10 Pemain Liga Inggris yang Terlalu Cepat Dijual (Bagian I): Berujung Jadi Legenda

oleh Choki Sihotang diperbarui 21 Feb 2024, 09:45 WIB
Liverpool - Ilustrasi Mohamed Salah (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Premier League, yang terkenal dengan aksinya yang serba cepat dan persaingan yang ketat, telah menjadi panggung di mana banyak talenta sepak bola berkembang selama bertahun-tahun.

Namun, di tengah kemewahan dan kegemerlapannya, ada beberapa contoh di mana klub berpisah dengan pemainnya sebelum waktunya, hanya untuk menyaksikan si pemain berkembang menjadi bintang di tempat lain.

Advertisement

Dalam artikel ini, mari kita lihat perjalanan lima pemain Premier League yang dijual terlalu cepat dan kemudian berkembang menjadi legenda.

 

2 dari 6 halaman

Mohamed Salah (Chelsea ke Roma)

Selebrasi gelandang AS Roma, Mohamed Salah setelah mencetak gol ke gawnag Crotone pada laga Liga Italia 2016/2017 di Olympic Stadium, Roma (21/9/2016). Mohamed Salah yang kini menjalani musim ketujuh bersama Liverpool tercatat pernah membela Chelsea selama 2,5 musim mulai tengah musim 2013/2014 hingga akhir musim 2015/2016. Pada awal musim 2015/2016 ia dipinjamkan ke AS Roma dan akhirnya dipermanenkan pada musim berikutnya. (AFP/Andreas Solaro)

Tugas Mohamed Salah di Chelsea dari tahun 2014 hingga 2016 dirusak oleh terbatasnya waktu bermain dan kesulitan beradaptasi dengan kondisi fisik di Premier League.

Namun, kepindahannya selanjutnya ke AS Roma merevitalisasi karirnya, menunjukkan kecepatannya yang eksplosif, penyelesaian akhir yang klinis, dan kemampuan mencetak gol yang produktif.

Penampilan Salah yang luar biasa di Serie A akhirnya membuatnya pindah ke Liverpool, di mana ia berkembang menjadi salah satu penyerang terbaik dunia, meraih banyak penghargaan individu dan membantu Liverpool mengamankan gelar bergengsi, termasuk Liga Champions UEFA dan Liga Premier.

 

3 dari 6 halaman

Xabi Alonso (Liverpool ke Real Madrid)

Xabi Alonso. Eks gelandang asal Spanyol yang kini berusia 40 tahun dan telah pensiun bersama Bayern Munchen pada Juli 2017 ini pernah berseragam Liverpool selama 5 musim, mulai 2004/2005 hingga 2008/2009 usai didatangkan dari Real Sociedad. Sementara Real Madrid diperkuatnya selama 6 musim usai meninggalkan Liverpool mulai 2009/2010 hingga tengah musim 2014/2015. Bersama Liverpool ia total tampil dalam 210 laga dengan torehan 18 gol dan 16 assist. Sementara bersama Real Madrid ia total tampil dalam 236 laga dengan torehan 6 gol dan 31 assist. (AFP/Patrik Stollarz)

Menyusul kesuksesannya di Liverpool, di mana ia menjadi maestro lini tengah yang dipuja oleh para pendukung Anfield, Xabi Alonso secara mengejutkan pindah ke Real Madrid pada tahun 2009.

Jangkauan umpan, visi, dan kecerdasan taktis yang sempurna dari gelandang Spanyol ini berperan penting dalam kemenangan Real Madrid selanjutnya, termasuk La Liga dan Liga Champions UEFA.

Kepergian Alonso meninggalkan kekosongan di lini tengah Liverpool, dan kontribusinya kepada Real Madrid menegaskan nilainya sebagai pemain yang dijual terlalu cepat.

4 dari 6 halaman

Kevin De Bruyne (Chelsea ke Wolfsburg)

Kevin De Bruyne. Wolfsburg mendatangkannya dari Chelsea pada tengah musim 2013/2014 senilai 22 juta euro. Setelah 2 musim, ia dilepas ke Manchester City dengan mahar 76 juta euro. Bersama City hingga kini ia telah bermain dalam 269 laga dengan mencetak 69 gol dan 107 assist. (AFP/Odd Andersen)

Masa kerja Kevin De Bruyne di Chelsea tidak berlangsung lama, ditandai dengan terbatasnya kesempatan untuk menampilkan bakatnya di lapangan.

Namun, kepindahannya ke Wolfsburg pada tahun 2014 terbukti menjadi titik balik dalam kariernya. De Bruyne berkembang pesat di Bundesliga, menunjukkan kreativitasnya, umpan presisi, dan ketajamannya dalam mencetak gol.

Penampilannya membuatnya mendapatkan transfer blockbuster ke Manchester City, di mana ia membuktikan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik di Liga Premier, memenangkan banyak trofi Liga Premier dan gelar domestik lainnya dan mendapatkan penghargaan atas kemampuan playmaking-nya yang luar biasa.

5 dari 6 halaman

Gerard Pique (Manchester United ke Barcelona)

Gerard Pique bergabung ke Manchester United saat berusia 17 tahun dari akademi Barcelona. Performanya sebagai bek tengah sebenarnya baik, namun kalah bersaing dengan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Sempat dipinjamkan, Pique akhirnya memutuskan untuk kembali ke Barcelona. (AFP/Andrew Yates)

Kepergian Gerard Pique dari Manchester United ke Barcelona pada tahun 2008 membuat banyak orang terkejut, namun hal itu terbukti menjadi pukulan telak bagi raksasa Catalan.

Meskipun ia memenangkan beberapa trofi di Manchester United, termasuk gelar Liga Premier, di Barcelona Pique berkembang menjadi salah satu bek tengah terbaik dunia, membentuk kemitraan yang hebat dengan pemain seperti Carles Puyol dan Javier Mascherano.

Kemampuannya membaca permainan, gaya bermain elegan, dan kualitas kepemimpinan sangat penting dalam dominasi Barcelona baik di dalam negeri maupun di Eropa, membuat kepergiannya dari Manchester United menjadi keputusan yang disesalkan jika dipikir-pikir.

 

6 dari 6 halaman

Juan Mata (Chelsea ke Manchester United)

5. Juan Mata (44,73 juta euro) - Chelsea menjual gelandang asal Spanyol ini ke Manchester United pada 2014. Mata dilepas Chelsea pada bursa transfer dengan harga 44,73 juta euro. (AFP/Carl Court)

Kepindahan Juan Mata dari Chelsea ke Manchester United pada tahun 2014 mengejutkan banyak orang, mengingat perannya yang berpengaruh di Stamford Bridge.

Kreativitas Mata, kecemerlangan teknis, dan insting mencetak gol membuatnya disayangi oleh para penggemar Chelsea, namun kepergiannya membuka jalan bagi babak baru di Old Trafford.

Meskipun awalnya kesulitan untuk meniru performanya di Chelsea, Mata adalah pemain yang konsisten untuk Manchester United, menunjukkan kecerdasannya di lapangan dan menyumbangkan gol serta asis penting selama bertahun-tahun.

Sumber: Sportskeeda

 

Berita Terkait