VIDEO: Presiden FIFA Bantah 6.500 Pekerja Tewas dalam Pembangunan Stadion Piala Dunia 2022

oleh Okie Prabhowo diperbarui 28 Jan 2022, 15:17 WIB

Bola.com, Strasbourg - Presiden FIFA, Gianni Infantino, membantah soal data yang menyebutkan bahwa terdapat 6.500 pekerja yang tewas dalam pembangunan stadion untuk Piala Dunia 2022. Dari mana angka tersebut bisa muncul?

Guardian pernah mengungkapkan fakta mencengangkan tersebut dalam artikelnya yang dipublikasikan pada Februari 2021. Media asal Inggris tersebut menulis bahwa lebih dari 6.500 pekerja migran meninggal dunia dalam rentang 2011-2020, atau sejak Qatar diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Advertisement

Dari mana data tersebut? Angka itu didapat dari kumpulan data pemerintah India, Bangladesh, Nepal and Sri Lanka, di mana total terdapat 5.927 pekerjanya yang tewas di Qatar. Data lain berasal dari kedutaan Pakistan di Qatar di mana terdapat 824 pekerja dari Pakistan yang meninggal dunia dalam rentang 2010-2020.

Angka 6.500 itu mungkin bisa lebih besar lagi karena belum termasuk kematian para pekerja yang berasal dari Filipina dan Kenya. Kemudian, angka itu belum termasuk bulan-bulan terakhir dari 2020.

Para pekerja tersebut bekerja untuk pembangunan infrastruktur untuk Piala Dunia 2022. Pembangunan termasuk 7 stadion baru, bandara baru, jalanan, transportasi publik, dan sebuah kota baru.

Namun, komite penyelenggara setempat menyebutkan bahwa terdapat 37 orang yang tewas dalam pembangunan stadion Piala Dunia 2022. Terdapat 34 pekerja yang masuk dalam kategori "tidak terkait" pekerjaan pembangunan. Istilah itu menjadi tanda tanya karena mereka kolaps dan tewas di area pembangunan stadion.

Sisa 3 pekerja yang meninggal dunia dalam pekerjaan stadion Piala Dunia 2022 yang digunakan Presiden FIFA, Gianni Infantino sebagai bantahan. Infantino membantah bahwa terdapat 6.500 pekerja yang tewas dalam acara Parliamentary Assembly of the Council of Europe (cabang dari Council of Europe, terdiri dari 47 negara yang berdedikasi dalam penegakan HAM, demokrasi, dan hukum) di Prancis pada 26 Januari 2022, seperti dilansir SNTV.

Berita Terkait