10 Pemain Liga Inggris yang Terlalu Cepat Dijual: David Beckham Bikin Fans MU Geger

oleh Choki Sihotang diperbarui 21 Feb 2024, 11:00 WIB
David Beckham sering dianggap sebegai gelandang terbaik pada generasinya. Sepanjang kariernya di Old Trafford, ia berjasa membawa 6 gelar Liga Inggris, 1 trofi Liga Champions, dan 6 piala domestik. Namun, pertikaiannya dengan Sir Alex Ferguson membuatnya hengkang dari Setan Merah. (AFP/Paul Barker)

Bola.com, Jakarta Chelsea dan AS Roma pastinya sangat menyesal karena telah melepas Mohamed Salah begitu saja ke klub lain.

Kini Salah menjadi mesin gol Liverpool dan ikut membantu raksasa Merseyside memenangkan banyak gelar, baik di kompetisi domestik maupun zona Eropa.

Advertisement

Musim ini, penyerang Mesir itu tak hanya kembali berpeluang membawa The Reds memenangkan Liga Inggris 2023/2024 tapi juga mengukuhkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak.

Sejauh ini, Salah sudah mengepak 15 gol atau hanya terpaut sebiji gol dari monster Manchester City, Erling Haaland (16).

Menoleh ke belakang, Salah memperkuat Chelsea dari tahun 2014 hingga 2016 dan performanya dirusak oleh terbatasnya waktu bermain dan kesulitan beradaptasi dengan kondisi fisik yang kurang prima.

Dia lalu dilepas ke Roma. Bareng I Lupi, Salah mampu bangkit dengan kecepatannya yang eksplosif, penyelesaian akhir yang klinis, serta kemampuan mencetak gol yang produktif.

Hanya saja, Roma juga melepasnya ke Liverpool pada 2017 dan sejak itu bomber 31 tahun itu terus menggila dan menjelma menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.

Tak hanya Salah, sejumlah pemain juga bernasib serupa. Berikut lima pemain Premier League yang dijual terlalu cepat dan kemudian berkembang menjadi bintang dan andalan di klub lain.

2 dari 6 halaman

Serge Gnabry (Arsenal ke Bremen)

Serge Gnabry merupakan pemain jebolan akademi Arsenal yang mampu tampil impresif sehingga di promosikan ke skuat utama. Namun, Gnabry tak mampu mendapatkan waktu bermain yang lebih di bawah asuhan Arsene Wenger dan dilepas ke Werder Bremen pada 2016 silam. (AFP/Adrian Dennis)

Kepergian Serge Gnabry dari Arsenal ke Werder Bremen pada tahun 2016 membuat banyak orang terkejut, terutama mengingat potensi dan sekilas bakatnya selama berada di London Utara.

Namun, di Bayern Munich-lah Gnabry benar-benar menunjukkan dirinya di panggung global.

Kecepatannya yang luar biasa, kemampuan menggiring bola, dan penyelesaian akhir yang klinis mendorong Bayern meraih kejayaan domestik dan Eropa, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain sayap paling menarik di dunia sepakbola.

Keputusan Arsenal melepas Gnabry tanpa memanfaatkan potensinya secara maksimal adalah sebuah kesalahan yang patut disesalkan.

 

3 dari 6 halaman

Carlos Tevez (Manchester City ke Juventus)

Carlos Tevez. Striker berusia 37 tahun yang kini berstatus tanpa klub ini terakhir memperkuat Boca Juniors mulai 2017/2018 hingga 2020/2021. Total 4 musim memperkuat Manchester City mulai 2009/2010 hingga 2012/2013, ia tampil dalam 148 laga dengan mencetak 73 gol dan 35 assist. (AFP/Ian Kington)

Masa Carlos Tevez di Manchester City dipenuhi dengan momen-momen cemerlang dan kontroversi.

Namun kepergiannya ke Juventus pada tahun 2013 mengejutkan banyak penggemar Liga Premier.

Kegigihan Tevez, tingkat kerja, dan kecakapan mencetak gol membuatnya disayangi oleh pendukung setia Manchester City, dan ketidakhadirannya meninggalkan kekosongan yang nyata dalam barisan penyerang tim.

