Kisah Persahabatan Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin di PSM dan Timnas Indonesia

oleh Abdi Satria diperbarui 25 Mei 2020, 16:08 WIB
Kolase - Hamka Hamzah dan Samsul Chaeruddin PSM Makassar (Bola.com/Adreanus Titus/Foto: Abdi Satria)

Bola.com, Makassar - Kiprah Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin kental mewarnai pentas sepak bola di Tanah Air. Bukan hanya di level klub tapi juga Timnas Indonesia.

Hamka dikenal sebagai stoper yang tak hanya piawai dalam mengawal lini belakang tapi juga pencetak gol ulung buat timnya. Sementara, gelandang petarung yang militan lekat pada diri Syamsul.

Advertisement

Hamka dan Syamsul sama-sama mengawali karir di PSM Makassar jelang Liga Indonesia 2002. Di level junior, Hamka lebih dulu mencuat setelah sempat menjalani pelatnas tim nasional U-17. Sementara Syamsul masuk ke tim senior lewat Makassar Football School, sekolah sepak bola milik Diza Ali yang bersama kakaknya, Reza Ali menjadi pengelola PSM saat itu.

Di PSM senior, justru Syamsul yang lebih banyak mendapatkan menit bermain di PSM dibandingkan Hamka di Liga Indonesia 2002. Pada musim ini, PSM berhasil menembus babak semifinal sebelum dihentikan Persita Tangerang dengan skor 2-0 di Stadion Gelora Bung Karno, 3 Juli 2002.

Hamka dan Syamsul pun masuk dalam skuat tim nasional U-20 yang akan mengikuti turnamen Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam, 16-26 Agustus 2002.Di ajang ini, timnas U-20 sukses dengan meraih trofi juara.

Skuat PSM Makassar ketika diperkuat oleh Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin. (Bola.com/Abdi Satria)

Pada laga final yang berlangsung di Hassanal Bolkiah National Stadium, Bandar Seri Begawan pada 26 Agustus 2002, skuat asuhan Bambang Nurdiansyah mengalahkan timnas U-20 Thailand 2-0.

Selepas ajang ini, Hamka dan Syamsul membuat keputusan berbeda terkait status mereka di PSM. Hamka menerima tawaran manajemen Persebaya Surabaya yang saat itu berada di Divisi 1 (Liga 2) sedang Syamsul memilih melanjutan karier di PSM.

Kepada Bola.com yang menemuinya di Hotel Sultan, Jakarta, Syamsul mengaku sedih berpisah dengan Hamka.

"Saya sudah berusaha menahannya. Tapi, alasannya kuat, Hamka butuh jam terbang untuk mengembangkan kemampuannya dan ia bisa mendapatkannya di Persebaya," kata Syamsul kala itu.

Pilihan Hamka Hamzah terbukti benar. Kalau bertahan di PSM, ia akan sulit bersaing dengan seniornya, Charis Yulianto dan Jack Komboy di Liga Indonesia 2003. Di Persebaya, bek Timnas Indonesia di Piala AFF 2010 itu mendapat menit bermain yang banyak plus membawa klub kebangaan Kota Pahlawan juara Divisi 1 pada 2003.

Video

2 dari 4 halaman

Syamsul Jadi Idola di PSM

Kebersamaan Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin saat bersama di PSM Makassar. (Bola.com/Abdi Satria)

Syamsul menjelma menjadi idola di PSM. Duetnya bersama Ponaryo Astaman di posisi gelandang jangkar jadi trademark Juku Eja.

Pada sebuah kesempatan, legenda Timnas Indonesia, mendiang Ronny Pattinasarani kepada Bola.com memuji bakat yang dimiliki Hamka dan Syamsul. Terutama Hamka yang dinilai Ronny sebagai jelmaan dirinya kala memulai karier bersama PSM.

"Kalau mau tahu permainan saya ketika masih muda, lihat aksi Hamka," ujar Ronny kepada Bola.com saat menyaksikan latihan timnas U-20 di Lapangan PSSI, Senayan kala itu.

Sementara Syamsul, di mata Ronny adalah pemain yang murni mewarisi karakter pemain petarung asal Makassar.

"Dia tipe pantang menyerah dan stamina prima Syamsul sangat dibutuhkan oleh tim," terang Ronny yang wafat pada 19 September 2008 akibat kanker hati yang dideritanya sejak Desember 2007.

 

3 dari 4 halaman

Timnas Indonesia

Kebersamaan Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin saat bersama di PSM Makassar. (Bola.com/Abdi Satria)

Setelah unjuk kemampuan di level klub, Hamka dan Syamsul sama-sama berkostum timnas senior di Piala Asia dan Piala Tiger (AFF) pada 2004.

Pada ajang Piala Tiger (Piala AFF), keduanya membawa Timnas Indonesia menembus final sebelum dihentikan Singapura. Setelah itu, Hamka memilih bertualang membela berbagai klub besar Tanah Air. Sementara Syamsul tetap bertahan di PSM.

Syamsul sempat meninggalkan Juku Eja saat menerima tawaran Persija dan Sriwijaya. Tapi hanya satu setengah musim meninggalkan Makassar, ia kembali memperkuat PSM.

Pada Liga 1 2017, Hamka dan Syamsul akhirnya kembali satu tim di PSM. Tapi, kondisinya berbeda. Hamka bukan hanya menjadi pilihan utama pelatih PSM, Robert Alberts tapi juga didaulat menjadi kapten tim. Sedangkan Syamsul lebih banyak menghabiskan waktunya di bangku cadangan karena Robert lebih memilih trio Rizky Pellu, Marc Klok dan Wiljan Pluim.

Meski begitu, Hamka tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada Syamsul. Ketika Syamsul masuk sebagai pemain pengganti, Hamka langsung menyematkan ban kapten kepada sahabatnya itu.

Seperti pada periode 2001-2002, Hamka dan Syamsul hanya semusim bersama di PSM. Pada pengujung kompetisi Liga 1, Syamsul mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemain PSM.

4 dari 4 halaman

Berpisah

Kebersamaan Hamka Hamzah dan Syamsul Chaeruddin saat bersama di PSM Makassar. (Bola.com/Abdi Satria)

Keputusan Syamsul tak pelak membuat Hamka sedih. Pada akun istagramnya, Hamka23Hamzah, Hamka secara khusus mencurahkan isi hatinya.

"Di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan, Walau pun kita terpisah selama 16 tahun dan dipertemukan kembali hanya satu tahun di PSM, saya sudah merasa sangat bahagia. Karena itu adalah cita-cita kita berdua dari awal kita muncul pada tahun 2001. Bahwa kita akan sama-sama membela klub tanah kelahiran kita sebelum pensiun. Kau adalah idola saya sejak kita sama-sama kecil sampai sekarang. Saya tahu hati kau masih selalu ada untuk untuk PSM dan saya belajar banyak dari kau tentang arti kesetiaan."

Sepeninggal Syamsul, Hamka juga memilih pergi PSM dan bergabung ke Sriwijaya FC. Beredar kabar, keputusannya itu sebagai bentuk protes Robert yang 'memaksa' Syamsul mundur dari PSM.

Berita Terkait