Liga 1: Diego Michiels Baru Tahu Mitos Tato Singa di Arema, Memang Apa Artinya?  

oleh Iwan Setiawan diperbarui 07 Jul 2021, 13:00 WIB
Pemain Arema FC, Diego Michiels. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Malang - Pemain naturaisasi Arema FC, Diego Michiels, dikenal gemar membuat tato di tubuhnya. Tak hanya di badan, bahkan di area wajah dan kepala bagian belakang tak luput dari tato.

Dari berbagai tato yang dimilikinya, ada juga tato singa di bagian perutnya. Biasanya, pemain yang punya tato singa di tubuhnya dapat apresiasi lebih dari suporter, karena singa merupakan maskot Arema.

Advertisement

Hanya saja, ada mitos jelek bagi pemain yang punya tato singa di Arema. Mayoritas kariernya cukup pendek di Arema. Seperti Kiko Insa, Felipe Bertoldo, dan beberapa nama lainnya.

Sebelum gabung Arema, Diego Michiels tidak mengetahui mitos itu. Begitu mendengar cerita itu, mantan kapten Borneo FC ini hanya tertawa. “Saya tidak tahu mitos tato singa di sini. Saya punya, tapi ini singa Belanda,” ujarnya.

Diego membuat tato singa karena lahir di Belanda. Seperti diketahui, Belanda menjadikan singa sebagai ikonnya. Timnas Belanda juga menggunakan logo itu.

Tentunya dia berharap tidak terkena mitos singa di Arema. Meski kontraknya hanya berdurasi satu musim, jika tampil apik kariernya di Arema akan lebih panjang.

Selain tato singa, Diego juga memiliki tato burung garuda di perutnya. Itu sebagai simbol kecintaannya untuk Indonesia, karena kariernya tergolong apik selama jadi warga negara Indonesia.

Sayang, kontribusinya untuk Timnas Indonesia hanya sampai U-23. Ketika masuk usia senior, Diego Michiels jarang dipanggil lagi.

 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

2 dari 2 halaman

Berharap Kompetisi Tak Tertunda Lama

Awalnya Diego merasa rasa canggung dan segan saat memasuki lapangan. Namun semua berubah kala Dendi Santoso dan Ahmad Alfarizi menyapanya. Mereka pernah sama-sama di Timnas Indonesia U-23 tahun 2011 silam. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Diego masih dalam proses pemulihan cedera. Sebenarnya penundaan Liga 1 jadi sebuah berkah tersendiri baginya.

Pemain 30 tahun itu punya waktu mengembalikan kondisinya sebelum kompetisi. Namun di sisi lain, dia berharap kompetisi tak tertunda lama.

Itu tergantung dari penyebaran virus corona di Indonesia. Jika angka penyebarannya minim, besar kemungkinan kompetisi digelar.

Tapi jika masih tinggi, bisa jadi Liga 1 mundur bulan depan. “Saya terakhir bermain ketika anak pertama saya baru lahir. Sekarang saya sudah punya dua anak tapi kompetisi belum berjalan juga,” canda Diego.