Di Juventus, Tevez terus berprestasi, memainkan peran penting dalam kemenangan Serie A mereka dan menjadikan dirinya sebagai salah satu striker paling ditakuti di sepakbola Eropa.

4 dari 6 halaman

Cole Palmer (Manchester City ke Chelsea)

Pemain Chelsea, Cole Palmer, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Luton Town pada laga pekan ke-20 Premier League 2023/2024 di Kenilworth Road, Sabtu (30/12/2023). The Blues menang dengan skor tipis 3-2. (AP Photo/Alastair Grant)

Kepergian Cole Palmer dari Manchester City ke Chelsea pada tahun 2023 membuat banyak orang terkejut, terutama mengingat penampilannya yang potensial dan menjanjikan di tim muda City.

Meski kepindahan Palmer ke Chelsea masih dalam tahap awal, kepergiannya dari Manchester City membuat klub kehilangan prospek berbakat yang berpotensi memberi pengaruh pada tim utama.

Hanya waktu yang akan membuktikan apakah City akan menyesali keputusan membiarkan Palmer pergi, namun kepergiannya tentu menimbulkan pertanyaan tentang strategi pengembangan pemain muda klub.

5 dari 6 halaman

David Beckham (Manchester United ke Real Madrid)

David Beckham. Bintang Manchester United ini meraih treble winners bersama Setan Merah pada musim 1998/1999. Ia pun dinominasikan sebagai peraih Ballon d'Or edisi 1999. Nyatanya, gelar diraih Rivaldo yang hanya meraih satu gelar, yaitu LaLiga 1998/1999 bersama Barcelona. (AFP/Eric Cabanis)

Kepergian David Beckham dari Manchester United ke Real Madrid pada tahun 2003 mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia sepak bola.

Beckham, yang dikenal karena umpan silangnya yang tepat, keahlian bola mati, dan citranya yang glamor, menikmati kesuksesan besar di Manchester United, memenangkan banyak gelar Liga Premier dan menjadi kapten tim.

Namun, kepindahannya ke Real Madrid semakin meningkatkan statusnya sebagai ikon global, bermain bersama legenda seperti Zinedine Zidane dan Ronaldo.

Kepergian Beckham dari Manchester United menandai berakhirnya sebuah era, membuat para penggemar bernostalgia dengan karismanya yang tak tertandingi dan kecemerlangannya di lapangan.

6 dari 6 halaman

Raheem Sterling (Liverpool ke Manchester City)

Pemain Chelsea, Raheem Sterling, berusaha melewati pemain Burnley, Dara O'Shea, pada laga pekan ke-8 Premier League 2023/2024 di Stadion Turf Moor, Sabtu, (7/10/2023). Sterling juga turut menyumbang satu gol di laga ini. (Richard Sellers/PA via AP)

Kepergian Raheem Sterling dari Liverpool ke Manchester City pada tahun 2015 disambut dengan reaksi beragam dari para penggemar kedua klub. Meski potensi Sterling terlihat jelas selama berada di Anfield, kepindahannya ke Manchester City memberinya landasan untuk memenuhi janjinya.

Kecepatan Sterling yang eksplosif, keterampilan menggiring bola, dan kemampuan mencetak gol berperan penting dalam dominasi domestik Manchester City, membantu klub mengamankan beberapa gelar Liga Premier dan piala domestik.

Kepergiannya dari Liverpool meninggalkan kekosongan dalam serangan mereka, menyoroti dampak dari penjualan pemain yang terlalu cepat.

Kasus 10 pemain Liga Premier ini menggarisbawahi keseimbangan yang harus dicapai klub antara membina talenta muda dan membuat keputusan transfer yang cerdas.

Meskipun melihat ke belakang adalah 20/20, contoh-contoh ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kesabaran dan pandangan ke depan sangat penting dalam lanskap transfer sepakbola yang terus berkembang.

Ketika klub terus mencari talenta besar berikutnya, mereka harus belajar dari kesalahan masa lalu dan menghindari berpisah dengan pemain yang memiliki potensi untuk bersinar di panggung termegah di dunia sepakbola.

Sumber: Sportskeeda

Berita Terkait