Taufik Hidayat: Prestasi Olahraga Bukan Prioritas Utama di Indonesia

oleh Rizki Hidayat diperbarui 12 Mei 2020, 09:30 WIB
Taufik Hidayat menganggap keputusan pensiun Lee Chong Wei adalah tepat. Sudah saatnya Chong Wei memikirkan kesehatan dan keluarganya. (AFP/Adek Berry)

Bola.com, Jakarta - Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat, mengeluhkan perhatian pemerintah Indonesia terhadap olahraga. Taufik menyebut prestasi olahraga bukan prioritas utama di Indonesia.

Dalam sejumlah event olahraga internasional, atlet Indonesia kerap kesulitan bersaing dengan negara-negara lainnya. Sejak awal abad ke-21, Indonesia hanya sekali menjadi juara umum di ajang SEA Games.

Advertisement

Prestasi tersebut diukir pada SEA Games 2011, dan itu pun ketika Indonesia berstatus sebagai tuan rumah. Saat itu, Indonesia berhasil mengumpulkan 476 medali, dengan perincian 182 medali emas, 151 perak, dan 143 perunggu.

Adapun di level yang lebih tinggi, yakni Asian Games, Indonesia belum pernah sekalipun menjadi juara umum. Pencapaian terbaik diukir pada Asian Games 1962.

Indonesia yang berstatus sebagai tuan rumah menempati peringkat kedua tabel perolehan medali. Tim Merah-Putih merengkuh 51 medali, yakni 12 medali emas, 18 perak, dan 21 perunggu.

Sementara itu, di level teratas event olahraga dunia, Olimpiade, atlet Indonesia dibuat tak berdaya. Dari 15 kali keikutsertaan, pencapaian terbaik Indonesia di Olimpiade adalah pada 1992 di Barcelona.

Saat itu, Indonesia menempati posisi ke-24 dari 54 negara peserta Olimpiade 1992. Indonesia meraih dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu.

Saksikan video menarik di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Keluhkan Perhatian Pemerintah

(BadmintonTalk/twitter.com)

Taufik Hidayat yang pernah meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004 dan dua medali emas Asian Games pada 2002 dan 2006, mengeluhkan perhatian pemerintah kepada olahraga. Menurutnya, olahraga hanya dipandang sebelah mata.

Padahal, prestasi olahraga mampu mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Minimnya pembinaan menjadi penyebab atlet Indonesia kesusahan menorehkan prestasi di event olahraga dunia.

"Susahnya di kita olahraga bukan prioritas negara. Justru di luar negeri orang-orang berlomba menaikkan harkat derajat negaranya dengan olahraga," kata Taufik saat menjadi tamu podcast YouTube Deddy Corbuzier yang tayang Senin (11/5/2020).

"Sekarang kayak China, mereka bagaimana caranya mau menyalip Amerika Serikat di Olimpiade. Mereka kan selalu menjadi nomor dua. Di Indonesia (olahraga) bukan prioritas. Padahal cuma olahraga yang bisa menaikkan Merah-Putih," lanjutnya.

3 dari 3 halaman

Pengurus PBSI

Taufik Hidayat (kanan) berpasangan dengan Ricky Subagja saat bermain bulutangkis bersama Menpora Imam Nahrawi di Jakarta, Jumat (30/12). Menpora menghabiskan akhir tahun 2016 bersama para legenda bulutangkis Indonesia. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Pada wawancaraa yang sama, pria berusia 38 tahun tersebut juga melontarkan kritikan kepada pengurus PBSI. Menurutnya, PBSI kerap dikelola oleh orang-orang yang tak mengerti olahraga, terutama bulutangkis.

"Di PBSI banyak yang takut gue di situ, bagaimana caranya gue dimatiin gak bisa gerak. Di kira PBSI banyak orang yang mengerti tentang badminton, enggak juga," ucap Taufik Hidayat.

"Bulutangkis enggak akan pernah maju kalau atribut lu gak dibuka, selalu bawa nama klub, nama orang ini, orang itu. Yang di pelatnas itu enggak bisa membawa nama daerah, harus netral," tambahnya.

Berita Terkait