksesan di sana.

"Tentu saja, jika kami berhasil mendapatkan Tevez maka kami sudah pasti memenangkan Scudetto di tahun 2012. Saya mendambakan lini serang dengan Ibrahimovic dan Tevez, tapi begitulah sepak bola. Itu tidak terjadi," tuturnya.

 

Sumber asli: Football Italia

Disadur dari: Bola.net (Yaumil Azis, published 23/4/2020)

Berita Terkait