Menilik Nasib Liga-liga Top ASEAN: Mayoritas Bersiap Gulirkan Musim Baru, Shopee Liga 1 Masih Misterius

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 13 Jan 2021, 11:15 WIB
Trivia - Logo Thai League, V-League, Malaysia Super League (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Januari 2021 hampir memasuki setengah bulan. Namun, sampai saat ini belum juga diketahui akan seperti apa nasib Shopee Liga 2020/2021, sebagai kompetisi sepak bola elite Indonesia.

PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) awalnya merencanakan kompetisi sepak bola Indonesia dimulai kembali pada Februari 2021. Namun, sebulan jelang penyelenggaraan belum diketahui secara pasti jadwal kickoff pertandingan.

Advertisement

"Terkait kompetisi dalam hal ini Liga 1 dan 2 yang belum jalan, rapat Komite Eksekutif (Exco) terakhir memutuskan liga rencana akan diputar oleh PT LIB di bulan Februari 2021. Situasi terkini Covid-19 akan menjadi faktor penentu apakah liga bisa dijalankan atau tidak. Cabang olahraga lain pun demikian. Untuk menyelenggarakan kejurnas juga sulit," kata Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi pada awal Januari 2021.

"Untuk itu, PSSI menjadwalkan menggelar rapat Komite Eksekutif (Exco) pada pertengahan Januari 2021 untuk memutuskan kelanjutan Liga 1 dan 2 atau memberhentikan liga musim kompetisi 2020 berdasarkan situasi terkini," tegas Yunus Nusi.

Situasi inilah yang membuat mayoritas klub peserta tidak berani memberikan kepastian terkait masa depan pemainnya. Jadi, mayoritas pemain sudah tidak memiliki kontrak dan berada di tengah ketidakpastian akan masa depan.

Bahkan, sudah ada dua klub yang secara resmi membubarkan skuat 2020 yakni Madura United dan Persipura Jayapura. Ketidakpastian nasib kompetisi hingga masalah finansial menjadi faktor utama pembubaran tim.

"Kita semua tahu bagaimana menurunnya ekonomi selama pandemi covid-19, sehingga kemampuan kami secara finansial juga menurun, apalagi ada kewajiban tetap membayar gaji seluruh personel tim. Jadi setelah menerima surat dari Bank Papua tadi, kami langsung rapat manajemen dan diputuskan untuk hentikan seluruh aktivitas tim," bunyi keterangan resmi Persipura.

Masalah pelik akan ketidakpastian sepak bola di Indonesia bermula dari sulit keluarnya izin Kepolisian Republik Indonesia. Mereka berdalih angka penyebaran COVID-19 yang masih tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk digelarnya pertandingan sepak bola.

Padahal, PSSI dan PT LIB sudah memastikan pertandingan akan digelar tertutup tanpa penonton. Namun, tetap saja Polri enggan ambil pusing bilamana nanti terciptanya klaster COVID-19 dari pertandingan sepak bola.

Keputusan yang tepat, meskipun merugikan buat dunia sepak bola Indonesia. Situasi yang berbeda justru terjadi di negara tetangga Indonesia yang mana kompetisi sepak bolanya tetap berjalan. Lantas, seperti apa nasib kompetisi elite sepak bola di negara-negara Asia Tenggara?

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 3 halaman

Berusaha Menyelesaikan

Thai League kembali memulai musim 2020 pada 12 September mendatang setelah disetujui oleh petinggi liga dan pemerintah Thailand. (dok. Thai League)

Sejauh ini tinggal Thailand yang belum menyelesaikan musim 2020/2021. Thai League 1 sebagai kompetisi elite Negeri Gajah Putih itu dijadwalkan bakal berlangsung sampai April 2021.

Namun, saat ini Thailand sedang mengalami lonjakan kasus baru COVID-19 dalam beberapa hari terakhir. Pusat Administrasi Situasi COVID-19 Thailand (CCSA) mengeluarkan pembatasan sosial untuk menahan penyebaran pandemi tersebut.

Situasi itu membuat FAT dan operator Thai League sepakat menunda semua pertandingan liga domestik sampai akhir Januari 2021. Situasi itu dilakukan untuk mendukung tekad Pemerintah Thailand menekan angka penyebaran COVID-19.

"Kami selalu bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu pencegahan dari penyebaran COVID-19," kata Penjabat Ketua Thai League Co, Korrawee Pritsananantakul, seperti dikutip Bangkok Post, Rabu (6/1/2021).

Korrawee Pritsananantakul masih percaya diri kompetisi musim ini bisa berakhir tepat waktu. Thai League tak mungkin membatalkan kompetisi musim ini karena bakal membuat kerugian.

"Kompetisi tidak bisa dibatalkan karena pihak yang terlibat bisa menghadapi denda besar dari sponsor. Kami berharap musim ini bisa berakhir pada April 2021," ujar Korrawee Pritsananantakul.

Thai League Co juga tak menutup peluang menggelar sisa pertandingan Thai League 1 secara terpusat. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi pembatasan sosial yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Thailand.

"Jika terlalu sulit bagi liga utuk memulai kompetisi dengan format kandang-tandang, maka FAT dapat mengatur sisa pertandingan secara terpusat untuk menghindari pembatasan perjalanan," tegas Korrawee Pritsananantakul.

3 dari 3 halaman

Menyongsong Musim Baru

Suporter Selangor FA memberikan dukungan saat melawan Kuala Lumpur FA pada laga Liga Super Malaysia di Stadion Kuala Lumpur, Cheras, Minggu (4/2/2018). Kuala Lumpur FA kalah 0-2 dari Selangor FA. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Sementara itu, mayoritas liga-liga elite di Asia Tenggara sudah menyelesaikan musim 2020. Bahkan, pekan ini ada yang sudah membuka lembaran musim baru yakni V-League 1.

Kompetisi teratas Vietnam itu bakal memulai musim baru pada 15 Januari 2021. Rencananya, V-League 1 berlangsung selama delapan bulan yakni sampai 19 September mendatang.

Setelah Vietnam, Malaysia Super League juga akan memulai musim baru dalam waktu dekat. Rencananya, kompetisi elite Negeri Jiran itu digelar pada 28 Februari sampai 31 Oktober 2021.

Kemudian ada Myanmar National League yang juga siap menggelar musim baru. Kompetisi sepak bola elite Myanmar itu rencananya bergulir pada April sampai September 2021.

Adapun Singapura dan Filipina juga sedang bersiap menggelar musim 2021. Namun, tanggal pastinya dari kedua kompetisi elite masing-masing negara tersebut belum diketahui.

Sejumlah pertimbangan sedang digodok otoritas sepak bola masing-masing negara. Contohnya adalah Filipina yang tidak menutup peluang menggelar Philippines Football League secara terpusat untuk menghindari pembatasan perjalanan yang masih diterapkan karena COVID-19.

Meski demikian, setidaknya para pemain dan klub sepak bola di negara-negara tersebut mendapatkan kepastian yang jelas seputar kompetisi. Hal inilah yang seharusnya bisa ditiru PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB).